<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Media Muslim</title>
	<atom:link href="http://www.mediamuslim.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.mediamuslim.org</link>
	<description>Majalah Muslim Online</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Mar 2012 08:31:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Kekuasaan dan Imarah di Kalangan Bangsa Arab (2)</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/kekuasaan-dan-imarah-di-kalangan-bangsa-arab-2</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/kekuasaan-dan-imarah-di-kalangan-bangsa-arab-2#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Mar 2012 08:31:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=1053</guid>
		<description><![CDATA[Raja-Raja di HIRAH Bangsa Persia bisa menguasai Irak dan wilayah-wilayah di sekitarnya, setelah Cyrus Yang Agung (557-529 SM) dapat mempersatukan barisan bangsa Persia, hingga tak seorang pun berani menyerangnya. Keadaan tersebut berlangsung hingga muncul Alexander dari Macedonia pada tahun 326 SM, yang mampu mengalahkan raja-raja mereka dan menghancurkan persatuan mereka. Akibatnya, negeri mereka terpecah belah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: justify;">Raja-Raja di HIRAH</h2>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2012/03/sejarah-Arab-dan-kota-baghdad.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1054" title="sejarah-Arab-dan-kota-baghdad" src="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2012/03/sejarah-Arab-dan-kota-baghdad.jpg" alt="sejarah Arab dan kota baghdad Kekuasaan dan Imarah di Kalangan Bangsa Arab (2)" width="564" height="272" /></a>Bangsa Persia bisa menguasai Irak dan wilayah-wilayah di sekitarnya, setelah Cyrus Yang Agung (557-529 SM) dapat mempersatukan barisan bangsa Persia, hingga tak seorang pun berani menyerangnya. Keadaan tersebut berlangsung hingga muncul Alexander dari Macedonia pada tahun 326 SM, yang mampu mengalahkan raja-raja mereka dan menghancurkan persatuan mereka. Akibatnya, negeri mereka terpecah belah dan muncul raja-raja baru, yang disebut dengan raja-raja Thawa’if. Raja-raja Thawa’if ini berkuasa atas wilayah-wilayahnya sendiri secara terpecah hingga tahun 230 SM. Pada era kekuasaan raja-raja Thawa’if ini orang-orang Qahthan berpindah dan menguasai daerah subur di Irak. Kemudian mereka bergabung dengan keturunan Adnan yang juga berhijrah, dan mereka bersama-sama menguasai sebagian dari Jazirah Eufrat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kekuasaan bangsa Persia kembali bangkit pada era Ardasyir, pendiri pemerintahan Sasaniyah sejak tahun 226 M. Dia berhasil mempersatukan bangsa Persiaa dan menguasai orang-orang Arab yang menetap di daerah-daerah pinggiran kekuasaannya. Ini merupakan sebab kepindahan orang-orang Qudha’ah ke Syam. Sedangkan penduduk Hirah dan Anbar tunduk kepada Ardasyir.<br />
Pada era Ardasyir inilah Judzaimah Al-Wadhdhah berkuasa atas Hirah dan sebagian penduduk Irak serta daerahnya Rabi’ah dan Mudhar. Ardasyir merasa mustahil dapat menguasai bangsa Arab secara langsung. Namun dia juga tidak mau jika mereka mencaplok daerah-daearh pinggiran dari kekuasaannya, kecuali jika dia mempunyai beberapa orang yang dapat dipercaya dan mau mendukungnya. Di sisi lain, dia juga bisa meminta tolong Romawi yang biasa diperalat. Dia mengadu domba antara bangsa Arab dan Syam dan Irak. Di lingkungan Kerajaan Hirah dia juga menempatkan satu batalyon dari pasukan Persia.</p>
<p style="text-align: justify;">Amru bin Adi bin Nashr Al-Lakhmi naik tahta di Hirah, menggantikan Judzaimah yang meninggal dunia pada tahun 268 M, yang mengawali era kekuasaan raja-raja Lakhmi pada masa Kisra Sabur bin Ardasyir. Beberapa Raja dari kalangan Lakhmi tetap berkuasa setelah itu di Hirah hingga tiba era kekuasaan Qubadz bin Fairuz di Persia. Pada saat itu yang berkuasa adalah Mazdak, yang mengajak kepada gaya hidup permisivisme. Banyak rakyatnya yang meniru gaya hidup ini, yaitu Al-Mundzir bin Ma’us Sama, mengajaknya untuk memilih jalan hidup ini dan menjadikannya sebagai agama. Namun Al-Mundzir menolak ajakan itu dengan sikap ksatria, sehingga Qubadz mengucilkannya. Sebagai pengganti Al-Mudzir, dia mengangkat Al-Harits bin Amr bin Hijr Al-Kindi setelah memenuhi ajakan Qubadz untuk menerapkan gaya hidup yang diciptakan Mazdak.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengganti Qubadz adalah Kisra Anusyirwan, yang sangat benci gaya hidup ini. Dia membunuh Al-Mazdak dan entah berapa banyak para pengikutnya. Dia mengangkat kembali Al-Mundzir sebagai penguasa di Hirah. Sebenarnya Al-Harits bin Amr memintanya, tetapi dia justru dibuang ke Darul Kalb dan meninggal di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Sistem kerajaan terus berlanjut setelah Al-Mundzir bin Ma’us Sama, hingga masa kekuasaan An-Nu’man untuk meminta perhiasan-perhiasan itu. Maka secara sembuni-sembuni An-Nu’man menemui Hani bin Mas’ud, pemimpin suku Syaiban, seraya menitipkan keluarga dan harta bendanya. Setelah itu dia menghadap Kisra. Akhirnya dia dijebloskan ke dalam penjara hingga meninggal dunia. Sebagai penggantinya, Kisra mengangkat Iyas bin Qubaishah Ath-Thayy’i dan memerintahkannya mendatangi Hani bin Mas’ud untuk meminta barang-barang yang ditipkan kepadanya. Namun dengan sikap ksatria dan gagah berani Hani menolak permintaan itu. Maka Kisra mengizinkan Iyaz untuk memeranginya. Dengan dibantu pasukan perang Kisra, terjadilah peperangan yang dahsyat antara kedua belah pihak di Dzi Qar. Suku Syaiban mendapatkan kemenangan yang gemilang dalam peperangan ini dan mampu menghancurkan pasukan Persia. Inilah untuk pertama kalinya bangsa Arab memperoleh kemenangan atas bangsa selain Arab. Hal ini terjadi tak lama setelah kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, beliau dilahirkan delapan bulan setelah Iyas bin Qubaishah berkuasa di Hirah.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Iyas, Kisra mengangkat seorang penguasa dari bangsa Persia di Hirah, pada tahun 632 M kekuasaan kembali dipegang suku Lakham. Di antara penguasa dari kalangan mereka adalah Al-Mundzir, yang bergelar Al-Ma’rur. Namun kekuasaannya ini hanya bertahan selama delapan bulan, dengan kedatangan Khalid bin Al-Walid beserta pasukan Muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">sumber : kisammuslim.com</p>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Kekuasaan dan Imarah di Kalangan Bangsa Arab (2)</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kekuasaan-dan-imarah-di-kalangan-bangsa-arab-1" rel="bookmark">Kekuasaan dan Imarah di Kalangan Bangsa Arab (1)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/sejarah-agama-syiah" rel="bookmark">Sejarah Agama Syi&#8217;ah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4" rel="bookmark">Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (4)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/maulud-nabi-dalam-timbangan-sejarah" rel="bookmark">Maulud Nabi Dalam Timbangan Sejarah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/perwira-nazi-ternyata-banyak-yang-masuk-islam" rel="bookmark">Perwira Nazi Ternyata Banyak Yang Masuk Islam</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/asal-muasal-perang-paderi" rel="bookmark">Asal &#8211; Muasal Perang Paderi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/skandal-seks-manaf-an-naji-wakil-imam-syiah-tertinggi" rel="bookmark">Skandal Seks Manaf An-Naji, Wakil Imam Syi&#8217;ah Tertinggi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3" rel="bookmark">Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (3)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/syura-dalam-pandangan-islam-dan-demokrasi" rel="bookmark">Syura Dalam Pandangan Islam Dan Demokrasi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-5" rel="bookmark">Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (5)</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/kekuasaan-dan-imarah-di-kalangan-bangsa-arab-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekuasaan dan Imarah di Kalangan Bangsa Arab (1)</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/kekuasaan-dan-imarah-di-kalangan-bangsa-arab-1</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/kekuasaan-dan-imarah-di-kalangan-bangsa-arab-1#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Mar 2012 08:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=1048</guid>
		<description><![CDATA[Selagi kita hendak membicarakan masalah kekuasaan di kalangan bangsa Arab sebelum Islam, berarti kita harus membuat miniatur sejarah pemerintahan, imarah (keemiran), agama dan kepercayaan di kalangan bangsa Arab, agar lebih mudah bagi kita untuk memahami kondisi eksternal saat kemunculan Islam. Para penguasa jazirah tatkala terbitnya matahari Islam, bisa dibagi menjadi dua bagian: Raja-raja yang mempunyai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Selagi kita hendak membicarakan masalah kekuasaan di kalangan bangsa Arab sebelum Islam, berarti kita harus membuat miniatur sejarah pemerintahan, imarah (keemiran), agama dan kepercayaan di kalangan bangsa Arab, agar lebih mudah bagi kita untuk memahami kondisi eksternal saat kemunculan Islam.</p>
<p>Para penguasa jazirah tatkala terbitnya matahari Islam, bisa dibagi menjadi dua bagian:</p>
<ul>
<li>Raja-raja yang mempunyai mahkota, tetapi pada hakikatnya mereka tidak bisa merdeka dan berdiri sendiri.</li>
<li>Para peimpin dan pemuka kabilah atau suku yang memiliki kekuasaan dan hak-hak istimewa seperti kekuasaan para raja. Mayoritas di antara mereka memiliki kebebasan tersendiri. Bahkan boleh jadi sebagian di antara mereka mempunyai subordinasi layaknya seorang raja yang mengenakan mahkota.</li>
</ul>
<h3 style="text-align: justify;">Raja Raja di Yaman</h3>
<p style="text-align: justify;">Suku terdahulu yang dikenal di <em>Yaman</em> dari kalangan Arab Aribah adalah kaum Saba. Mereka bisa diketahui lewat penemuan fosil Aur, yang hidup dua puluh abad sebelum masehi (SM). Puncak peradaban dan pengaruh kekuasaan mereka dimulai pada sebelas tahun SM.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Perkembangan mereka bisa dibagi menurut tahapan-tahapan berikut ini:</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.</strong> Abad-abad sebelum tahun 650 SM raja-raja mereka saat itu bergelar “Makrib Saba”, dengan ibukotanya Sharawah. Puing-puing peninggalan mereka dapat ditemui dengan menempuh perjalanan sehari ke arah Barat dari negeri Ma’rib, yang dikenal dengan istilah Kharibah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada zaman merekalah dimulainya pembangunan bendungan, yang dikenal dengan nama bendungan Ma’rib, yang sangat terkenal dalam sejarah Yaman. Ada yang mengatakan, wilayah kekuasaan kaum Saba’ ini meliputi daerah-daerah jajahan di negeri Arab dan di luar Arab.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.</strong> Sejak tahun 650 SM hingga tahun 110 SM. Pada masa-masa itu mereka menanggalkan gelar “Ma’rib”, dan hanya dikenali dengan raja-raja Saba. Mereka menjadikan Ma’rib sebagai ibu kota, sebagai ganti dari Sharawah. Puing-puing kota ini dapat ditemui sejauh 60 mil darai Shan’a ke arah Timur.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.</strong> Sejak tahun 115 SM hingga tahun 300 M. Pada masa-masa kabilah Himyar dapat mengalahkan kerajaan Saba dan menjadikan Raidan sebagai ibukotanya, sebagai ganti dari Ma’rib. Kemudian Raidan diganti menjadi Daffar. Puing-puing peninggalannya dapat ditemukan di sebuah bukit yang disekitarnya dikelilingi pagar di dekat Yarim.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada masa itulah mereka mulai jatuh dan runtuh. Perdagangan mereka bangkrut, sebagai akibat dari perluasan kekuasaan kabilah Nabat ke utara Hijaz. Ini sebab pertama. Sebab lainnya, karena bangsa Romawi menguasai jalan-jalan perdangan lewat laut, setelah mereka dapat menguasai Mesir, Suriah, dan bagian Hijaz Utara. Sebab laiannya lagi, adanya persaingan antara kabilah-kabilah di sana. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan berpencarannya keluarga Qahthan dan mendorong mereka untuk berpindah ke negeri Syasa’ah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4.</strong> Sejak tahun 300 M hingga masuknya Islam ke Yaman. Pada masa-masa itu sering diwarnai kekacauan, keributan, revolusi, peperangan antar suku, yang justru membuat mereka menjadi mangsa bagi  orang luar, hingga kemerdekaan mereka pun terenggut. Pada masa itu bangsa Romawi masuk ke Adn. Atas bantuan bangsa Romawi pula, orang-orang Habasyah bisa merebut Yaman pada awal tahun 340 M, yang justru disibukkan persaingan antara kabilah Hamdan dan Himyar. Penjajahan mereka berlangsung hingga tahun 378 M. Kemudian Yaman bisa mendapatkan kemerdekaannya lagi. Tetapi kemudian bendungan Ma’rib jebol hingga menimbulkan banjir besar seperti disebutkan di dalam Alquran, dengan istilah Sailul-Aram, pada tahun 450 atau 451 M. Setelah itu, disusul satu kejadian besar yang mengakibatkan ambruknya peradaban mereka dan mereka pun terpecah belah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun 523 M, Dzau Nuwas, seorang Yahudi memimpin pasukannya menyerang orang-orang Masehi (para pengikut agama Isa Al-Masih) dari penduduk Najran, dan berusaha memaksa mereka meninggalkan agama Masehi. Karena mereka menolak, maka Dzu Nuwas membuat parit-parit besar yang di dalamnya dinyalahkan api, lalu mereka dilemparkan ke dalam api hidup-hidup, sebagaimana yang diisyaratkan Alquran dalam surat Al Buruj. Kejadian ini membakar dendam di hati orang-orang Nasrani dan mendorong mereka untuk memperluas derah kekuasaan dan penaklukan, yang dimotori imperium Romawi untuk menguasai negeri Arab. Mereka bekerja sama dengan orang-orang Habsyah dan menyiapkan armada lautnya. Ada tujuh puluh ribu pasukan dari penduduk Habasyah yang turun dan mereka menguasai Yaman untuk kedua kalinya, dikomandani Aryath pada tahun 525 M. Aryath bercokol di sana hingga dibunuh Abrahah, anak buahnya sendiri, dan dia menggantikan kedudukan Aryath di Yaman setelah meminta restu rajanya di Habasyah. Abrahah inilah yang mengerahkan pasukannya untuk menghancurkan Ka’bah, yang dikenal dengan pasukan penunggang gajah.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah “Peritiwa Gajah” ini, penduduk Yaman meminta bantuan kepada orang-orang Persia. Dengan kerja sama ini mereka bisa mengusir orang-orang Habasyah dari Yaman hingga mereka memperoleh kemerdekaannya pada tahun 575 M, yang dipimpin Ma’di Yakrib bin Saif Dzi Yazan Al-Himyari. Kemudian mereka mengangkatnya menjadi raja di sana. Ma’di Yakrib masih mempertahankan sejumlah orang dari penduduk Habasyah sebagai pengawal yang selalu menyertai prosesinya, yang justru menjadi bumerang baginya. Suatu hari mereka bisa membunuhnya. Dengan kematiannya pupuslah sudah dinasti raja dari keluarga Dzi Yazan. Setelah itu Kisra mengangkat penguasa dari bangsa Persia di Shan’a, dan menjadikan Yaman sebagai salah satu wilayah kekuasaan Persia. Beberapa pemimpin dari bangsa Persia silih berganti menguasai Yaman, dan era kepemimpinan mereka yang terakhir atas Yaman adalah Badzan, yang kemudian pemeluk Islam pada tahun 638 M. Dengan keislamannya ini berakhir sudah kekuasaan bangsa Persia atas negeri <strong>Yaman</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">sumber :  kisahmuslim.com</p>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Kekuasaan dan Imarah di Kalangan Bangsa Arab (1)</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kekuasaan-dan-imarah-di-kalangan-bangsa-arab-2" rel="bookmark">Kekuasaan dan Imarah di Kalangan Bangsa Arab (2)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/sejarah-agama-syiah" rel="bookmark">Sejarah Agama Syi&#8217;ah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/perwira-nazi-ternyata-banyak-yang-masuk-islam" rel="bookmark">Perwira Nazi Ternyata Banyak Yang Masuk Islam</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4" rel="bookmark">Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (4)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/61-hari-sejak-blokade-dammaj-di-yaman-oleh-syiah" rel="bookmark">61 hari sejak blokade Dammaj di Yaman oleh Syiah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/fatwa-syaikh-fauzan-tentang-dammaj" rel="bookmark">Fatwa Syaikh Fauzan Tentang Dammaj</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/tuanku-imam-bonjol-gading-yang-bertuah" rel="bookmark">Tuanku Imam Bonjol (Gading Yang Bertuah)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-2" rel="bookmark">Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (2)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/skandal-seks-manaf-an-naji-wakil-imam-syiah-tertinggi" rel="bookmark">Skandal Seks Manaf An-Naji, Wakil Imam Syi&#8217;ah Tertinggi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/asal-muasal-perang-paderi" rel="bookmark">Asal &#8211; Muasal Perang Paderi</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/kekuasaan-dan-imarah-di-kalangan-bangsa-arab-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (5)</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-5</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-5#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Mar 2012 07:39:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi timur tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Timur Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=1037</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran 5 dari Revolusi Timur Tengah Makar Allah terhadap Penguasa Zhalim Betapapun kuat seorang diktator, bila Allah menghendaki kejatuhannya, maka ia akan jatuh dengan cara yang tak terduga sama sekali. Demikianlah sunnatullah terhadap para penguasa lalim. Mereka dihinakan oleh orang-orang terdekatnya, dan tumbang akibat kesalahan mereka sendiri. Ingatkah kita dengan kisah Fir’aun yang menindas Bani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: justify;" align="center"></h3>
<h3 style="text-align: justify;" align="center">Pelajaran 5 dari Revolusi Timur Tengah</h3>
<h3 style="text-align: justify;" align="center"><strong><a href="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2012/03/Firaun.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-1038" title="Firaun" src="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2012/03/Firaun.gif" alt="Firaun Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (5)" width="294" height="200" /></a></strong></h3>
<h4 style="text-align: justify;" align="center">Makar Allah terhadap Penguasa Zhalim</h4>
<p style="text-align: justify;">Betapapun kuat seorang diktator, bila Allah menghendaki kejatuhannya, maka ia akan jatuh dengan cara yang tak terduga sama sekali. Demikianlah sunnatullah terhadap para penguasa lalim. Mereka dihinakan oleh orang-orang terdekatnya, dan tumbang akibat kesalahan mereka sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Ingatkah kita dengan kisah Fir’aun yang menindas Bani Israel sekian lamanya? Ia menyembelih setiap bayi laki-laki dari Bani Israel, dan memperbudak mereka. Akan tetapi akhirnya ia binasa di tangan anak asuhnya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Benar. Ia yang selama ini membantai setiap bayi lelaki Bani Israel, ternyata justru memelihara Nabi Musa yang kelak menjadi seteru utamanya. Ibunda Nabi Musa demikian khawatir bila bayinya sampai jatuh ke tangan mata-mata Fir’aun, lalu harus berakhir hidupnya demikian singkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi, Allah memiliki skenario lain. Tak ada tempat yang lebih aman bagi si Bayi di negeri Mesir, melebihi istana Fir’aun sendiri. Karenanya, dengan cara yang luar biasa, Allah mengirim bayi tersebut hingga sampai ke tangan Fir’aun.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang lebih hebat lagi, Fir’aun yang selama ini demikian bengis terhadap bayi-bayi tak berdosa, kini harus disibukkan oleh bayi yang kelak akan menumbangkan kekuasaannya. Musa kecil menolak setiap wanita yang disuruh menyusuinya. <em>“Kami haramkan atasnya (Musa) semua puting susu sebelum itu, maka saudarinya berkata, “Maukah kalian kutunjukkan sebuah keluarga yang bisa mengasuh dan memeliharanya dengan baik? Maka kami kembalikan ia (Musa) kepada ibunya agar ia menjadi tenteram dan tidak bersedih…” (Al Qasas: 12-13).</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Subhaanallaah</em>. Musa sengaja dijadikan oleh Allah agar tak mau disusui oleh siapa pun selain ibu kandungnya. Akhirnya, sang ibunda yang awalnya demikian sedih dan cemas tatkala harus menaruhnya di sebuah peti, lalu melepaskannya di sungai Nil, kini merasa tenteram karena bersua dengan puteranya. Bahkan ia bisa mengasuh bayinya dengan leluasa karena semua biaya perawatan telah ditanggung. Oleh siapa? Oleh orang yang kelak demikian memusuhinya, yaitu Fir’aun ! <em>“Kami hendak menunjukkan kepada Fir’aun, Haman, dan bala tentara mereka apa yang selama ini mereka takutkan dari Bani Israel”</em> (Al Qasas: 6). Artinya, Allah hendak menunjukkan kepada orang-orang zhalim tersebut, bahwa apa yang selama ini mereka cemaskan berupa lenyapnya kekuasaan dan terbunuhnya mereka di tangan Bani Israel, benar-benar akan terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun lihatlah bagaimana tipu daya Allah terhadap mereka. Semua bayi yang dianggap tersangka penumbang kekuasaan Fir’aun mereka bunuh, namun pelaku sebenarnya justru mereka pelihara. <em>“Mereka membuat tipu daya sedangkan Allah juga membuat tipu daya, dan Allah-lah sebaik-baik pembuat tipu daya”</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Si Tiran Bourgiba sengaja mengangkat Ben Ali sebagai orang dekatnya. Ia jauh-jauh mendatangkannya dari Polandia untuk kemudian mengkudeta dirinya. Fir’aun Mesir sengaja memelihara bayi Musa setelah membunuh ribuan bayi laki-laki Bani Israel. Namun bagaimana kesudahannya? Justru Fir’aun tenggelam akibat ketukan tongkat Musa ‘alaihissalaam, mantan anak asuhnya sendiri. <em>“Allah menurunkan adzab kepada mereka dari arah yang tak mereka duga sama sekali”</em> (Al Hasyr: 2).</p>
<p style="text-align: justify;">Gaddafi yang selama ini mencap rakyatnya sebagai tikus-tikus gurun, dan bersumpah hendak membersihkan bumi Libya dari para pemberontak jengkal demi jengkal, dan rumah demi rumah… akhirnya justru tertangkap berlindung dalam selokan bak seekor tikus got ! Sambil diseret-seret, ia menerima cacian dan umpatan serta tamparan dari mereka yang selama ini disebutnya sebagai ‘tikus-tikus gurun’.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu persatu dari orang-orang dekatnya pun berlepas diri darinya. Mereka yang dahulu adalah kawan setia berbalik menjadi lawan utama. Mengapa? Sebab mereka telah menjadi target amuk massa dan sasaran para demonstran yang murka, akibat keterkaitan mereka dengan para diktator yang sekarat tersebut. Mereka akan menjadi sekutunya dalam penderitaan, setelah sebelumnya menjadi sekutunya dalam kenikmatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh aneh ketika mendengar statemen-statemen para pemimpin Liga Arab, yang menyerukan agar Ben Ali mengapresiasi keinginan rakyatnya… tapi mengapa mereka tidak mengapresiasi keinginan rakyat Tunisia kecuali setelah rezim Ben Ali di ambang keruntuhan? Padahal selama hampir seperempat abad ia menerapkan berbagai tindak represif dan terror atas warganya, dan selama itu pula ia selalu mendapat sambutan dan penghormatan oleh mereka?! Mengapa mereka tidak sadar akan nasib rakyatnya masing-masing, agar rakyat tidak murka dan memperlakukan mereka sebagaimana perlakuan rakyat Tunisia terhadap penguasanya?!!</p>
<p style="text-align: justify;">Kalaulah kehinaan tersebut menjerat si diktator saat perabuannya dilengserkan di dunia, dan semua orang berbalik menjadi musuhnya… lantas bagaimana kehinaan yang menantinya di akhirat kelak? Alangkah dahsyat dan mengerikan peristiwa hisab yang harus dilaluinya, dan setelah itu berbagai siksa pedih datang menyambutnya silih berganti…</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana kiranya saat ia menyaksikan antrian orang-orang yang selama ini dizhaliminya, dan masing-masing menuntut hukuman qisas atasnya… Ya Allah, sungguh mengerikan! Siapa yang mengingat momen tersebut, niscaya lisannya takkan berhenti beristighfar dan menyadari betapa berat pengadilan akhirat itu. <em>“Kelak kamu akan melihat betapa tunduk dan hinanya orang-orang zhalim itu saat dihadapkan kepada Neraka. Mereka melirik Neraka tadi dengan hati kecut dan penuh rasa takut. (Tatkala menyaksikan kondisi mereka) orang-orang yang beriman mengatakan, Sesungguhnya yang benar-benar rugi adalah mereka yang merugi diri dan keluarganya pada hari kiamat. Sungguh, orang-orang yang zhalim itu benar-benar berada pada siksaan yang abadi”</em> (Asy Syura: 45). Andai bukan karena lemahnya iman dan tingginya tingkat kelalaian, niscaya tak seorang mukmin pun yang tertarik pada kekuasaan.</p>
<p style="text-align: justify;">sumber :  basweidan.com</p>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (5)</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4" rel="bookmark">Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (4)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-1" rel="bookmark">Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (1)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/pemimpin-yang-menipu" rel="bookmark">Pemimpin Yang Menipu</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/wanita-atheis-mendapatkan-hidayah-di-usia-tua" rel="bookmark">Wanita Atheis Mendapatkan Hidayah Di Usia Tua</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3" rel="bookmark">Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (3)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-2" rel="bookmark">Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (2)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kekuasaan-dan-imarah-di-kalangan-bangsa-arab-1" rel="bookmark">Kekuasaan dan Imarah di Kalangan Bangsa Arab (1)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kisah-hijrah-ummul-mu%e2%80%99minin-ummu-salamah" rel="bookmark">Kisah Hijrah Ummul Mu’minin Ummu Salamah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/blokade-di-dammaj-yaman-dan-kemurahan-rabbul-ibad" rel="bookmark">Blokade di Dammaj Yaman dan Kemurahan Rabbul-Ibad</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/sejarah-agama-syiah" rel="bookmark">Sejarah Agama Syi&#8217;ah</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-5/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manfaat Mengikuti Sunnah</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/manfaat-mengikuti-sunnah</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/manfaat-mengikuti-sunnah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Mar 2012 08:21:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=1031</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Syaikh Abdullah bin Hamud Al Farih -hafizhahullah- Wahai saudaraku yang ku cintai, manfaat dari mengikuti sunnah itu banyak. Diantaranya: Pertama, menggapai mahabbatullah (kecintaan Allah) Mendekatkan diri kepada Allah Azza Wa Jalla dengan melakukan berbagai hal yang dianjurkan menjadi sebab digapainya cinta Allah. Ibnul Qayyim berkata dalam Madarijus Salikin: ولا يحبك الله إلا إذا اتبعت حبيبه [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2012/03/after_the_rain.jpg"><img class="size-full wp-image-1032 alignleft" title="Manfaat Mengikuti Sunnah" src="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2012/03/after_the_rain.jpg" alt="after the rain Manfaat Mengikuti Sunnah" width="300" height="200" /></a><em>Oleh Syaikh Abdullah bin Hamud Al Farih -hafizhahullah-</em></p>
<p style="text-align: justify;">Wahai saudaraku yang ku cintai, manfaat dari mengikuti sunnah itu banyak. Diantaranya:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama</strong>, menggapai <em>mahabbatullah</em> (kecintaan Allah)</p>
<p style="text-align: justify;">Mendekatkan diri kepada Allah <em>Azza Wa Jalla</em> dengan melakukan berbagai hal yang dianjurkan menjadi sebab digapainya cinta Allah. Ibnul Qayyim berkata dalam <em>Madarijus Salikin</em>:</p>
<h2 style="text-align: right;">ولا يحبك الله إلا إذا اتبعت حبيبه ظاهرًا وباطنًا، وصدقته خبرًا، وأطعته أمرًا، وأجبته دعوة، وآثرته طوعًا، وفنيت عن حكم غيره بحكمه، وعن مَحبة غيره من الخلق بمحبته، وعن طاعة غيره بطاعته، وإن لم يكن ذلك فلا تَتَعَنَّ، وارجع من حيث شئت، فالتمس نورًا فلست على شيء</h2>
<p style="text-align: justify;">“Allah tidak akan mencintaimu kecuali engkau mengikuti <em>Habibullah</em> (Rasulullah) secara lahir dan batin, membenarkan sabdanya, mentaati perintahnya, menjawab dakwahnya, mengikuti jalan hidupnya, mendahulukan hukum beliau dibandingkan dengan hukum lain, mendahulukan cinta kepada beliau diatas cinta kepada yang lain, mendahulukan ketaatan kepada beliau dibandingkan kepada orang lain. Kalau engkau tidak demikian, maka tidak ada gunanya. Coba saja lakukan apa yang dapat menggapai cinta Allah menurut caramu sendiri. Engkau mencari cahaya namun tidak akan mendapatkannya”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua</strong>, menggapai <em>ma’iyatullah </em>(kesadaran bahwa Allah senantiasa melihat kita, pent.)</p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga Allah senantiasa memberi taufiq untuk berbuat kebaikan. Anggota tubuhnya tidak akan melakukan sesuatu kecuali yang diridhai oleh Allah. Jika <em>mahabbatullah</em> diraih maka <em>ma’iyatullah </em>pun diraih<em>.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketiga</strong>,</p>
<p style="text-align: justify;">Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah <em>Azza Wa Jalla</em> dengan melakukan berbagai hal yang dianjurkan, ia mendapat kecintaan Allah. Dan jika kecintaan Allah telah diraih, doa pun dikabulkan. Hal ini ditunjukkan oleh hadits dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah <em>Shallallahu’alaih Wasallam</em> bersabda:</p>
<h2 style="text-align: right;">إن الله قال: من عادى لي وليًّا، فقد آذنته بالحرب، وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضته عليه، وما يزال عبدي يتقرَّب إلي بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها، ورجله التي يمشي بها، وإنْ سألني لأعطينه، ولئن استعاذ بي لأعيذنه، وما ترددت عن شيء أنا فاعله ترددي عن نفس المؤمن يكره الموت، وأنا أكره مساءته</h2>
<p style="text-align: justify;">“<em>Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Tidak ada yang lebih aku sukai dari seorang hamba yang mendekatkan diri kepada-Ku, kecuali ia melakukan hal yang Aku wajibkan kepadanya. Dan sesungguhnya hamba-Ku dengan sebab senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, Aku pun mencintainya. Maka bila aku telah mencintainya Aku menjadi pendengarannya, yang ia mendengar dengannya. Aku menjadi penglihatannya, yang ia melihat dengannya. Aku menjadi tangannya yang ia memukul dengannya. Aku menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Bila meminta perlindungan kepada-Ku maka aku akan melindunginya. Bila ia menolak sesuatu yang dibenci oleh dirinya, Akulah yang melakukannya. Dan seorang mukmin itu benci kematian yang jelek, maka Akulah yang menghindarkannya</em>” (HR. Bukhari)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keempat</strong>, memperbaiki kekurangan dalam penunaian kewajiban</p>
<p style="text-align: justify;">Perbuatan-perbuatan yang dianjurkan (<em>nafilah</em>) memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam penunaian hal-hal yang wajib. Yang menunjukkan ini adalah hadits</p>
<h2 style="text-align: right;">إنَّ أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة من عمله صلاته، فإن صلحت فقد أفلح وأنجح، وإن فسدت، فقد خاب وخسر، فإن انتقص من فريضة شيئًا، قال الرب – تبارك وتعالى -: انظروا هل لعبدي من تطوع؟ فيكمل بها ما انتقص من الفريضة، ثم يكون سائر عمله على ذلك</h2>
<p style="text-align: justify;">“<em>Sesungguhnya hal pertama yang dihisab dari hamba-Ku di hari kiamat adalah shalatnya. Jika perhitungannya baik, ia akan beruntung dan selamat. Jika perhitungannya buruk, ia akan rugi. Jika ada kekurangan dalam shalat wajibnya, Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman: Lihatlah apakah hambaku mengerjakan shalat sunnah? Maka disempurnakan dengannya apa-apa yang kurang dari shalat wajibnya. Demikian juga dengan seluruh amal-amalnya</em>” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelima</strong>, menghidupkan hati</p>
<p style="text-align: justify;">Jika seorang hamba senantiasa menjaga sunnah dan menjadikannya hal yang paling penting untuk dipegang, akan terasa sulit baginya meremehkan kewajiban atau kurang dalam pelaksanaannya. Lalu ia pun mendapat keutamaan lain, yaitu ia senantiasa mengagungkan syiar-syiar Allah. Sehingga hatinya pun hidup karena ketaatan kepada Allah. Dan barangiapa meremehkan hal-hal yang sunnah, mengakibatkan ia akan terhalang menjalankan kewajibannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keenam</strong>, terjaga dari melakukan bid’ah</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika seorang hamba senantiasa mengikuti apa-apa yang datang dari sunnah Nabi, ia akan bertekad untuk tidak melakukan suatu ibadah kecuali ada dalilnya. Dengan ini ia akan selamat dari jalan kebid’ahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi pengikut sunnah, masih banyak lagi buah yang didapat. Ibnu Taimiyah dalam <em>Al Qa’idah Al Jaliyah</em> berkata:</p>
<h2 style="text-align: right;">فكل من اتبع الرسول صلى الله عليه وسلم فالله كافيه وهاديه وناصره ورازقه</h2>
<p style="text-align: justify;">“Barangsiapa mengikuti Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> maka Allah akan mencukupkannya, memberinya hidayah,  menolongnya dan melimpahkan rezeki kepadanya”</p>
<p style="text-align: justify;">Murid beliau, Ibnul Qayyim, juga berkata dalam <em>Madarijus Salikin</em> :</p>
<h2 style="text-align: right;">فمن صحب الكتاب والسنة، وتغرب عن نفسه وعن الخلق، وهاجر بقلبه إلى الله، فهو الصادق المصيب</h2>
<p style="text-align: justify;">“Barangsiapa mengikuti Qur’an dan Sunnah, mengalahkan egonya dan pendapat-pendapat orang, ia berhijrah kepada Allah dengan sepenuh hati, maka dia lah orang yang benar”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">sumber : muslim.or.id</p>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Manfaat Mengikuti Sunnah</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/memahami-cinta" rel="bookmark">Memahami Cinta</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/seuntai-kata-tentang-cinta" rel="bookmark">Seuntai Kata Tentang Cinta</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/tidak-sepantasnya-seorang-manusia-menyombongkan-diri" rel="bookmark">Tidak Sepantasnya Seorang Manusia Menyombongkan Diri</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/sebab-sebab-terjadinya-kesyirikan" rel="bookmark">Sebab-Sebab Terjadinya Kesyirikan</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/berkunjung-di-hari-raya" rel="bookmark">Berkunjung Di Hari Raya</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kebiasaan-tidur-pagi-itu-berbahaya" rel="bookmark">Kebiasaan Tidur Pagi Itu Berbahaya</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/keutamaan-puasa-ramadhan" rel="bookmark">Keutamaan Puasa Ramadhan</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/karakter-seorang-salafi" rel="bookmark">Karakter Seorang Salafi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/begini-seharusnya-seorang-salafi" rel="bookmark">Begini Seharusnya Seorang Salafi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kedudukan-puasa-ramadhan" rel="bookmark">Kedudukan Puasa Ramadhan</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/manfaat-mengikuti-sunnah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Info Daurah dan Tabligh Akbar Padang</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/info-daurah-dan-tabligh-akbar-padang</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/info-daurah-dan-tabligh-akbar-padang#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2012 01:11:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Kajian Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[dauroh]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[tabligh akbar]]></category>
		<category><![CDATA[Ust. Abul Abbas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=1018</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; Daurah dan Tabligh Akbar Kota Padang Dauroh Syar&#8217;iyyah dan Tabligh Akbar Kota Padang 23 &#8211; 25 Maret 2012 Bersama Ust.  Abul Abbas Thobroni (Alumnus Darul Hadist Yaman, Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Imam Syafi&#8217;i, Pekalongan &#8211; Jawa Tengah) Tema : TAMASYA KE TAMAN SURGA &#160; Dauroh Syar&#8217;iyyah &#8220;HILYAH THOLIBUL &#8216;ILMI&#8221; Hari/Tgl : Jumat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Daurah dan Tabligh Akbar Kota Padang</strong></p>
<p><a href="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2012/03/Tabligh-Akbar-ust-Abul-abbas-padang-23-25-maret-2012.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1017" title="Tabligh Akbar ust Abul abbas padang 23-25 maret 2012" src="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2012/03/Tabligh-Akbar-ust-Abul-abbas-padang-23-25-maret-2012.jpg" alt="Tabligh Akbar ust Abul abbas padang 23 25 maret 2012 Info Daurah dan Tabligh Akbar Padang" width="456" height="644" /></a></p>
<h4 style="text-align: center;">Dauroh Syar&#8217;iyyah dan Tabligh Akbar Kota Padang 23 &#8211; 25 Maret 2012</h4>
<h4 style="text-align: center;">Bersama</h4>
<h2 style="text-align: center;">Ust.  Abul Abbas Thobroni</h2>
<p style="text-align: center;"><strong>(Alumnus Darul Hadist Yaman, Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Imam Syafi&#8217;i, Pekalongan &#8211; Jawa Tengah)</strong></p>
<h3 style="text-align: center;"></h3>
<h3 style="text-align: center;">Tema :</h3>
<h2 style="text-align: center;">TAMASYA KE TAMAN SURGA</h2>
<p>&nbsp;</p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="text-decoration: underline;">Dauroh Syar&#8217;iyyah &#8220;HILYAH THOLIBUL &#8216;ILMI&#8221;</span></h2>
<p style="text-align: center;"><strong>Hari/Tgl : Jumat dan Sabtu, 23-24 Maret 2012</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Pukul 08.00 &#8211; 17.30 WIB</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Tempat : Masjid Nurul Islam (Jln. Surabaya Komplek Asratek Ulak Karang Padang)<br />
</strong></p>
<h3 style="text-align: center;"></h3>
<h2 style="text-align: center;"><span style="text-decoration: underline;">Tabligh Akbar  &#8220;NEGERI PENUH UJIAN&#8221;</span></h2>
<p style="text-align: center;"><strong>Hari/Tgl : Ahad, 25 Maret 2012</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Pukul 08.30 &#8211; 12.00 (Dzuhur)</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Tempat : Masjid Al Azhar (Komplek UNP Air Tawar Padang)</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Contact Person dan Pendaftaran</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Yingki 085669124362</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Genta 085363081764</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Harqi 085382651991</strong></p>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Info Daurah dan Tabligh Akbar Padang</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/ustadz-abu-azzam-abdul-halim-lc-ma" rel="bookmark">Ustadz Abu Azzam Abdul Halim, Lc. MA</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/ustadz-muhammad-elvi-syam-lc-ma" rel="bookmark">Ustadz Muhammad Elvi Syam, Lc. MA</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/ustadz-faisal-rahman-lc" rel="bookmark">Ustadz Faisal Rahman, Lc</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/ustadz-ade-agustian-lc" rel="bookmark">Ustadz Ade Agustian, Lc</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/khuruj-bersama-jamaah-tabligh" rel="bookmark">Khuruj Bersama Jamaah Tabligh</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/asal-muasal-perang-paderi" rel="bookmark">Asal &#8211; Muasal Perang Paderi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/pertarungan-yang-tak-pernah-berakhir" rel="bookmark">Pertarungan Yang Tak Pernah Berakhir</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/utsman-bin-%e2%80%98affan-wafat-35-h" rel="bookmark">Utsman bin ‘Affan (Wafat 35 H)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/berita-dari-medan-perang-wailah-yaman" rel="bookmark">Berita Dari Medan Perang Wailah &#8211; Yaman</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/berita-besar-dari-bumi-wailah-kedatangan-rombongan-masyaikh" rel="bookmark">Berita Besar dari Bumi Wailah, Kedatangan Rombongan Masyaikh</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/info-daurah-dan-tabligh-akbar-padang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (4)</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 06:45:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=1008</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran 4 dari Revolusi Timur Tengah Jangan Paksa Rakyat Untuk Fakir dan Kafir Sekaligus[1] Atas pengawasan negara-negara Barat, Prancis berhasil ‘menciptakan’ Habeeb Bourgiba sebagai presiden Tunisia pertama tahun 1956. Ia kembali ke negaranya bak pahlawan kemerdekaan, setelah menumbangkan kekuasaan monarki Muhammad Amin Bay, dan mengumumkan berdirinya Republik Tunisia. Bourgiba tak lupa membayar ‘hutang budi’ tadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: justify;" align="center">Pelajaran 4 dari Revolusi Timur Tengah</h3>
<h3 style="text-align: justify;" align="center"><img class="alignleft" src="https://encrypted-tbn1.google.com/images?q=tbn:ANd9GcS9kIp5d4n4jELAkg5av-iQr220SSLn-5QcLFzULlxOu8hH1p1t" alt=" Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (4) " width="227" height="222" title="Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (4) " />Jangan Paksa Rakyat Untuk Fakir dan Kafir Sekaligus[1]</h3>
<p style="text-align: justify;">Atas pengawasan negara-negara Barat, Prancis berhasil ‘menciptakan’ Habeeb Bourgiba sebagai presiden Tunisia pertama tahun 1956. Ia kembali ke negaranya bak pahlawan kemerdekaan, setelah menumbangkan kekuasaan monarki Muhammad Amin Bay, dan mengumumkan berdirinya Republik Tunisia.</p>
<p style="text-align: justify;">Bourgiba tak lupa membayar ‘hutang budi’ tadi kepada Prancis dan Barat, dengan merevolusi syariat Islam. Melalui majalah <em>al-Ahwaal asy-Syakhsiyyah</em>, ia membatalkan sejumlah hukum syar’i yang baku. Yang paling terkenal di antaranya ialah larangan berpoligami. Poligami dianggap sebagai tindak kriminal, sedangkan pelacuran dibolehkan dan bahkan dilindungi undang-undang !!</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika pemerintah Tunisia menaikkan harga roti tahun 1984, terjadilah ‘revolusi roti’. Bourgiba memanggil pulang dubes-nya di Warsawa-Polandia, yang bernama Zein el-Ebidin Ben Ali. Ben Ali diangkat sebagai Kepala keamanan nasional, lalu menjadi Mendagri, dan kemudian dilantik sebagai Perdana Menteri tahun 1987, hingga akhirnya mengkudeta Bourgiba sebulan kemudian!</p>
<p style="text-align: justify;">Saya masih ingat bahwa di awal kekuasaannya, Ben Ali sering menyiarkan adzan dari Masjidil Haram Mekkah, melalui televisi Tunisia. Orang-orang yang tidak mengenalnya pun menyambut hangat ‘kebijakan’ ini, dan menganggapnya sebagai ‘pengganti baik’ sang diktator Bourgiba.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika itu, kami masih mahasiswa. Ada seorang kyai sepuh yang demikian faham akan muslihat para tiran berkata, “Jangan terpedaya olehnya (Ben Ali), sebab dia ciptaan Prancis. Ia akan menjadi seperti pendahulunya kalau tidak lebih jahat”. Ternyata, dugaan pak Kyai tadi benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang diktator terus melenggang dengan segala kezhaliman dan kesewenang-wenangannya selama 23 tahun. Ia terus-menerus memerangi Islam, berlaku otoriter, dan mencekik rakyatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari Jumat 11 Muharram 1432, seorang pemuda bernama Mohamed Bouazizi nekat membakar dirinya. Ia melakukan hal tersebut karena kesal setelah gerobak sayurnya disita aparat. Bouazizi yang menjadi pengangguran dan tak lagi mampu menafkahi keluarga, juga menerima tamparan dari seorang polisi wanita di depan umum. Tak ada seorang pun yang membelanya ketika itu. Tak lama berselang, ia pun wafat akibat luka bakarnya pada tanggal 29 Muharram.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan harinya, meletuslah sejumlah demonstrasi yang merayap bak api dalam sekam ke seantero Tunisia, yang kemudian menjadi revolusi nasional. Pasukan diturunkan atas perintah Sang Diktator agar memberangus dan membantai para demonstran. Akan tetapi, pasukan justru mengkhianatinya, dan berbalik melindungi rakyat dari oknum-oknum militer pendukung presiden.</p>
<p style="text-align: justify;">Ben Ali pun kabur setelah keadaan semakin kacau dan tak terkendali. Pemerintahan akhirnya dipegang oleh PM Mohamed Ghannouchi, sebagai presiden sementara. Ia mengumumkan kondisi darurat, memberlakukan jam malam sejak pukul 5 sore hingga 7 pagi, dan melarang berkumpulnya tiga orang atau lebih secara mutlak.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita, di penghujung tahun 2011, terpilihlah Moncef Marzouki sebagai presiden Tunisia ke-4. Presiden yang berlatar belakang dokter ini memang terkenal sebagai pejuang HAM. Akan tetapi sayang, dalam pidato kepresidenannya, ia memuji keberhasilan Bourgiba dkk. sebagai peletak asas-asas pemerintahan modern, dan memuji keberhasilannya dalam pemerataan pendidikan, <strong>pembebasan kaum wanita</strong>, dan perbaikan taraf hidup rakyat Tunisia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayang sekali… kepergian Ben Ali ternyata digantikan oleh orang yang berhaluan sekuler seperti ini. <em>Ala kulli haal</em>, takdir Allah pasti terjadi… dan pasti mengandung hikmah dan pelajaran di baliknya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Rakyat tak bisa dipaksa untuk fakir dan kafir sekaligus</h3>
<p style="text-align: justify;">Salah satu pelajaran penting dari peristiwa (Revolusi Timur Tengah) ini adalah, ketika rakyat dipaksa untuk menjadi kafir dan fakir sekaligus; mereka pasti memberontak kepada penguasa. Rakyat mungkin saja ‘sabar’ untuk dijauhkan dari agama selama dunianya terjamin. Atau dijauhkan dari dunia selama agamanya terpelihara. Namun ketika keduanya dirampas, maka mustahil ia tinggal diam…</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Revolusi Prancis berhasil merampas pengaruh agama Nasrani dalam kehidupan warganya, ia mengganti mereka dengan kemakmuran dunia, sehingga rakyat Eropa pun ‘puas’ dan ‘reda’. Andai saja revolusi tersebut tidak menjamin kemakmuran dunia mereka, pastilah mereka memberontak lagi… sebab manusia tidak akan sabar jika kehilangan agama dan dunianya sekaligus.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi, banyak penguasa kaum muslimin yang mempertaruhkan kesejahteraan rakyat demi kepentingan pribadi. Mereka memberi berbagai kemudahan kepada perusahaan asing untuk menggerogoti kekayaan bangsa dan negara. Lihatlah bagaimana para pemimpin menumpuk kekayaan di atas penderitaan rakyatnya… Dengan dalih kerjasama, tak sedikit aset negara yang mereka jual kepada para investor. Tak cukup sampai di situ, pemerintah bahkan membuka perdagangan bebas, sehingga barang-barang impor membanjiri pasar lokal. Akibatnya, produk-produk lokal pun tak laku. Seperti kata pepatah, sudah jatuh terhimpit tangga pula. Para pengrajin yang <em>ngos-ngosan</em> mencari sesuap nasi, kini terancam jadi pengangguran. Mereka merasa terjajah di negeri sendiri, dan ironisnya: oleh bangsa sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kondisi seperti ini, umat Islam bisa saja bersabar menghadapi himpitan ekonomi, selama agama mereka tak dinodai. Mereka yakin, bahwa walaupun hidupnya serba susah ketika di dunia, toh Allah menjanjikan surga bagi mereka di akhirat nanti. Namun jika agama mereka dinodai, lalu kekayaan mereka dirampas… maka apa fungsinya keberadaan penguasa? Yang akan muncul hanyalah revolusi dan amuk massa, persis seperti yang terjadi di Tunisia.</p>
<p style="text-align: justify;">Karenanya, gerakan <em>Sepilis</em>[2] yang didukung oleh AS dan Eropa di negara-negara mayoritas muslim, harus diwaspadai. Selama ini, mereka demikian leluasa menyebarkan pemikiran busuknya lewat berbagai media massa. Dan lagi-lagi, pemerintah terkesan mendiamkan, atau bahkan merestui.</p>
<p style="text-align: justify;">Para aktivis <em>Sepilis</em> sedikitpun tidak pernah memikirkan nasib rakyat. Bahkan nasib penguasa pun mereka pertaruhkan demi menyukseskan program jahat sang majikan. Mereka ibarat anjing peliharaan yang menggonggong demi kepentingan tuannya, dan bahkan siap mati demi yang memberi makan. Hal ini terbukti ketika Ben Ali yang selama ini berkhidmat demi kepentingan Prancis, justru ditolak untuk melarikan diri ke Prancis setelah terguling.</p>
<p style="text-align: justify;">Prancis sama sekali tak mau menerima Ben Ali yang selama 23 tahun menjadi tangan kanannya dalam mensekulerkan rakyat Tunisia. Subhaanallaah, alangkah hinanya anjing-anjing tersebut di mata tuannya ! Ben Ali yang selama ini berjuang memberangus semua atribut Islam, mulai dari jenggot, jilbab, poligami, hingga adzan; ternyata tak mendapat tempat aman untuk berlindung dari amukan rakyatnya… tidak di Eropa, tidak pula di Amerika… namun justru di negara yang menerapkan syariat Islam yang selama ini dimusuhinya, dan itu pun dengan syarat-syarat ketat.</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align: justify;">
<p>[1] Disadur dari artikel berjudul (سقط طاغوت تونس.. فهل يعتبر كل طاغوت!؟) oleh Ibrahim bin Muhammad Al Haqiel, dengan banyak perombakan. Beberapa pelajaran selanjutnya juga diilhami dari artikel ini.</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;">[2] Singkatan dari sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.</p>
<p style="text-align: justify;">sumber : basweidan.com</p>
</div>
</div>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (4) </h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-5" rel="bookmark">Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (5)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-1" rel="bookmark">Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (1)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/perwira-nazi-ternyata-banyak-yang-masuk-islam" rel="bookmark">Perwira Nazi Ternyata Banyak Yang Masuk Islam</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-2" rel="bookmark">Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (2)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kekuasaan-dan-imarah-di-kalangan-bangsa-arab-2" rel="bookmark">Kekuasaan dan Imarah di Kalangan Bangsa Arab (2)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kekuasaan-dan-imarah-di-kalangan-bangsa-arab-1" rel="bookmark">Kekuasaan dan Imarah di Kalangan Bangsa Arab (1)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3" rel="bookmark">Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (3)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/pemimpin-yang-menipu" rel="bookmark">Pemimpin Yang Menipu</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/wanita-atheis-mendapatkan-hidayah-di-usia-tua" rel="bookmark">Wanita Atheis Mendapatkan Hidayah Di Usia Tua</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/di-australia-muslimah-tidak-boleh-pakai-cadar" rel="bookmark">Di Australia, Muslimah Tidak Boleh Pakai Cadar.</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persatuan Umat Islam</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/persatuan-umat-islam</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/persatuan-umat-islam#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 10:26:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=1004</guid>
		<description><![CDATA[Ahlus Sunnah mengajak kepada persatuan kaum Muslimin dan melarang mereka berpecah belah, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ….“ (QS. Ali ‘Imran: 103) Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2011/09/nasehat-syaikh-albani.jpg"><img class="size-medium wp-image-574 alignleft" title="nasehat syaikh albani" src="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2011/09/nasehat-syaikh-albani-225x300.jpg" alt="nasehat syaikh albani 225x300 Persatuan Umat Islam" width="225" height="300" /></a>Ahlus Sunnah mengajak kepada persatuan kaum Muslimin dan melarang mereka berpecah belah, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ….“ (QS. Ali ‘Imran: 103)</p>
<p style="text-align: justify;">Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat adzab yang berat” (QS. Ali ‘Imran: 105)</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“…. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan mereka merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar-Ruum: 31-32)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Berjama’ah (bersatu) adalah rahmat sedangkan berpecah-belah adalah adzab” HR. Ahmad (IV/278) dan Ibnu Abi’ Ashim (no.93).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ahlus Sunnah mengajak kepada persatuan yang dilandasi dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih. Bukan persatuan yang semu dan sesat. Ahlus Sunnah tidak menyeru kepada perkara-perkara yang dapat memecah belah persatuan kaum Muslimin. Persatuan yang dikehendaki ialah persatuan menurut pemahaman ulama Salaf dan orang-orang yang mengikuti manhaj (pedoman) mereka. Bukan menurut pemahaman pengikut hawa nafsu dan hizbiyyah. [1]</p>
<p style="text-align: justify;">Berkata Syaikh Shafiyur Rahman al-Mubarakfury, “Al-Hizb, secara bahasa adalah: ‘Golongan/kumpulan dari manusia, berkumpulnya manusia karena adanya sifat yang bersekutu atau kemaslahatan yang menyeluruh. Mereka terikat oleh ikatan ‘aqidah dan iman atau ikatan kekufuran, kefasikan, kemaksiatan atau terikat karena (adanya perasaan) kebangsaan da setanah air atau (ikatan) nasab/keturunan, pekerjaan, bahasa atau serupa dengan itu berupa ikatan-ikatan, kriteria, kemaslahatannya yang secara adat manusia mereka berkumpul di atasnya dan bersatu karena sifat-sifat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukanlah sesuatu yang tersembunyi bagi seseorang yang berakal bahwa setiap hizb mempunya prinsip-prinsip, pemikiran, sandaran yang sifatnya intern dan teori-teori yang menjadi patokan sebagai undang-undang bagi kelompok hizb. Meskipun sebagian mereka tidak menyebutnya sebagai undang-undang.</p>
<p style="text-align: justify;">Undang-undang tersebut kedudukannya sebagai asas yang menjadi dasar berpijaknya sistem pengorganisasian hizb, dan hizb sengaja dibangun berdasarkan undang-undang tersebut. Barang siapa yang percaya dan meyakininya dengan sungguh-sungguh dengan istilah lain: dia mengakuinya, mengambilnya sebagai asas pergerakan dan amal jama’i yang tersusun rapi dalam hizb tersebut, maka ia menjadi anggotanya atau pendukung setianya. Yang tidak setuju/menolak, maka ia tidak termasuk anggota hizb. Maka, undang-undang itu menjadi asas wala’ (kesetiaan/loyalitas) dan bara’ (permusuhan) persatuan dan perpecahan, kepedulian dan ketidakpedulian.</p>
<p style="text-align: justify;">Atas pertimbangan yang demikian maka sesungguhnya di dunia ini hanya ada dua hizb, yaitu hizb Allah dan hizb syaithan, yang menang dan yang kalah, yang Muslim dan yang kafir. Orang yang memasukkan hizb-hizb (kelompok, pergerakan, jama’ah-jama’ah) ke dalam hizb Allah, maka dia telah merobek-robek hizb Allah, memecah belah kalimat Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang muslim harus meninggalkan dan menanggalkan semua bentuk hizbiyyah yang sempit dan terkutuk yang telah melemahkan hizb Allah, dan tidak boleh toleran kepada semua kelompok/golongan/jama’a supaya agama Islam ini seluruhnya milik Allah. [2]</p>
<h4 style="text-align: justify;">Ahlus Sunnah mengajak kaum Muslimin kepada persatuan di atas Sunnah.</h4>
<p style="text-align: justify;">Jika kaum Muslimin bersatu di atas Sunnah, mereka akan mendapatkan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, kebaikan dan kekuatan. Dan jika mereka berselisih, yang terjadi adalah kelemahan, kekalahan, dan kehancuran.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfaal: 46)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Namun wajib diketahui bahwa persatuan itu dibangun di atas ittiba’ (ketaatan) kepada As-Sunnah bukan di atas bid’ah. Kebanyakan firqah-firqah yang mencela adanya perpecahan dan mengajak kepada persatuan, yang mereka maksud dengan perpecahan adalah golongan yang menyelisihi mereka meskipun golongan itu berada di atas kebenaran. Sedangkan yang mereka maksud dengan persatuan adalah kembali kepada prinsip dan manhaj mereka. Padahal prinsip dan manhaj mereka telah menyimpang dari jalan ash-Shirath al-Mustaqiim (jalan yang lurus). Oleh karena itu apabila terjadi perselisihan hendaklah dikembalikan kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam (Sunnahnya) dengan pemahaman Salafush Shalih.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahlus Sunnah menyuruh kepada persatuan ummat Islam atas dasar Sunnah dan melarang berpecah-belah serta bergolong-golongan. Ahlus Sunnah juga menyuruh ummat Islam untuk berada dalam satu barisan di atas Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dalam menghadapi musuh-musuh mereka. Adapun kelompok-kelompok bawah tanah, jama’ah-jama’ah sempalan dan bai’at-bai’at yang dikenal dengan bai’at dakwah merupakan penyebab timbulnya perpecahan dan fitnah (pertikaian). Bai’at hanya boleh diberikan kepada orang yang ditunjuk oleh ahlul halli wal ‘aqdi (semacam lembaga yudikatif) atau kepada seorang Muslim yang berkuasa dengan kekuatannya, meskipun ia seorang yang zhalim.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahlus Sunnah berpendapat tentang hadits:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“…. Barang siapa mati sementara ia belum berbai’at, maka kematiannya terhitung kematian secara Jahiliyyah.” HR. Muslim (no. 1851) dan al-Baihaqi (VIII/156).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Sanksi yang tersebut dalam hadits di atas ditujukan kepada orang yang tidak membai’at penguasa yang telah ditunjuk dan disepakati oleh ahlul halli wal ‘aqdi. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal ketika menjawab pertanyaan Ishaq bin Ibrahim bin Hani tentang hadits di atas. Beliau (Imam Ahmad) menjawab: “Yang dimaksud dengan Imam adalah kaum Muslimin seluruhnya berkumpul untuk membai’atnya, itu adalah Imam dan demikianlah makna hadits ini.”. Tidak sebagaimana yang diklaim oleh setiap jama’ah atau kelompok. [3]</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Katsiri dalam kitabnya, Faidhul Baari berkata: “Ketahuilah bahwa hadits tersebut menunjukkan bahwa yang dianggap bai’at yang sah adalah yang dibai’at oleh seluruh kaum Muslimin. Kalau seandainya ada dua orang atau tiga orang yang membai’at, maka hal itu tidak dikatakan Imam sampai dibai’at oleh kaum Muslimin atau ahlul halli wal ‘aqdi. [4] Jadi ancaman tentang orang yang meninggalkan bai’at diancam dengan mati Jahiliyyah itu berlaku bagi orang yang tidak berbai’at kepada Imam yang berkumpul padanya seluruh kaum Muslimin atau yang diwakilkan oleh ahlul halli wal ‘aqdi. Adapun yang dilakukan oleh kelompok-kelompok (jama’ah-jama’ah) adalah bai’at yang bid’ah yang harus ditinggalkan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada Hudzaifah, yaitu ketika tidak adanya jama’ah dan imam, maka ia harus meninggalkan semua jama’ah.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“…. Hendaklah engkau berpegang teguh (bersatu) kepada jama’ah dan Imam kaum Muslimin.” Kemudian Hudzaifah bertanya: “Bagaimana kalau mereka sudah tidak mempunyai jama’ah dan Imam lagi?” Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab: “Jauhilah semua kelompok tersebut, meskipun harus menggigit akar pohon, hingga engkau mati dalam keadaan seperti itu”. HR. Al-Bukhari (no. 7084).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari kitab: Syarah ‘AQIDAH Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i oleh Abu Hanif</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Footnote :</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Lafazh hizb ada beberapa makna ditinjau dari aspek bahasa, al-Fairuz Abadi dalam Bashaairu Dzawit Tamyiizi (II/457) mengatakan: “Al-hizb adalah kelompok (golongan). Al-Ahzaab adalah kumpulan orang-orang yang bersekutu memerangi para Nabi. Sedangkan dalam Al-Qur’an terdapat beberapa sudut pandang:</p>
<ol>
<li>Bermakna beberapa golongan yang berada dalam perbedaan pandangan, syari’at, dan agama. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. (QS. Ar-Ruum: 32).</li>
<li>Bermakna tentara syaithan. (QS. Al-Mujaadilah: 19).</li>
<li>Bermakna tentara Allah. (QS. Al-Mujaadilah: 22), adapun tentara Allah, maka mereka di dunia adalah sebagai pemenang (Qs. Al-Maaidah: 56). Akibat (balasan) bagi mereka adalah sebagai pemenang yang beruntung. (QS. Al-Mujaadilah: 22).</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">[2] Lihat ad-Da’wah ilallah bainat Tajammu’ al-Hizbi wat Ta’aawun asy-Syari’I, halaman 53-55 oleh Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi al-Atsari.</p>
<p style="text-align: justify;">[3] As-Siraajul Wahhaj fi Bayaanil Minhaaj (no. 181) oleh Abul Hasan Musthafa bin Isma’il as-Sulaimani al-Mishri.</p>
<p style="text-align: justify;">[4] Faidhatul Baari (IV/59), dikutip dari NashiihahDzahabiyyahilal Jamaa’aatil Islaamiyyah (halaman 10) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.</p>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Persatuan Umat Islam</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/karakter-seorang-salafi" rel="bookmark">Karakter Seorang Salafi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/begini-seharusnya-seorang-salafi" rel="bookmark">Begini Seharusnya Seorang Salafi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/fatwa-syaikh-fauzan-tentang-dammaj" rel="bookmark">Fatwa Syaikh Fauzan Tentang Dammaj</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/bantahan-tuntas-pengakuan-dusta-seorang-agen-mossad-2" rel="bookmark">Bantahan Tuntas Pengakuan Dusta Seorang Agen MOSSAD [2]</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/imam-mahzab-dalam-cerita-sufi" rel="bookmark">Imam mahzab Dalam Cerita Sufi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/pertarungan-yang-tak-pernah-berakhir" rel="bookmark">Pertarungan Yang Tak Pernah Berakhir</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/sejarah-agama-syiah" rel="bookmark">Sejarah Agama Syi&#8217;ah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/syura-dalam-pandangan-islam-dan-demokrasi" rel="bookmark">Syura Dalam Pandangan Islam Dan Demokrasi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/partai-politik-menurut-ulama-salafi" rel="bookmark">Partai Politik Menurut Ulama Salafi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/adab-bagi-para-penuntut-ilmu" rel="bookmark">Adab Bagi Para Penuntut Ilmu</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/persatuan-umat-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Doa Istiftah</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/kumpulan-doa-istiftah</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/kumpulan-doa-istiftah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 06:10:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[doa iftitah]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[istiftah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=964</guid>
		<description><![CDATA[Doa Istiftah adalah doa yang dibaca ketika shalat, antara takbiratul ihram dan ta’awudz sebelum membaca surat Al Fatihah. Hukum Membaca Doa Istiftah Hukum membacanya adalah sunnah. Diantaranya dalilnya adalah hadist dari Abu Hurairah: كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا كبَّر في الصلاة؛ سكتَ هُنَيَّة قبل أن يقرأ. فقلت: يا رسول الله! بأبي أنت [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Doa Istiftah adalah doa yang dibaca ketika shalat, antara takbiratul ihram dan <em>ta’awudz</em><span class="Apple-style-span"> sebelum </span><span style="font-size: x-small;"><span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;">membaca</span></span><span class="Apple-style-span"> surat Al Fatihah.</span></p>
<section id="main">
<section id="mainleft">
<div id="latest-article">
<article id="post-7934">
<div>
<h3>Hukum Membaca Doa Istiftah</h3>
<p>Hukum membacanya adalah sunnah. Diantaranya dalilnya adalah hadist dari Abu Hurairah:</p>
<h3 style="text-align: right;">كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا كبَّر في الصلاة؛ سكتَ هُنَيَّة قبل أن يقرأ. فقلت: يا رسول الله! بأبي أنت وأمي؛ أرأيت سكوتك بين التكبير والقراءة؛ ما تقول؟ قال: ” أقول: … ” فذكره</h3>
<blockquote><p>“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam setelah bertakbir ketika shalat, ia diam sejenak sebelum membaca ayat. Maka aku pun bertanya kepada beliau, wahai Rasulullah, kutebus engkau dengan ayah dan ibuku, aku melihatmu berdiam antara takbir dan bacaan ayat. Apa yang engkau baca ketika itu adalah:… (beliau menyebutkan doa istiftah)” (Muttafaqun ‘alaih)</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Setelah menyebut beberapa doa istiftah dalam kitab <em>Al Adzkar</em>, Imam An Nawawi berkata: “Ketahuilah bahwa semua doa-doa ini hukumnya <em>mustahabbah</em> (sunnah) dalam shalat wajib maupun shalat sunnah” (<em>Al Adzkar</em>, 1/107).</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah pendapat jumhur ulama, kecuali Imam Malik <em>rahimahullah</em>. Beliau berpendapat, yang dibaca setelah <em>takbiratul ihram</em> adalah الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ yaitu surat Al Fatihah. Tentu saja pendapat beliau ini tidak tepat karena bertentangan dengan banyak dalil.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Macam-macam Doa Istiftah</h3>
<p style="text-align: justify;">Ada beberapa macam jenis doa istiftah yang dibaca oleh Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dan sahabatnya, berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini macam-macam doa istiftah yang shahih, berdasarkan penelitian Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani <em>rahimahullah</em> terhadap dalil-dalil doa istiftah, yang tercantum dalam kitab beliau <em>Sifatu Shalatin Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam</em>:</p>
<h4 style="text-align: justify;">Pertama</h4>
<h3 style="text-align: right;">اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ</h3>
<blockquote><p>“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin” (HR.Bukhari 2/182, Muslim 2/98)</p></blockquote>
<p>Doa ini biasa dibaca Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dalam shalat fardhu. Doa ini adalah doa yang paling shahih diantara doa istiftah lainnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Baari</em> (2/183).</p>
<h3>Kedua</h3>
<h3 style="text-align: right;">وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ، اللهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku sendiri dan akui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Tunjukilah aku akhlak yang paling terbaik. Tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Aka aku patuhi segala perintah-Mu, dan akan aku tolong agama-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Sedangkan keburukan tidak datang dari Mu. Orang yang tidak tersesat hanyalah orang yang Engkau beri petunjuk. Aku berpegang teguh dengan-Mu dan kepada-Mu. Tidak ada keberhasilan dan jalan keluar kecuali dari Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampunan dariMu dan aku bertobat kepadaMu” (HR. Muslim 2/185 – 186)</p>
</blockquote>
<p>Doa ini biasa dibaca Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dalam shalat fardhu dan shalat sunnah.</p>
<h3>Ketiga</h3>
<h3 style="text-align: right;">اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji”. (HR. An Nasa-i, 1/143. Di shahihkan Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/251)</p>
</blockquote>
<h4>Keempat</h4>
<h3 style="text-align: right;">إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ</h3>
<blockquote><p>“Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, tunjukilah aku amal dan akhlak yang terbaik. Tidak ada yang dapat menujukkanku kepadanya kecuali Engkau. Jauhkanlah aku dari amal dan akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkanku darinya kecuali Engkau”. (HR. An Nasa-i 1/141, Ad Daruquthni 112)</p></blockquote>
<h4>Kelima</h4>
<h3 style="text-align: right;">سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ</h3>
<blockquote><p>“Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau” (HR.Abu Daud 1/124, An Nasa-i, 1/143, At Tirmidzi 2/9-10, Ad Darimi 1/282, Ibnu Maajah 1/268. Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri, dihasankan oleh Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/252)</p></blockquote>
<p>Doa ini juga diriwayatkan dari sahabat lain secara <em>marfu’</em>, yaitu dari ‘Aisyah, Anas bin Malik dan Jabir  <em>Radhiallahu’anhum</em>. Bahkan Imam Muslim membawakan riwayat :</p>
<h3 style="text-align: right;">أن عمر بن الخطاب كان يجهر بهؤلاء الكلمات يقول : سبحانك اللهم وبحمدك . تبارك اسمك وتعالى جدك . ولا إله غيرك</h3>
<blockquote><p>“Umar bin Khattab pernah menjahrkan doa ini (ketika shalat) : (lalu menyebut doa di atas)” (HR. Muslim no.399)</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah, doa ini banyak diamalkan oleh para sahabat Nabi, sehingga para ulama pun banyak yang lebih menyukai untuk mengamalkan doa ini dalam shalat. Selain itu doa ini cukup singkat dan sangat tepat bagi imam yang mengimami banyak orang yang kondisinya lemah, semisal anak-anak dan orang tua.</p>
<h3>Keenam</h3>
<h3 style="text-align: right;">سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ</h3>
<h3 style="text-align: right;">3x  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ</h3>
<h3 style="text-align: right;">3x  اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau, Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah (3x), Allah Maha Besar (3x)” (HR.Abu Daud 1/124, dihasankan oleh Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/252)</p>
</blockquote>
<h4>Ketujuh</h4>
<h3 style="text-align: right;">اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا</h3>
<blockquote><p>“Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang” (HR. Muslim 2/99)</p></blockquote>
<p>Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radhiallahu’anhu, ia berkata:</p>
<h3 style="text-align: right;">بينما نحن نصلي مع رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ إذ قال رجل من القوم: … فذكره. فقال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” عجبت لها! فتحت لها أبواب السماء “. قال ابن عمر: فما تركتهن منذ سمعت رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول ذلك</h3>
<blockquote><p>“Ketika kami shalat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, ada seorang lelaki yang berdoa istiftah: (lalu disebutkan doa di atas). Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bersabda: ‘Aku heran, dibukakan baginya pintu-pintu langit‘. Ibnu Umar pun berkata:’Aku tidak pernah meninggalkan doa ini sejak beliau berkata demikian’”.</p></blockquote>
<h4>Kedelapan</h4>
<h3 style="text-align: right;">الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ</h3>
<blockquote><p>“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, pujian yang terbaik dan pujian yang penuh keberkahan di dalamnya” (HR. Muslim 2/99).</p></blockquote>
<p>Hadits tersebut diriwayatkan oleh Anas bin Malik <em>Radhiallahu’anhu</em>, ketika ada seorang lelaki yang membaca doa istiftah tersebut, Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<h3 style="text-align: right;">لقد رأيت اثني عشر ملكاً يبتدرونها ؛ أيهم يرفعها</h3>
<blockquote><p>“Aku melihat dua belas malaikat bersegera menuju kepadanya. Mereka saling berlomba untuk mengangkat doa itu (kepada Allah Ta’ala)”</p></blockquote>
<h4>Kesembilan</h4>
<h3 style="text-align: right;">اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ الحَقُّ وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Ya Allah, segala puji bagi Engkau. Engkau pemelihara langit dan bumi serta orang-orang yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau memiliki kerajaan langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau adalah cahaya bagi langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau Raja langit dan bumi dan Raja bagi siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkaulah Al Haq. Janji-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, pertemuan dengan-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, para nabi itu membawa kebenaran, dan Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam itu membawa kebenaran, hari kiamat itu benar adanya. Ya Allah, kepada-Mu lah aku berserah diri.Kepada-Mu lah aku beriman. Kepada-Mu lah aku bertawakal. Kepada-Mu lah aku bertaubat. Kepada-Mu lah aku mengadu. Dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosaku. Baik yang telah aku lakukan maupun yang belum aku lakukan. Baik apa yang aku sembunyikan maupun yang aku nyatakan. Engkaulah Al Muqaddim dan Al Muakhir. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau” (HR. Bukhari 2/3, 2/4, 11/99, 13/366 – 367, 13/399, Muslim 2/184)</p>
</blockquote>
<p>Doa istiftah ini sering dibaca Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi Wasallam</em> ketika shalat malam. Namun tetap <em>masyru’</em> juga dibaca pada shalat wajib dan shalat yang lain.</p>
<h3>Kesepuluh</h3>
<h3 style="text-align: right;">اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ</h3>
<blockquote><p>“Ya Allah, Rabb-nya malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi. Yang mengetahui hal ghaib dan juga nyata. Engkaulah hakim di antara hamba-hamba-Mu dalam hal-hal yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku kebenaran dalam apa yang diperselisihkan, dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk menuju jalan yang lurus, kepada siapa saja yang Engkau kehendaki” (HR. Muslim 2/185)</p></blockquote>
<p>Doa istiftah ini juga sering dibaca Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi Wasallam</em> ketika shalat malam. Namun tetap <em>masyru’</em> juga dibaca pada shalat wajib dan shalat yang lain.</p>
<h4>Kesebelas</h4>
<h3 style="text-align: right;">10x الله اكبر</h3>
<h3 style="text-align: right;">10x الحمد لله</h3>
<h3 style="text-align: right;">10x لا اله الا الله</h3>
<h3 style="text-align: right;">10x استغفر الله</h3>
<h3 style="text-align: right;">10x اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ،وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي وَعَافِنِي</h3>
<h3 style="text-align: right;">10x اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الضِّيقِ يَوْمَ الْحِسَابِ</h3>
<blockquote><p>“Allah Maha Besar” 10x</p>
<p>“Segala pujian bagi Allah” 10x</p>
<p>“Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah” 10x</p>
<p>“Aku memohon ampun kepada Allah” 10x</p>
<p>“Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rizki, dan berilah aku kesehatan” 10x</p>
<p>“Ya Allah, aku berlindung dari kesempitan di hari kiamat” 10x</p>
<p>(HR. Ahmad 6/143, Ath Thabrani dalam Al Ausath 62/2. Dihasankan Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/267)</p></blockquote>
<h4>Kedua Belas</h4>
<h3 style="text-align: right;">اللَّهُ أَكْبَرُ [ثلاثاً] ، ذُو الْمَلَكُوتِ، وَالْجَبَرُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ</h3>
<blockquote><p>“Allah Maha Besar” 3x</p>
<p>“Yang memiliki kerajaan besar, kekuasaan, kebesaran, dan keagungan” (HR. Ath Thayalisi 56, Al Baihaqi 2/121 – 122)</p></blockquote>
<h3>Adab Membaca Doa Istiftah</h3>
<p>Beberapa adab membaca doa istiftah dijelaskan oleh Imam An Nawawi dalam kitab <em>Al Adzkar </em>(1/107) :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Disunnahkan menggabung beberapa doa istiftah, dalam shalat yang sendirian. Atau juga bagi imam, bila diizinkan oleh makmum. Jika makmum tidak mengizinkan, maka jangan membaca doa yang terlalu panjang. Bahkan sebaiknya membaca yang singkat. Imam An Nawawi nampaknya mengisyaratkan hadits:<br />
<h3 style="text-align: right;">إذا أم أحدكم الناس فليخفف . فإن فيهم الصغير والكبير والضعيف والمريض . فإذا صلى وحده فليصل كيف شاء</h3>
<p>“Jika seseorang menjadi imam, hendaknya ia ringankan shalatnya. Karena di barisan makmum terdapat anak kecil, orang tua, orang lemah, orang sakit. Adapun jika shalat sendirian, barulah shalat sesuai keinginannya” (HR.Muslim 467)</li>
<li style="text-align: justify;">Jika datang sebagai makmum masbuk, tetap membaca doa istiftah. Kecuali jika sudah akan segera ruku’, dan khawatir tidak sempat membaca Al Fatihah. Jika demikian keadaannya, sebaiknya tidak perlu membaca istiftah, namun berusaha menyelesaikan membaca Al Fatihah. Karena membaca Al Fatihah itu rukun shalat.</li>
<li>Jika mendapati imam tidak sedang berdiri, misalnya sedang rukuk, atau duduk di antara dua sujud atau sedang sujud, maka makmum langsung mengikuti posisi imam dan membaca sebagaimana yang dibaca imam. Tidak perlu membaca doa istiftah ketika itu.</li>
<li style="text-align: justify;">Para ulama Syafi’iyyah berbeda pendapat mengenai anjuran membaca doa istiftah ketika shalat jenazah. Menurut An Nawawi, yang lebih tepat adalah tidak perlu membacanya, karena shalat jenazah itu sudah selayaknya ringan.</li>
<li>Membaca doa istiftah itu hukumnya sunnah, tidak wajib. Jika seseorang meninggalkannya, tidak perlu sujud sahwi.</li>
<li>Yang sesuai sunnah, doa istiftah dibaca dengan <em>sirr </em>(lirih). Jika dibaca dengan <em>jahr </em>(keras) hukumnya makruh, namun tidak membatalkan shalat.</li>
</ol>
<p>Demikian tulisan ringkas ini. Semoga bermanfaat.</p>
<h3 style="text-align: right;">والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين</h3>
<p>—</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama<br />
Sumber artikel www.muslim.or.id</p>
</div>
</article>
</div>
</section>
</section>
<p>&nbsp;</p>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Kumpulan Doa Istiftah</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/apa-itu-islam-iman-dan-ihsan" rel="bookmark">Apa itu Islam, Iman dan Ihsan</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/menyambut-idul-fithri" rel="bookmark">Menyambut Idul Fithri</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/tauhid-uluhiyyah" rel="bookmark">Tauhid Uluhiyyah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/hak-hak-pendidikan-anak-dalam-islam" rel="bookmark">Hak-Hak Pendidikan Anak Dalam Islam</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/biografi-%e2%80%98umar-bin-al-khaththab-wafat-23-h" rel="bookmark">Biografi ‘Umar bin al-Khaththab (wafat 23 H)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/karena-do%e2%80%99a-si-buta-yang-papa-mendapatkan-wanita-yang-sangat-cantik-jelita" rel="bookmark">Karena Do’a, Si Buta Yang Papa Mendapatkan Wanita Yang Sangat Cantik Jelita</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/sebab-sebab-terjadinya-kesyirikan" rel="bookmark">Sebab-Sebab Terjadinya Kesyirikan</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/bab-an-najaasaat" rel="bookmark">Bab an-Najaasaat</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/seuntai-kata-tentang-cinta" rel="bookmark">Seuntai Kata Tentang Cinta</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/surat-kepada-ibu" rel="bookmark">Surat Kepada Ibu</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/kumpulan-doa-istiftah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Taubat Seorang yang Menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Sesat</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/kisah-taubat-seorang-yang-menuduh-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab-sesat</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/kisah-taubat-seorang-yang-menuduh-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab-sesat#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 07:33:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sirah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=945</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh (wafat 1389 H) rahimahullah mengatakan: “Aku sekarang akan menyebutkan sebuah kisah tentang Abdurrahman al-Bakri, salah seorang penduduk kota Najd. Pada mulanya ia adalah salah seorang thalibul ‘ilmi (penuntut ilmu) yang belajar kepada pamannya, yaitu Syaikh Abdullah bin Abdullathif Alu Syaikh dan para syaikh yang lain. Kemudian beliau ingin membuka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2011/07/pengertian-sejarah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17" title="pengertian sejarah" src="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2011/07/pengertian-sejarah-300x225.jpg" alt="pengertian sejarah 300x225 Kisah Taubat Seorang yang Menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Sesat" width="300" height="225" /></a>Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh (wafat 1389 H) <em>rahimahullah</em> mengatakan:</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku sekarang akan menyebutkan sebuah kisah tentang Abdurrahman al-Bakri, salah seorang penduduk kota Najd.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada mulanya ia adalah salah seorang <em>thalibul ‘ilmi</em> (penuntut ilmu) yang belajar kepada pamannya, yaitu Syaikh Abdullah bin Abdullathif Alu Syaikh dan para syaikh yang lain. Kemudian beliau ingin membuka sebuah madrasah di Aman.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sana beliau mengajarkan tauhid dari biaya sendiri. Apabila harta yang dimilikinya telah habis, maka beliau mengambil barang dagangan dari seseorang dan pergi ke India. Terkadang beliau menghabiskan waktu selama setengah tahun di India.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh al-Bakri mengatakan:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Aku pernah berada di sisi sebuah masjid di India. Di sana terdapat seorang guru, yang mana apabila seusai mengajar mereka melaknat Ibnu Abdul Wahhab, yakni Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Apabila keluar masjid beliau melewatiku. Dan ia mengatakan: “Aku bisa berbahasa arab, akan tetapi aku ingin mendengarnya dari Orang Arab”. Lalu iapun minum air dingin di tempatku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasa sedih dengan apa yang telah dia dilakukan dalam ceramahnya. Lalu aku berbuat siasat dengan mengundangnya (ke tempatku) dan aku mengambil kitab <em>at-Tauhid</em>, aku cabut sampulnya dan aku letakkan di rak dalam rumahku sebelum dia datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika dia telah hadir, aku berkata kepadanya: “Apakah anda mengizinkan aku untuk membawakan semangka (ke sini)?”. Lalu akupun pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku kembali, ternyata di sedang membacanya dan menggerak-gerakkan kepalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia berkata: “Karya siapakah kitab ini? Judul-judulnya mirip dengan judul-judul kitab al-Bukhari, ini demi Allah judul-judul al-Bukhari.”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menjawab: “Aku tidak tahu!”. Lalu aku katakan kepadanya: “Bagaimana sekiranya kita pergi ke Syaikh al-Ghazawi untuk menanyakan masalah ini,” yang mana beliau adalah seorang pemilik sebuah perpustakaan, dan beliau telah memiliki bantahan terhadap kitab <em>Jami’ al-Bayan</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kamipun masuk kepada beliau dan aku berkata kepada al-Ghazawi: “Aku memiliki beberapa lembaran. Syaikh ini menanyakan kepadaku siapakah yang menulis kitab ini? Akupun tidak tahu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Ghazawi paham dengan keinginanku. Lalu beliau memerintahkan seseorang untuk mendatangkan kitab <em>Majmu’ah at-Tauhid</em> (kumpulan kitab tauhid), lalu dibawakan kepada beliau, kemudian mencocokkan antara keduanya, lalu beliau mengatakan: “Ini adalah karya Muhammad bin Abdul Wahhab.”</p>
<p style="text-align: justify;">Orang Alim dari India tadi marah dan mengatakan dengan suara yang tinggi: “Orang Kafir itu …!!!”</p>
<p style="text-align: justify;">Kamipun diam, diapun lalu diam sejenak. Sesaat kemudian kemarahannya mereda dan ia pun ber<em>istirja’</em> (mengucapkan <em>innalillah wa inna ilaihi raaji’un</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Ia berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Apabila kitab ini adalah karya beliau, maka sungguh kami telah menzhaliminya”.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kemudian beliaupun setiap hari mendoakan untuk Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab dan murid-muridnya pun juga mendoakanya bersamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu tersebarlah murid-muridnya di India. Apabila mereka selesai membaca, mereka mendoakan untuk Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab.”</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Ashim Muhtar Arifin</p>
<p style="text-align: justify;">Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 60, hal. 57-58</p>
<p style="text-align: justify;">sumber : majalahislami.com</p>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Kisah Taubat Seorang yang Menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Sesat</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/karena-do%e2%80%99a-si-buta-yang-papa-mendapatkan-wanita-yang-sangat-cantik-jelita" rel="bookmark">Karena Do’a, Si Buta Yang Papa Mendapatkan Wanita Yang Sangat Cantik Jelita</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/ustadz-faisal-rahman-lc" rel="bookmark">Ustadz Faisal Rahman, Lc</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/biografi-%e2%80%98umar-bin-al-khaththab-wafat-23-h" rel="bookmark">Biografi ‘Umar bin al-Khaththab (wafat 23 H)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/ustadz-muhammad-elvi-syam-lc-ma" rel="bookmark">Ustadz Muhammad Elvi Syam, Lc. MA</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/umar-bin-abdul-aziz-dan-lilin-negara" rel="bookmark">Umar bin Abdul Aziz dan Lilin Negara</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kisah-hijrah-ummul-mu%e2%80%99minin-ummu-salamah" rel="bookmark">Kisah Hijrah Ummul Mu’minin Ummu Salamah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/studi-kritis-atas-kesesatan-buku-%e2%80%9csejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi%e2%80%9d" rel="bookmark">Studi Kritis Atas Kesesatan Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi”</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/utsman-bin-%e2%80%98affan-wafat-35-h" rel="bookmark">Utsman bin ‘Affan (Wafat 35 H)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kunci-sukses-bermu%e2%80%99amalah" rel="bookmark">Kunci Sukses Bermu’amalah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/fitnah-ibnu-batutah-terhadap-ibnu-taimiyah" rel="bookmark">Fitnah Ibnu Batutah Terhadap Ibnu Taimiyah</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/kisah-taubat-seorang-yang-menuduh-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab-sesat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (3)</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jan 2012 10:43:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi timur tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=939</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran 3 Unjuk Rasa = Awal Kekacauan &#38; Bencana Ketika badai unjuk rasa berhembus, orang-orang berhamburan keluar rumah mengekspresikan keinginannya. Mereka berkumpul dalam aksi longmarch besar-besaran. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya ikut serta. Walaupun awalnya sekedar unjuk rasa damai, tetap saja kerusuhan sering kali mewarnai. Mengapa demikian? Simaklah pendapat seorang ‘alim rabbani yang namanya tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: justify;" align="center">Pelajaran 3</h3>
<h4 style="text-align: justify;" align="center">Unjuk Rasa = Awal Kekacauan &amp; Bencana</h4>
<p style="text-align: justify;">Ketika badai unjuk rasa berhembus, orang-orang berhamburan keluar rumah mengekspresikan keinginannya. Mereka berkumpul dalam aksi longmarch besar-besaran. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya ikut serta. Walaupun awalnya sekedar unjuk rasa damai, tetap saja kerusuhan sering kali mewarnai. Mengapa demikian? Simaklah pendapat seorang ‘alim rabbani yang namanya tak asing di telinga kita. Beliau lah ulama yang digelari oleh Syaikh Al Albani -<em>rahimahullah</em>- sebagai <em>faqiehuz zamaan</em>, alias ahli fiqih zaman ini. Beliaulah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -<em>rahimahullah</em>-.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada yang bertanya kepada beliau: “Kalau penguasanya tidak berhukum dengan syariat Allah, lalu ia membolehkan sebagian kalangan untuk melakukan unjuk rasa independen berdasarkan aturan yang ditetapkan oleh si penguasa, kemudian mereka (para demonstran) melakukannya; kemudian bila ada yang mengingkari perbuatan mereka, mereka mengatakan: “Kami tidak melawan penguasa, dan apa yang kami lakukan selaras dengan pendapat penguasa”. Apakah hal tersebut dibolehkan secara syar’i jika mengandung hal-hal yang bertentangan dengan nas (dalil)?</p>
<p style="text-align: justify;">Jawab beliau, “Kamu hendaknya mengikuti para salaf. Kalau memang demonstrasi ada di zaman salaf, berarti baik. Namun jika tidak ada di zaman mereka, berarti jelek. Tidak diragukan sedikitpun bahwa demonstrasi itu jelek, sebab ia menimbulkan kekacauan, baik dari pihak demonstran maupun yang lain. Bahkan terkadang menimbulkan tindak aniaya terhadap kehormatan, harta benda, dan jiwa. Karena mereka yang tenggelam dalam kekacauan tadi, seperti pemabuk yang tidak sadar terhadap ucapan dan perbuatannya. Jadi, demonstrasi itu jelek semua, baik diizinkan oleh penguasa maupun tidak. Adanya sebagian penguasa yang mengizinkan demonstrasi sebenarnya hanyalah basa-basi, sebab jika hati kecilnya ditanya ia pasti sangat membencinya. Namun ia berusaha menampakkan dirinya sebagai orang yang ‘demokrat’, dan memberi kebebasan bagi rakyat… ini semuanya bukanlah sikap para salaf”.<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau lah ada yang mengatakan bahwa fatwa ini tidak berlaku bagi demonstrasi damai, maka jawabnya ialah bahwa walaupun demonstrasi itu awalnya damai, namun sering berujung pada kekerasan dan tindak anarkis. Sebab para demonstran belum tentu satu tujuan, dan tidak memiliki satu komando… mereka juga tidak bisa menolak orang lain yang hendak bergabung, dan bahkan mungkin tidak saling mengenal satu sama lain. Dalam kondisi seperti ini, provokator sangat mudah menyusup untuk menyulut fitnah. Apalagi jika mereka keluar dengan emosi lalu mendapat perlakuan dan sikap yang tak sesuai keinginan, maka bukan saja kekacauan yang terjadi, namun perang saudara dan pertumpahan darah.</p>
<p style="text-align: justify;">Revolusi Tunisia awalnya sekedar unjuk rasa akibat meroketnya harga sembako dan solidaritas terhadap Bouazizi yang membakar dirinya. Akan tetapi, unjuk rasa hari itu berujung pada baku hantam antara aparat dan ratusan pengunjuk rasa, penangkapan puluhan demonstran, dan pengrusakan sejumlah fasilitas umum. Kemudian berakhir setelah menyisakan 219 korban tewas.[2]</p>
<p style="text-align: justify;">Revolusi Mesir sampai hari ini belum benar-benar berakhir. Menurut amnesty internasional, jumlah korban tewas sejak meletusnya revolusi tanggal 25 Januari 2011, minimal mencapai 840 orang[3]. Dan sampai hari ini aksi demonstrasi masih terus terjadi dan terus menelan korban jiwa.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang lebih parah lagi adalah revolusi Libya. Jenderal Abdul Mun’im Al Hauny selaku wakil Majelis Peralihan Nasional Libya di Kairo, pernah menyatakan bahwa revolusi melawan Gaddafi telah menelan korban 35 ribu orang tewas, puluhan ribu orang luka-luka, dan kerugian material atas rusaknya fasilitas dan infrastruktur umum lebih dari 240 milyar Dollar! Hal ini beliau jelaskan dalam wawancara dengan harian <em>Al Masry Al Youm</em> tanggal 11 Agustus 2011. Artinya, saat itu Gaddafi belum benar-benar terguling, sebab ia baru terbunuh tanggal 20 Oktober 2011.[4]</p>
<p style="text-align: justify;">Belum lagi dengan Revolusi Yaman dan Suriah. Semuanya membuktikan bahwa demonstrasi = awal berbagai kekacauan dan bencana. Demonstrasi dan unjuk rasa, termasuk bentuk <em>khuruj</em>, alias pemberontakan terhadap penguasa[5]. Kalau penguasa tersebut seorang muslim, maka tindakan ini jelas haram secara syar’i. Simaklah hadits berikut yang sarat dengan pelajaran berharga…</p>
<p style="text-align: justify;">Abdurrahman bin Abdirabbil Ka’bah menceritakan, “Aku pernah masuk ke masjidil haram dan kudapati Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash sedang duduk di balik bayang-bayang Ka’bah, sedangkan orang-orang berkumpul di sekelilingnya. Aku pun menghampiri mereka dan duduk di dekatnya. Ia lantas bercerita, “Kami pernah bersama Rasulullah dalam suatu safar. Kami singgah di sebuah tempat, lalu di antara kami ada yang membenahi tenda, ada yang bermain panah, dan ada yang mengawasi hewan tunggangannya. Tiba-tiba pesuruh Rasulullah memanggil kami untuk shalat berjama’ah. Maka kami segera mendatangi Rasulullah untuk shalat, lalu selepas shalat beliau bersabda:</p>
<h3 style="text-align: right;" dir="RTL">إنه لم يكن نبي قبلي إلا كان حقا عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم وينذرهم شر ما يعلمه لهم، وإن أمتكم هذه جعل عافيتها في أولها وسيصيب آخرها بلاء وأمور تنكرونها، وتجيء فتنة فيرقق بعضها بعضا، وتجيء الفتنة فيقول المؤمن هذه مهلكتي ثم تنكشف، وتجيء الفتنة فيقول المؤمن هذه هذه؛ فمن أحب أن يزحزح عن النار ويدخل الجنة، فلتأته منيته وهو يؤمن بالله واليوم الآخر وليأت إلى الناس الذي يحب أن يؤتى إليه، ومن بايع إماما فأعطاه صفقة يده وثمرة قلبه فليطعه إن استطاع، فإن جاء آخر ينازعه فاضربوا عنق الآخر.</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada seorang Nabi pun sebelumku, melainkan ia wajib membimbing umatnya kepada sesuatu yang paling baik bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari sesuatu yang paling buruk untuk mereka. Sesungguhnya keselamatan umat ini dijadikan bagi generasi awalnya, sedangkan generasi akhirnya akan terkena berbagai bala dan perkara yang kalian ingkari. Fitnah pun datang melanda, dan sebagian fitnah seakan meringankan fitnah lainnya. Lalu datanglah fitnah besar, hingga orang beriman mengatakan bahwa inilah kebinasaannya; lalu fitnah tersebut berakhir. Kemudian datang fitnah yang lebih besar lagi, maka si mukmin berkata: “Ini dia… ini dia”. Maka barangsiapa ingin dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan Surga, hendaklah ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir; dan hendaklah memperlakukan orang-orang dengan perlakuan yang ia sukai bagi dirinya sendiri. Barangsiapa telah membaiat seorang pemimpin dengan tulus ikhlas, maka hendaklah ia taat kepadanya selagi mampu. Bila ada orang lain yang hendak merebut kepemimpinannya, maka bunuhlah orang lain tersebut”.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka kudekati beliau dan kukatakan, “Kusumpah engkau demi Allah. Benarkah ini semua kau dengar dari Rasulullah?” tanya Abdurrahman. Maka ia menunjuk kedua telinga dan dadanya, seraya berkata: “Aku mendengarnya dengan kedua telingaku, dan memahaminya dengan hatiku”. Jawab Abdullah bin ‘Amru.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Lalu bagaimana dengan sepupumu Mu’awiyah yang menyuruh kami agar memakan harta kami secara batil, dan saling berbunuhan? Padahal Allah berfirman:<em></em></p>
<h3 style="text-align: right;" dir="RTL">يا أيها الذين آمنوا لا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل إلا أن تكون تجارة عن تراض منكم ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما !</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta sesama kalian secara batil, kecuali dengan jual-beli atas dasar kerelaan. Jangan pula kalian saling membunuh, sesungguhnya Allah amat pengasih terhadap kalian (An Nisa’: 29).</p>
<p style="text-align: justify;">Abdullah bin ‘Amru pun terdiam sejenak, lalu berkata: “Taatilah dia dalam hal yang bersifat taat kepada Allah, dan maksiatilah dia dalam hal yang bersifat maksiat kepada Allah”. (HR. Muslim no 1844).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits lain Rasulullah pernah ditanya,</p>
<h3 style="text-align: right;" dir="RTL">يا نبي الله أرأيت إن قامت علينا أمراء يسألونا حقهم ويمنعونا حقنا فما تأمرنا فأعرض عنه ثم سأله فأعرض عنه ثم سأله في الثانية أو في الثالثة فجذبه الأشعث بن قيس وقال اسمعوا وأطيعوا فإنما عليهم ما حملوا وعليكم ما حملتم</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Wahai Nabiyullah, bagaimana menurutmu jika kami dikuasai oleh para pemimpin yang menuntut hak mereka, namun merampas hak kami. Apa yang engkau perintahkan atas kami? Nabi pun berpaling darinya. Lalu beliau ditanya lagi kedua atau ketiga kalinya, maka Asy’ats bin Qais menarik baju si penanya, lalu Nabi menjawab: <em>“Dengarlah dan taatilah para pemimpin kalian, karena mereka bertanggung jawab atas kewajibannya, dan kalian bertanggung jawab atas kewajiban kalian”.</em> (HR. Muslim no 1846).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dalam perang Hunain, Rasulullah berhasil mengalahkan suku Hawazin dan meraih ghanimah yang demikian besar. Beliau lantas membagi-bagikannya kepada suku Quraisy yang baru masuk Islam dan kebanyakan dari mereka justru lari saat pertempuran. Akan tetapi, kaum Anshar yang begitu berjasa dan membela Rasulullah mati-matian, justru tidak diberi apa-apa. Sebagian dari mereka lantas mengeluhkan sikap Rasulullah tersebut, hingga akhirnya beliau berkhutbah di hadapan mereka dengan sangat mengesankan… lalu menutup khutbahnya dengan kata-kata:</p>
<h3 style="text-align: right;" dir="RTL">أفلا ترضون أن يذهب الناس بالأموال وترجعون إلى رحالكم برسول الله؟ فوالله لما تنقلبون به خير مما ينقلبون به. فقالوا: بلى يا رسول الله قد رضينا, قال: فإنكم ستجدون أثرة شديدة فاصبروا حتى تلقوا الله ورسوله فإني على الحوض, قالوا: سنصبر.</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Tidakkah kalian ridha bila orang-orang pulang membawa harta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah? Sungguh demi Allah, apa yang kalian bawa pulang lebih baik daripada apa yang mereka bawa pulang”. “Benar wahai Rasulullah, kami ridha”, jawab mereka. “Kalau begitu, nanti kalian akan melihat sikap mementingkan diri yang luar biasa dari para penguasa, maka bersabarlah hingga kalian menghadap Allah dan Rasul-Nya, sebab aku menanti kalian di telaga”, pesan Rasulullah. “Baiklah, kami akan bersabar”, jawab kaum Anshar. (HR. Muslim no 1059).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits-hadits di atas, Rasulullah telah berwasiat kepada umatnya secara umum, dan kaum Anshar secara khusus; bahwa kelak akan muncul para penguasa yang mementingkan kemaslahatan pribadi mereka, serta melakukan berbagai kezhaliman dan kemunkaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka (mayoritas penguasa tadi) mengesampingkan jasa-jasa kaum Anshar yang demikian besar, dan mengedepankan orang-orang yang tidak berjasa dalam Islam untuk memegang tampuk kekuasaan…</p>
<p style="text-align: justify;">Cobalah kita perhatikan sosok Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi. Siapa dia? Dari mana asal-usulnya? Apa jasa-jasanya terhadap Islam? Sungguh tak layak jika orang model Hajjaj menjadi gubernur Mekkah dan Madinah sejak tahun 73-75 H, padahal di sana banyak para sahabat dan tabi’in mulia …[6].</p>
<p style="text-align: justify;">Hajjaj lantas dipindah tugaskan ke Irak dan menjadi gubernur di sana selama 20 tahun. Banyak orang yang ‘tak sabar’ melihat kelakuannya. Sebagian dari mereka berpikir untuk melakukan kudeta… namun sebagian lagi menahan diri. Salah satu orang yang paling dibenci oleh Hajjaj adalah Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembantu setia Rasulullah selama 8 tahun ini pernah kena damprat dan caci maki oleh Hajjaj bin Yusuf !! Seorang tabi’in bernama Ali bin Zaid bin Jud’an menuturkan: Aku pernah berada di istana Hajjaj saat ia menginterogasi para pengikut Ibnul Asy’ats. Ketika Anas berdiri di hadapannya, Hajjaj berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">“Hei orang busuk yang tenggelam dalam berbagai fitnah. Sesekali kau di pihak Ali, kemudian di pihak Ibnu Zubeir, lalu di pihak Ibnul Asy’ats[7]?”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kamu akan kubunuh dan kukuliti laksana seekor biawak !!” celetuk Hajjaj.</p>
<p style="text-align: justify;">“Siapa yang Anda maksud wahai Amir ?” tanya Anas.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamulah yang kumaksud. Semoga Allah menulikan telingamu !” bentak Hajjaj.</p>
<p style="text-align: justify;"> “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun” kata Anas. Ia pun keluar dari sana lalu mengatakan: “Demi Allah, andai saja aku tak ingat akan anak-anakku, dan khawatir dia (Hajjaj) menganiaya mereka, niscaya akan kuucapkan kepadanya kata-kata yang membuatnya pasti membunuhku” lanjut Anas[8].</p>
<p style="text-align: justify;">Kendatipun demikian, Anas radhiyallahu ‘anhu tidak membalas kekurang ajaran tersebut dengan sikap yang sama, walaupun ia sangat berhak membela diri dari tuduhan ini. Anas lalu menyurati Abdul Malik bin Mirwan selaku khalifah yang mengangkat Hajjaj sebagai gubernur Irak, dan mengeluhkan sikap Hajjaj yang kurang ajar tadi.[9]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam versi lainnya, Imam Al Hakim meriwayatkan kisah ini dari Simak bin Musa, katanya:</p>
<h3 style="text-align: right;" dir="RTL">لما دخل أنس رضي الله عنه على الحجاج أمر بوجى ء عنقه ثم قال يا أهل الشام أتعرفون هذا هذا خادم رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم قال أتدرون لم وجأت عنقه قالوا الأمير أعلم قال إنه كان بين البلاء في الفتنة الأولى وغاش الصدر في الفتنة الآخرة …</h3>
<p style="text-align: justify;">“Saat Anas menghadap Hajjaj, ia menyuruh agar lehernya ditonjok! Hajjaj lantas berkata: “Wahai warga Syam, apakah kalian mengenal orang ini? Dia adalah pembantu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Tahukah kalian mengapa kutonjok lehernya?”. Tanya Hajjaj. “Amir-lah yang lebih tahu” jawab mereka. “Itu karena ia berada di antara bencana yang terjadi dalam fitnah pertama, dan berkhianat dalam fitnah yang terakhir”.[10]</p>
<p style="text-align: justify;">Hajjaj konon berkeliling mempertontonkan Anas kepada pasukannya. Anas lantas menyurati Abdul Malik bin Marwan dengan mengatakan: “Bagaimana menurutmu jika pembantu Nabi Musa mendatangi kalian, apakah kalian akan menyakitinya?”. Maka Abdul Malik menyurati Hajjaj dan menyuruhnya agar membiarkan Anas bin Malik untuk tinggal di bumi mana saja yang dia suka. Ia juga menulis surat kepada Anas dan mengatakan “Tidak ada seorang pun yang berkuasa atasmu selainku”.[11]</p>
<p style="text-align: justify;">ِMeskipun demikian menyakitkan perlakuan Hajjaj terhadap Anas, Anas tetap saja tidak memberontak atau mengajak orang-orang untuk ‘berdemonstrasi’ menuntut agar Hajjaj dicopot dari jabatannya…. Dan jangan lupa, bahwa status beliau adalah pembantu setia Rasulullah dan satu dari segelintir sahabat Nabi yang masih hidup… bahkan umur beliau kala itu telah demikian lanjut, sebab beliau wafat tahun 93 H dalam usia 103 tahun menurut pendapat paling shahih, sedangkan fitnah Ibnul Asy’ats berakhir pada tahun 84 H. Ini berarti bahwa usia beliau saat dicaci-maki oleh Hajjaj adalah 90 tahun atau lebih…</p>
<p style="text-align: justify;">Kendatipun demikian, simaklah bagaimana sikap beliau terhadap warga Basrah yang mengeluhkan perilaku Hajjaj ini. Salah seorang tabi’in murid Anas bin Malik yang bernama Zubeir bin Adiy mengatakan,</p>
<h3 style="text-align: right;" dir="RTL">أتينا أنس بن مالك نشكو إليه ما نلقى من الحجاج، فقال: اصبروا فإنه لا يأتي عليكم عام أو زمان أو يوم إلا والذي بعده شر منه، حتى تلقوا ربكم عزوجل، سمعته من نبيكم صلى الله عليه وسلم</h3>
<p style="text-align: justify;">Kami mendatangi Anas dalam rangka mengeluhkan kezhaliman Hajjaj terhadap kami. Maka kata Anas, “Sabarlah kalian, sebab tidaklah kalian melalui suatu hari atau zaman, melainkan yang datang setelahnya lebih jelek dari itu. (Demikian seterusnya) sampai kalian menghadap Allah (mati)”. Inilah yang kudengar dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.[12]</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula sikap Imam Hasan Al Bashri yang merupakan musuh bebuyutan Hajjaj dan berulang kali hendak dihabisinya. Hasan yang notabene adalah murid Anas bin Malik juga bersikap sebagaimana ‘ustadz’-nya yang tidak setuju terhadap khuruj.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayyub As Sikhtiyani mengatakan bahwa Hajjaj berulang kali berniat membunuh Hasan Al Basri, akan tetapi Allah melindunginya. Hasan juga beberapa kali terlibat perdebatan dengan Hajjaj. Pun begitu, Hasan tidak termasuk orang yang membolehkan khuruj (pemberontakan) terhadap Hajjaj. Ia bahkan melarang pengikut Ibnul Asy’ats untuk memberontak. Hasan mengatakan bahwa Hajjaj merupakan hukuman, maka janganlah kalian hadapi hukuman Allah dengan pedang. Kalian harus bersabar, tenang, dan merendahkan diri kepada Allah”.[13]</p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Sya’bi berkata, “Akan datang suatu masa di mana orang-orang mendoakan kebaikan bagi Hajjaj”. Dalam riwayat lain beliau mengatakan, “Demi Allah, jika kalian berumur panjang; kalian akan mengharapkan kembalinya Hajjaj”.[14]</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, terjadinya pemberontakan Ibnul Asy’ats yang didukung oleh banyak ulama Irak saat itu, merupakan kesalahan besar yang mengakibatkan malapetaka. Simaklah komentar Ibnu Katsir setelah menyitir tragedi menewaskan sekitar 130 ribu muslim ini. Beliau mengatakan,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Sungguh aneh bin ajaib ketika mereka (para fuqaha’ Irak) membaiatnya (yakni Abdurrahman ibnul Asy’ats) sebagai amirul mukminin, padahal ia bukan berasal dari Quraisy. Ia hanyalah seorang lelaki suku Kindah asal Yaman. Sedangkan para sahabat saat peristiwa saqifah Bani Sa’idah telah sepakat, bahwa yang berhak menjadi amirul mukminin hanyalah suku Quraisy. Abu Bakar Ash Shiddiq bahkan menegaskan hal tersebut dengan menyitir sebuah hadits. Saat kaum Anshar menuntut agar mreka memiliki amir di samping amir kaum Muhajirin, Abu Bakar menolak tuntutan tersebut. Bahkan Abu Bakar sempat mencambuk Sa’ad bin Ubadah yang awalnya menyerukan hal tersebut, namun kemudian rujuk darinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lantas bagaimana dibenarkan bila mereka -para fuqaha’ Irak- menyikapi seorang khalifah yang telah dibaiat sebagai pemimpin kaum muslimin, lantas mencopotnya; padahal ia berasal dari suku Quraisy asli? Lalu di saat yang sama mereka membaiat seorang lelaki suku Kindah padahal baiat tersebut tidak disepakati oleh ahlul halli wal ‘aqdi? Karena ini merupakan kesalahan dan kekeliruan, maka terjadilah bencana besar yang menewaskan banyak korban… inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun”.[15]</p>
</blockquote>
<div><br clear="all" /></p>
<p style="text-align: justify;"> sumber : basweidan.com</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align: justify;">
<p>[1] Lihat: Liqaa’ al Baabil Maftuh, no 179.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[2] Lihat: http://ar.wikipedia.org/wiki/الثورة_التونسية</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[3] Lihat: http://www.aljazeera.net/NR/EXERES/A3A3FFB0-69C1-40FF-8261-3223AC997B98.htm</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[4] Lihat: http://www.dw-world.de/dw/article/0,,15310470,00.html</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[5] Sebagian kalangan menganggap bahwa pemberontakan yang tidak boleh dilakukan ialah pemberontakan bersenjata. Namun yang benar ialah bahwa pemberontakan (khuruj) bisa terjadi dengan keyakinan maupun perbuatan. Contoh <em>khuruj</em> dengan keyakinan (pemikiran) ialah dengan tidak mau berbaiat, dan meyakini bolehnya atau wajibnya <em>khuruj</em> terhadap penguasa muslim. Para salaf sering mencela orang yang khuruj dengan cara seperti ini dengan istilah ‘kaana yara as-saif’.</p>
<p>Sedangkan jenis kedua, ialah orang yang mengangkat senjata melawan pemimpinnya. Seperti dengan berkumpul di suatu tempat dengan maksud melengserkan pemimpin atau menggantinya, atau dalam rangka membikin kekacauan dan fitnah yang melaluinya si penguasa akan terbunuh atau disingkirkan. Artinya, semua perbuatan yang mengarah kepada pemberontakan, atau berusaha membunuh dan melengserkan penguasa, termasuk kategori khuruj yang kedua.</p>
<p>Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa khuruj juga bisa terjadi lewat ucapan. Yaitu bila ia mengatakan sesuatu yang berakibat pada terjadinya pemberontakan. Namun jika ia mengatakan sesuatu dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar sesuai aturan syar’i tanpa menimbulkan fitnah; maka tidak dianggap sebagai khuruj (lihat: Syarh Aqidah Ath Thahawiyyah oleh Syaikh Shalih Alusy Syaikh).</p>
<p>Contoh orang-orang yang dikritik karena berpemikiran khawarij ialah: Hasan bin Shalih bin Hay, Ali bin Abi Thalhah, ‘Imran bin Dawar Al Qaththan, Muhammad bin Rasyid Al Makhuly, dan Imam Abu Hanifah.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[6] Lihat: Tariekhul Islam 2/759-764. Para sahabat yang masih hidup saat Hajjaj berkuasa di Haramain contohnya: Abu Sa’id Al Khudri, Rafi’ bin Khadiej, dan Salamah bin Akwa’ mereka semua wafat th 74 H. Kemudian ‘Irbadh bin Sariyah, dan Abu Tsa’labah Al Khusyani (keduanya wafat th 75 H). Sedangkan yang tetap hidup hingga Hajjaj pindah ke Irak, adalah Jabir bin Abdillah dan Zaid bin Khalid Al Juhani (keduanya wafat th 78 H).  Hajjaj lantas menjadi gubernur Irak selama 20 tahun kemudian, padahal di sana terdapat sahabat terkenal Anas bin Malik Al Anshari, dan sejumlah tokoh Tabi’in seperti Hasan Al Basri, Sa’id bin Jubair, Asy Sya’bi, dll.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[7]  Ali bin Abi Thalib, Ibnu Zubeir, dan Ibnul Asy’ats adalah orang-orang yang pernah berseteru dengan Bani Umayyah, sedangkan Hajjaj adalah kaki tangan Bani Umayyah yang demikian loyal, sehingga memusuhi setiap orang yang dianggap berseberangan dengan ‘majikannya’.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[8] Kisah ini diriwayatkan oleh At Thabrani dlm Al Mu’jamul Kabir (no 704) dan Ibnu Asakir dlm Tarikh Dimasyq (9/372) dengan sanad yang hasan hingga Ali bin Zaid bin Jud’an. Ibn Jud’an adalah orang yang jujur namun lemah hafalannya. Kisah ini juga diriwayatkan oleh Mu’afa bin Zakariya dlm Al Jalis As Shalih (3/151) dari Jalur Hisyam bin Muhammad bin Sa-ib Al Kalbi, dari ‘Awanah bin Hakam Al Kalbi dengan redaksi yang mirip. Semua perawi dalam sanad yang kedua ini tergolong tsiqah kecuali Hisyam Al Kalbi yang dianggap matruk walaupun hafalannya sangat luas dan tergolong ahli sejarah.</p>
<p>Bila diperhatikan, kelemahan yang ada pada Ibnu Jud’an bisa ditoleransi mengingat ia menyaksikan langsung peristiwa tersebut, dan hal ini lebih melekat pada ingatan daripada sekedar mendengar. Apalagi kisah yang senada juga diriwayatkan oleh ahli sejarah terkenal -walaupun dianggap matruk dalam hal hadits-, yaitu Hisyam Al Kalbi. Intinya kisah ini bisa diterima. Al Mizzi juga meriwayatkan kisah ini dari jalur Ibnu Jud’an dengan lafazh <em>jazm</em> (Qaala), yang berarti bahwa sanad kisah ini <em>laa ba’sa bihi</em>(tidak bermasalah) menurut beliau (lihat: Tahdzibul Kamal 3/373).</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[9] Lihat kisah selengkapnya dalam Al Jalis Ash Shalih (3/151-153) dan Tarikh Dimasyq</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[10] Al-Mustadrak 3/574, dengan sanad yang hasan. Fitnah yang pertama maksudnya peperangan antara Ali dengan Mu’awiyah, atau antara pasukan Syam yang dipimpin oleh Hajjaj melawan Ibnu Zubeir. Sedangkan fitnah yang terakhir maksudnya adalah pemberontakan Ibnul Asy’ats beserta warga Irak melawan Bani Umayyah.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[11] Diriwayatkan oleh Al Hakim dlm Mustadrak-nya dengan sanad yang sama, dari penuturan Muhammad bin Mughirah. Menurut  Hisyam Al Kalbi, surat Anas terhadap Abdul Malik bunyinya adalah: “Bismillahirrahmanirrahiem, untuk Abdul Malik bin Marwan dari Anas bin Malik… Amma ba’du, Hajjaj telah mengucapkan kata-kata keji dan memperdengarkan sesuatu yang munkar kepadaku, padahal aku tidaklah seperti itu. Maka tahanlah dia dariku sebab aku merupakan pembantu serta sahabat Rasulullah. Wassalaam” (Lihat: Al Bidayah wan Nihayah 9/153).</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[12] HR. Ahmad (no 12838) sebagaimana lafazh di atas, dan Bukhari (no 6657).</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[13] Al Bidayah wan Nihayah 9/155.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[14] Idem.</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;">[15] Al Bidayah wan Nihayah 9/66.</p>
</div>
</div>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (3)</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-1" rel="bookmark">Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (1)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-2" rel="bookmark">Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (2)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/berhujjah-dengan-hujjahnya-para-s" rel="bookmark">Berhujjah Dengan Hujjahnya Para Shahabat</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-5" rel="bookmark">Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (5)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/sejarah-agama-syiah" rel="bookmark">Sejarah Agama Syi&#8217;ah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kekuasaan-dan-imarah-di-kalangan-bangsa-arab-2" rel="bookmark">Kekuasaan dan Imarah di Kalangan Bangsa Arab (2)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/hukum-parcel-bagi-pejabat" rel="bookmark">Hukum Parcel Bagi Pejabat</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/maulud-nabi-dalam-timbangan-sejarah" rel="bookmark">Maulud Nabi Dalam Timbangan Sejarah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/biografi-%e2%80%98umar-bin-al-khaththab-wafat-23-h" rel="bookmark">Biografi ‘Umar bin al-Khaththab (wafat 23 H)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4" rel="bookmark">Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (4)</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

