Archive for the ‘Salaf di Sumatera Barat’ category

Tuanku Haji Miskin, Pelopor Benih Pembaharuan di Sumatera Barat

Pada tahun 1803, Tuanku Haji Miskin kembali dari tanah suci Mekah. Pada saat berada di Mekah, gerakan wahabi yang dipelopori oleh Syaikh Muhammad Abdul Ibnu Wahab (1703-1792), memasuki Mekah. Gerakan wahabi adalah gerakan dakwah dengan menyeru umat mengakui dan melaksanakan ajaran keesaan Allah (tauhid), dalam zat, sifat dan perbuatan-Nya. gerakan mereka dinamakan dengan “Muwahidun” Setelah [...]

Tuanku Imam Bonjol (Gading Yang Bertuah)

Tuanku Imam Bonjol mencampungkan diri ke dalam gerakan paderi, setelah sampai seruan Tuanku Nan Renceh dari Kamang ke Bonjol. Dan Tuanku Nan Renceh menerima pula pelajaran itu daripada tiga tuanku yang pulang dari Mekkah, membawa pokok pelajaran tauhid yang suci bersih, menurut pandangan Ibnu Taimiyah dan Muhammad Ibnu Abdil Wahhab. Nampak sekali kesungguh-sungguhan hati beliau, [...]

Mereka Mendakwahkan Ajaran Salaf

Dalam catatan kakinya nomor 184 hal 11 Deliar Noer mengutip perkataan Hamka dalam buku Ayahku, hal 71-75 yang mengatakan bahwa ayahnya haji Rasul telah kenal dan berminat dalam hasil karya Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qaiyim dalam tahun 1908. Dan yang lebih menegaskan lagi kalau ajaran salaf lah yang didakwahkan oleh para pembaharu tersebut adalah apa [...]

Para Penentang Dakwah Salaf

Setelah Kekalahan kaum agama Dalam perang Paderi, maka Belanda mulai melakukan politik belah bambu. Orang-orang yang memiliki kecenderungan kepada agama, atau keturunan dari pahlawan perang paderi tidak lagi diberi kesempatan untuk menyelenggarakan kehidupan masyarakat. bahkan orang-orang yang taat ini di singkirkan dari perikehidupan masyarakat minang. yang di angkat sebagai pemangku adat atau datuk di negeri [...]

Pertarungan Yang Tak Pernah Berakhir

Namun meskipun sudah lebih 100 tahun perdebatan antara syaikh ahmad khatib dengan kaum tarekat di minangkabau, persoalan ini tidak pernah berakhir dengan berlalunya waktu. Bahkan Arena peperangan dari waktu ke waktu tidak berubah, yaitu peperangan intelektual dan pengaruh. Dimana masing-masingĀ  golongan berlomba-lomba mengambil pengaruh terhadap lembaga kekuasaan ataupun media massa untuk menyuarakan keyakinan-keyakinan mereka. Dalam [...]

Syaikh Ahmad Khatib Dan Ajaran Tarekat

Syaikh Ahmad khatib semula dididik di dalam pikiran tarekat naqsyabandi di daerah asalnya. tetapi setelah memperdalam pengetahuan agama dan hukum Islam di Mekkah ia sangat mengecam dan menentang praktek tarekat di negerinya. Ahmad khatib sangat dipengaruhi pelajaran agama yang di perolehnya. Ajaran tersebut telah mendorongnya untuk berusaha membersihkan agama Islam dari berbagai praktek yang tidak [...]

Syaikh Ahmad Khatib & Adat Minangkabau

Syaikh Ahmad Khatib dilahirkan dari kalangan agama dan adat yang kuat. Pendahulu-pendahulunya disamping pemuka agama juga ada yang menjadi pemuka adat. Tetapi kecenderungan untuk lebih mendahulukan agama daripada adat telah menonjol dari pihak keluarga ayah Syikh Ahmad Khatib. Keluarga ini sangat memikirkan kemajuan anak-anak mereka. Menurut adat minangkabau harta pusaka diwariskan kepada kemenakan, bukan kepada [...]

Asal – Muasal Perang Paderi

Tuanku di Lintau di Luhak Tanah Datar pun kian lama kian luas kekuasaannya. senantiasa juga berhubung-hubungan juga mereka dengan Gerakan Agam. di seluruh nagari-nagari di Lintau, faham baru telah diterima orang. sejak dari kaum agama sampai kaum adat. Apatah lagi sejak dahulu kala nagari-nagari di Minangkabau sudah berdaulat sendiri. ada keluarga di Pagaruyung dan “empat [...]

Sejarah

Sejarah adalah catatan-catatan kehidupan manusia pada masa lalu untuk dijadikan bahan perbandingan pada kehidupan manusia pada jaman sekarang. Seorang ahli sejarah mengatakan bahwa sejarah itu ditulis dari yang ingat dan yang lupa. Yang ingat artinya adalah berdasarkan dari catatan-catatan masa lalu dan perkataan atau peninggalan dari saksi-saksi sejarah. Sedangkan yang lupa adalah faktor-faktor pendukung dari [...]

Pelakat Panjang

Lalu dakwah ini disambut oleh ulama yang lain diseluruh alam Minangkabau, sampai dapat dilaksanakan dalam sebuah nagari dengan kesepakatan ahli agama dan ahli adat, sebagaimana yang terjadi dalam negeri Bonjol. Dibawah raja nan tiga sela yaitu, 1.Tuanku Imam 2.Datuk bandaharo 3.Datuk sati. Pada masa ini terdapat kesepakatan antara ulama dan kaum adat mengenai kedudukan masing-masing [...]