<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Media Muslim</title>
	<atom:link href="http://www.mediamuslim.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.mediamuslim.org</link>
	<description>Majalah Muslim Online</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 07:00:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (4)</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 06:45:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=1008</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran 4 Jangan Paksa Rakyat Untuk Fakir dan Kafir Sekaligus[1] Atas pengawasan negara-negara Barat, Prancis berhasil ‘menciptakan’ Habeeb Bourgiba sebagai presiden Tunisia pertama tahun 1956. Ia kembali ke negaranya bak pahlawan kemerdekaan, setelah menumbangkan kekuasaan monarki Muhammad Amin Bay, dan mengumumkan berdirinya Republik Tunisia. Bourgiba tak lupa membayar ‘hutang budi’ tadi kepada Prancis dan Barat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: justify;" align="center">Pelajaran 4</h3>
<h3 style="text-align: justify;" align="center">Jangan Paksa Rakyat Untuk Fakir dan Kafir Sekaligus[1]</h3>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="https://encrypted-tbn1.google.com/images?q=tbn:ANd9GcS9kIp5d4n4jELAkg5av-iQr220SSLn-5QcLFzULlxOu8hH1p1t" alt=" Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (4) " width="227" height="222" title="Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (4) " />Atas pengawasan negara-negara Barat, Prancis berhasil ‘menciptakan’ Habeeb Bourgiba sebagai presiden Tunisia pertama tahun 1956. Ia kembali ke negaranya bak pahlawan kemerdekaan, setelah menumbangkan kekuasaan monarki Muhammad Amin Bay, dan mengumumkan berdirinya Republik Tunisia.</p>
<p style="text-align: justify;">Bourgiba tak lupa membayar ‘hutang budi’ tadi kepada Prancis dan Barat, dengan merevolusi syariat Islam. Melalui majalah <em>al-Ahwaal asy-Syakhsiyyah</em>, ia membatalkan sejumlah hukum syar’i yang baku. Yang paling terkenal di antaranya ialah larangan berpoligami. Poligami dianggap sebagai tindak kriminal, sedangkan pelacuran dibolehkan dan bahkan dilindungi undang-undang !!</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika pemerintah Tunisia menaikkan harga roti tahun 1984, terjadilah ‘revolusi roti’. Bourgiba memanggil pulang dubes-nya di Warsawa-Polandia, yang bernama Zein el-Ebidin Ben Ali. Ben Ali diangkat sebagai Kepala keamanan nasional, lalu menjadi Mendagri, dan kemudian dilantik sebagai Perdana Menteri tahun 1987, hingga akhirnya mengkudeta Bourgiba sebulan kemudian!</p>
<p style="text-align: justify;">Saya masih ingat bahwa di awal kekuasaannya, Ben Ali sering menyiarkan adzan dari Masjidil Haram Mekkah, melalui televisi Tunisia. Orang-orang yang tidak mengenalnya pun menyambut hangat ‘kebijakan’ ini, dan menganggapnya sebagai ‘pengganti baik’ sang diktator Bourgiba.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika itu, kami masih mahasiswa. Ada seorang kyai sepuh yang demikian faham akan muslihat para tiran berkata, “Jangan terpedaya olehnya (Ben Ali), sebab dia ciptaan Prancis. Ia akan menjadi seperti pendahulunya kalau tidak lebih jahat”. Ternyata, dugaan pak Kyai tadi benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang diktator terus melenggang dengan segala kezhaliman dan kesewenang-wenangannya selama 23 tahun. Ia terus-menerus memerangi Islam, berlaku otoriter, dan mencekik rakyatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari Jumat 11 Muharram 1432, seorang pemuda bernama Mohamed Bouazizi nekat membakar dirinya. Ia melakukan hal tersebut karena kesal setelah gerobak sayurnya disita aparat. Bouazizi yang menjadi pengangguran dan tak lagi mampu menafkahi keluarga, juga menerima tamparan dari seorang polisi wanita di depan umum. Tak ada seorang pun yang membelanya ketika itu. Tak lama berselang, ia pun wafat akibat luka bakarnya pada tanggal 29 Muharram.</p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan harinya, meletuslah sejumlah demonstrasi yang merayap bak api dalam sekam ke seantero Tunisia, yang kemudian menjadi revolusi nasional. Pasukan diturunkan atas perintah Sang Diktator agar memberangus dan membantai para demonstran. Akan tetapi, pasukan justru mengkhianatinya, dan berbalik melindungi rakyat dari oknum-oknum militer pendukung presiden.</p>
<p style="text-align: justify;">Ben Ali pun kabur setelah keadaan semakin kacau dan tak terkendali. Pemerintahan akhirnya dipegang oleh PM Mohamed Ghannouchi, sebagai presiden sementara. Ia mengumumkan kondisi darurat, memberlakukan jam malam sejak pukul 5 sore hingga 7 pagi, dan melarang berkumpulnya tiga orang atau lebih secara mutlak.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita, di penghujung tahun 2011, terpilihlah Moncef Marzouki sebagai presiden Tunisia ke-4. Presiden yang berlatar belakang dokter ini memang terkenal sebagai pejuang HAM. Akan tetapi sayang, dalam pidato kepresidenannya, ia memuji keberhasilan Bourgiba dkk. sebagai peletak asas-asas pemerintahan modern, dan memuji keberhasilannya dalam pemerataan pendidikan, <strong>pembebasan kaum wanita</strong>, dan perbaikan taraf hidup rakyat Tunisia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayang sekali… kepergian Ben Ali ternyata digantikan oleh orang yang berhaluan sekuler seperti ini. <em>Ala kulli haal</em>, takdir Allah pasti terjadi… dan pasti mengandung hikmah dan pelajaran di baliknya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Rakyat tak bisa dipaksa untuk fakir dan kafir sekaligus</h3>
<p style="text-align: justify;">Salah satu pelajaran penting dari peristiwa ini adalah, ketika rakyat dipaksa untuk menjadi kafir dan fakir sekaligus; mereka pasti memberontak kepada penguasa. Rakyat mungkin saja ‘sabar’ untuk dijauhkan dari agama selama dunianya terjamin. Atau dijauhkan dari dunia selama agamanya terpelihara. Namun ketika keduanya dirampas, maka mustahil ia tinggal diam…</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika revolusi Prancis berhasil merampas pengaruh agama Nasrani dalam kehidupan warganya, ia mengganti mereka dengan kemakmuran dunia, sehingga rakyat Eropa pun ‘puas’ dan ‘reda’. Andai saja revolusi tersebut tidak menjamin kemakmuran dunia mereka, pastilah mereka memberontak lagi… sebab manusia tidak akan sabar jika kehilangan agama dan dunianya sekaligus.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi, banyak penguasa kaum muslimin yang mempertaruhkan kesejahteraan rakyat demi kepentingan pribadi. Mereka memberi berbagai kemudahan kepada perusahaan asing untuk menggerogoti kekayaan bangsa dan negara. Lihatlah bagaimana para pemimpin menumpuk kekayaan di atas penderitaan rakyatnya… Dengan dalih kerjasama, tak sedikit aset negara yang mereka jual kepada para investor. Tak cukup sampai di situ, pemerintah bahkan membuka perdagangan bebas, sehingga barang-barang impor membanjiri pasar lokal. Akibatnya, produk-produk lokal pun tak laku. Seperti kata pepatah, sudah jatuh terhimpit tangga pula. Para pengrajin yang <em>ngos-ngosan</em> mencari sesuap nasi, kini terancam jadi pengangguran. Mereka merasa terjajah di negeri sendiri, dan ironisnya: oleh bangsa sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kondisi seperti ini, umat Islam bisa saja bersabar menghadapi himpitan ekonomi, selama agama mereka tak dinodai. Mereka yakin, bahwa walaupun hidupnya serba susah ketika di dunia, toh Allah menjanjikan surga bagi mereka di akhirat nanti. Namun jika agama mereka dinodai, lalu kekayaan mereka dirampas… maka apa fungsinya keberadaan penguasa? Yang akan muncul hanyalah revolusi dan amuk massa, persis seperti yang terjadi di Tunisia.</p>
<p style="text-align: justify;">Karenanya, gerakan <em>Sepilis</em>[2] yang didukung oleh AS dan Eropa di negara-negara mayoritas muslim, harus diwaspadai. Selama ini, mereka demikian leluasa menyebarkan pemikiran busuknya lewat berbagai media massa. Dan lagi-lagi, pemerintah terkesan mendiamkan, atau bahkan merestui.</p>
<p style="text-align: justify;">Para aktivis <em>Sepilis</em> sedikitpun tidak pernah memikirkan nasib rakyat. Bahkan nasib penguasa pun mereka pertaruhkan demi menyukseskan program jahat sang majikan. Mereka ibarat anjing peliharaan yang menggonggong demi kepentingan tuannya, dan bahkan siap mati demi yang memberi makan. Hal ini terbukti ketika Ben Ali yang selama ini berkhidmat demi kepentingan Prancis, justru ditolak untuk melarikan diri ke Prancis setelah terguling.</p>
<p style="text-align: justify;">Prancis sama sekali tak mau menerima Ben Ali yang selama 23 tahun menjadi tangan kanannya dalam mensekulerkan rakyat Tunisia. Subhaanallaah, alangkah hinanya anjing-anjing tersebut di mata tuannya ! Ben Ali yang selama ini berjuang memberangus semua atribut Islam, mulai dari jenggot, jilbab, poligami, hingga adzan; ternyata tak mendapat tempat aman untuk berlindung dari amukan rakyatnya… tidak di Eropa, tidak pula di Amerika… namun justru di negara yang menerapkan syariat Islam yang selama ini dimusuhinya, dan itu pun dengan syarat-syarat ketat.</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align: justify;">
<p>[1] Disadur dari artikel berjudul (سقط طاغوت تونس.. فهل يعتبر كل طاغوت!؟) oleh Ibrahim bin Muhammad Al Haqiel, dengan banyak perombakan. Beberapa pelajaran selanjutnya juga diilhami dari artikel ini.</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;">[2] Singkatan dari sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.</p>
<p style="text-align: justify;">sumber : basweidan.com</p>
</div>
</div>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (4) </h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-1" rel="bookmark">Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (1)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/perwira-nazi-ternyata-banyak-yang-masuk-islam" rel="bookmark">Perwira Nazi Ternyata Banyak Yang Masuk Islam</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-2" rel="bookmark">Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (2)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/pemimpin-yang-menipu" rel="bookmark">Pemimpin Yang Menipu</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3" rel="bookmark">Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (3)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/di-australia-muslimah-tidak-boleh-pakai-cadar" rel="bookmark">Di Australia, Muslimah Tidak Boleh Pakai Cadar.</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/wanita-atheis-mendapatkan-hidayah-di-usia-tua" rel="bookmark">Wanita Atheis Mendapatkan Hidayah Di Usia Tua</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/larangan-masyarakat-eropa-mengajarkan-pendidikan-agama-islam-di-sekolah" rel="bookmark">Larangan Masyarakat Eropa Mengajarkan Pendidikan Agama Islam Di Sekolah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/fenomena-tki-di-arab-saudi" rel="bookmark">Fenomena TKI di Arab Saudi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/sejarah-agama-syiah" rel="bookmark">Sejarah Agama Syi&#8217;ah</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persatuan Umat Islam</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/persatuan-umat-islam</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/persatuan-umat-islam#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 10:26:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=1004</guid>
		<description><![CDATA[Ahlus Sunnah mengajak kepada persatuan kaum Muslimin dan melarang mereka berpecah belah, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ….“ (QS. Ali ‘Imran: 103) Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2011/09/nasehat-syaikh-albani.jpg"><img class="size-medium wp-image-574 alignleft" title="nasehat syaikh albani" src="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2011/09/nasehat-syaikh-albani-225x300.jpg" alt="nasehat syaikh albani 225x300 Persatuan Umat Islam" width="225" height="300" /></a>Ahlus Sunnah mengajak kepada persatuan kaum Muslimin dan melarang mereka berpecah belah, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ….“ (QS. Ali ‘Imran: 103)</p>
<p style="text-align: justify;">Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat adzab yang berat” (QS. Ali ‘Imran: 105)</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“…. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan mereka merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar-Ruum: 31-32)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Berjama’ah (bersatu) adalah rahmat sedangkan berpecah-belah adalah adzab” HR. Ahmad (IV/278) dan Ibnu Abi’ Ashim (no.93).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ahlus Sunnah mengajak kepada persatuan yang dilandasi dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih. Bukan persatuan yang semu dan sesat. Ahlus Sunnah tidak menyeru kepada perkara-perkara yang dapat memecah belah persatuan kaum Muslimin. Persatuan yang dikehendaki ialah persatuan menurut pemahaman ulama Salaf dan orang-orang yang mengikuti manhaj (pedoman) mereka. Bukan menurut pemahaman pengikut hawa nafsu dan hizbiyyah. [1]</p>
<p style="text-align: justify;">Berkata Syaikh Shafiyur Rahman al-Mubarakfury, “Al-Hizb, secara bahasa adalah: ‘Golongan/kumpulan dari manusia, berkumpulnya manusia karena adanya sifat yang bersekutu atau kemaslahatan yang menyeluruh. Mereka terikat oleh ikatan ‘aqidah dan iman atau ikatan kekufuran, kefasikan, kemaksiatan atau terikat karena (adanya perasaan) kebangsaan da setanah air atau (ikatan) nasab/keturunan, pekerjaan, bahasa atau serupa dengan itu berupa ikatan-ikatan, kriteria, kemaslahatannya yang secara adat manusia mereka berkumpul di atasnya dan bersatu karena sifat-sifat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukanlah sesuatu yang tersembunyi bagi seseorang yang berakal bahwa setiap hizb mempunya prinsip-prinsip, pemikiran, sandaran yang sifatnya intern dan teori-teori yang menjadi patokan sebagai undang-undang bagi kelompok hizb. Meskipun sebagian mereka tidak menyebutnya sebagai undang-undang.</p>
<p style="text-align: justify;">Undang-undang tersebut kedudukannya sebagai asas yang menjadi dasar berpijaknya sistem pengorganisasian hizb, dan hizb sengaja dibangun berdasarkan undang-undang tersebut. Barang siapa yang percaya dan meyakininya dengan sungguh-sungguh dengan istilah lain: dia mengakuinya, mengambilnya sebagai asas pergerakan dan amal jama’i yang tersusun rapi dalam hizb tersebut, maka ia menjadi anggotanya atau pendukung setianya. Yang tidak setuju/menolak, maka ia tidak termasuk anggota hizb. Maka, undang-undang itu menjadi asas wala’ (kesetiaan/loyalitas) dan bara’ (permusuhan) persatuan dan perpecahan, kepedulian dan ketidakpedulian.</p>
<p style="text-align: justify;">Atas pertimbangan yang demikian maka sesungguhnya di dunia ini hanya ada dua hizb, yaitu hizb Allah dan hizb syaithan, yang menang dan yang kalah, yang Muslim dan yang kafir. Orang yang memasukkan hizb-hizb (kelompok, pergerakan, jama’ah-jama’ah) ke dalam hizb Allah, maka dia telah merobek-robek hizb Allah, memecah belah kalimat Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang muslim harus meninggalkan dan menanggalkan semua bentuk hizbiyyah yang sempit dan terkutuk yang telah melemahkan hizb Allah, dan tidak boleh toleran kepada semua kelompok/golongan/jama’a supaya agama Islam ini seluruhnya milik Allah. [2]</p>
<h4 style="text-align: justify;">Ahlus Sunnah mengajak kaum Muslimin kepada persatuan di atas Sunnah.</h4>
<p style="text-align: justify;">Jika kaum Muslimin bersatu di atas Sunnah, mereka akan mendapatkan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, kebaikan dan kekuatan. Dan jika mereka berselisih, yang terjadi adalah kelemahan, kekalahan, dan kehancuran.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfaal: 46)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Namun wajib diketahui bahwa persatuan itu dibangun di atas ittiba’ (ketaatan) kepada As-Sunnah bukan di atas bid’ah. Kebanyakan firqah-firqah yang mencela adanya perpecahan dan mengajak kepada persatuan, yang mereka maksud dengan perpecahan adalah golongan yang menyelisihi mereka meskipun golongan itu berada di atas kebenaran. Sedangkan yang mereka maksud dengan persatuan adalah kembali kepada prinsip dan manhaj mereka. Padahal prinsip dan manhaj mereka telah menyimpang dari jalan ash-Shirath al-Mustaqiim (jalan yang lurus). Oleh karena itu apabila terjadi perselisihan hendaklah dikembalikan kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam (Sunnahnya) dengan pemahaman Salafush Shalih.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahlus Sunnah menyuruh kepada persatuan ummat Islam atas dasar Sunnah dan melarang berpecah-belah serta bergolong-golongan. Ahlus Sunnah juga menyuruh ummat Islam untuk berada dalam satu barisan di atas Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dalam menghadapi musuh-musuh mereka. Adapun kelompok-kelompok bawah tanah, jama’ah-jama’ah sempalan dan bai’at-bai’at yang dikenal dengan bai’at dakwah merupakan penyebab timbulnya perpecahan dan fitnah (pertikaian). Bai’at hanya boleh diberikan kepada orang yang ditunjuk oleh ahlul halli wal ‘aqdi (semacam lembaga yudikatif) atau kepada seorang Muslim yang berkuasa dengan kekuatannya, meskipun ia seorang yang zhalim.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahlus Sunnah berpendapat tentang hadits:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“…. Barang siapa mati sementara ia belum berbai’at, maka kematiannya terhitung kematian secara Jahiliyyah.” HR. Muslim (no. 1851) dan al-Baihaqi (VIII/156).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Sanksi yang tersebut dalam hadits di atas ditujukan kepada orang yang tidak membai’at penguasa yang telah ditunjuk dan disepakati oleh ahlul halli wal ‘aqdi. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal ketika menjawab pertanyaan Ishaq bin Ibrahim bin Hani tentang hadits di atas. Beliau (Imam Ahmad) menjawab: “Yang dimaksud dengan Imam adalah kaum Muslimin seluruhnya berkumpul untuk membai’atnya, itu adalah Imam dan demikianlah makna hadits ini.”. Tidak sebagaimana yang diklaim oleh setiap jama’ah atau kelompok. [3]</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Katsiri dalam kitabnya, Faidhul Baari berkata: “Ketahuilah bahwa hadits tersebut menunjukkan bahwa yang dianggap bai’at yang sah adalah yang dibai’at oleh seluruh kaum Muslimin. Kalau seandainya ada dua orang atau tiga orang yang membai’at, maka hal itu tidak dikatakan Imam sampai dibai’at oleh kaum Muslimin atau ahlul halli wal ‘aqdi. [4] Jadi ancaman tentang orang yang meninggalkan bai’at diancam dengan mati Jahiliyyah itu berlaku bagi orang yang tidak berbai’at kepada Imam yang berkumpul padanya seluruh kaum Muslimin atau yang diwakilkan oleh ahlul halli wal ‘aqdi. Adapun yang dilakukan oleh kelompok-kelompok (jama’ah-jama’ah) adalah bai’at yang bid’ah yang harus ditinggalkan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada Hudzaifah, yaitu ketika tidak adanya jama’ah dan imam, maka ia harus meninggalkan semua jama’ah.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“…. Hendaklah engkau berpegang teguh (bersatu) kepada jama’ah dan Imam kaum Muslimin.” Kemudian Hudzaifah bertanya: “Bagaimana kalau mereka sudah tidak mempunyai jama’ah dan Imam lagi?” Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab: “Jauhilah semua kelompok tersebut, meskipun harus menggigit akar pohon, hingga engkau mati dalam keadaan seperti itu”. HR. Al-Bukhari (no. 7084).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dikutip dari kitab: Syarah ‘AQIDAH Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i oleh Abu Hanif</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Footnote :</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align: justify;">[1] Lafazh hizb ada beberapa makna ditinjau dari aspek bahasa, al-Fairuz Abadi dalam Bashaairu Dzawit Tamyiizi (II/457) mengatakan: “Al-hizb adalah kelompok (golongan). Al-Ahzaab adalah kumpulan orang-orang yang bersekutu memerangi para Nabi. Sedangkan dalam Al-Qur’an terdapat beberapa sudut pandang:</p>
<ol>
<li>Bermakna beberapa golongan yang berada dalam perbedaan pandangan, syari’at, dan agama. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. (QS. Ar-Ruum: 32).</li>
<li>Bermakna tentara syaithan. (QS. Al-Mujaadilah: 19).</li>
<li>Bermakna tentara Allah. (QS. Al-Mujaadilah: 22), adapun tentara Allah, maka mereka di dunia adalah sebagai pemenang (Qs. Al-Maaidah: 56). Akibat (balasan) bagi mereka adalah sebagai pemenang yang beruntung. (QS. Al-Mujaadilah: 22).</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">[2] Lihat ad-Da’wah ilallah bainat Tajammu’ al-Hizbi wat Ta’aawun asy-Syari’I, halaman 53-55 oleh Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi al-Atsari.</p>
<p style="text-align: justify;">[3] As-Siraajul Wahhaj fi Bayaanil Minhaaj (no. 181) oleh Abul Hasan Musthafa bin Isma’il as-Sulaimani al-Mishri.</p>
<p style="text-align: justify;">[4] Faidhatul Baari (IV/59), dikutip dari NashiihahDzahabiyyahilal Jamaa’aatil Islaamiyyah (halaman 10) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.</p>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Persatuan Umat Islam</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/karakter-seorang-salafi" rel="bookmark">Karakter Seorang Salafi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/begini-seharusnya-seorang-salafi" rel="bookmark">Begini Seharusnya Seorang Salafi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/fatwa-syaikh-fauzan-tentang-dammaj" rel="bookmark">Fatwa Syaikh Fauzan Tentang Dammaj</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/bantahan-tuntas-pengakuan-dusta-seorang-agen-mossad-2" rel="bookmark">Bantahan Tuntas Pengakuan Dusta Seorang Agen MOSSAD [2]</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/imam-mahzab-dalam-cerita-sufi" rel="bookmark">Imam mahzab Dalam Cerita Sufi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/pertarungan-yang-tak-pernah-berakhir" rel="bookmark">Pertarungan Yang Tak Pernah Berakhir</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/sejarah-agama-syiah" rel="bookmark">Sejarah Agama Syi&#8217;ah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/syura-dalam-pandangan-islam-dan-demokrasi" rel="bookmark">Syura Dalam Pandangan Islam Dan Demokrasi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/partai-politik-menurut-ulama-salafi" rel="bookmark">Partai Politik Menurut Ulama Salafi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/maulud-nabi-dalam-timbangan-sejarah" rel="bookmark">Maulud Nabi Dalam Timbangan Sejarah</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/persatuan-umat-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Doa Istiftah</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/kumpulan-doa-istiftah</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/kumpulan-doa-istiftah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 06:10:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[doa iftitah]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[istiftah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=964</guid>
		<description><![CDATA[Doa Istiftah adalah doa yang dibaca ketika shalat, antara takbiratul ihram dan ta’awudz sebelum membaca surat Al Fatihah. Hukum Membaca Doa Istiftah Hukum membacanya adalah sunnah. Diantaranya dalilnya adalah hadist dari Abu Hurairah: كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا كبَّر في الصلاة؛ سكتَ هُنَيَّة قبل أن يقرأ. فقلت: يا رسول الله! بأبي أنت [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Doa Istiftah adalah doa yang dibaca ketika shalat, antara takbiratul ihram dan <em>ta’awudz</em><span class="Apple-style-span"> sebelum </span><span style="font-size: x-small;"><span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;">membaca</span></span><span class="Apple-style-span"> surat Al Fatihah.</span></p>
<section id="main">
<section id="mainleft">
<div id="latest-article">
<article id="post-7934">
<div>
<h3>Hukum Membaca Doa Istiftah</h3>
<p>Hukum membacanya adalah sunnah. Diantaranya dalilnya adalah hadist dari Abu Hurairah:</p>
<h3 style="text-align: right;">كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا كبَّر في الصلاة؛ سكتَ هُنَيَّة قبل أن يقرأ. فقلت: يا رسول الله! بأبي أنت وأمي؛ أرأيت سكوتك بين التكبير والقراءة؛ ما تقول؟ قال: ” أقول: … ” فذكره</h3>
<blockquote><p>“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam setelah bertakbir ketika shalat, ia diam sejenak sebelum membaca ayat. Maka aku pun bertanya kepada beliau, wahai Rasulullah, kutebus engkau dengan ayah dan ibuku, aku melihatmu berdiam antara takbir dan bacaan ayat. Apa yang engkau baca ketika itu adalah:… (beliau menyebutkan doa istiftah)” (Muttafaqun ‘alaih)</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Setelah menyebut beberapa doa istiftah dalam kitab <em>Al Adzkar</em>, Imam An Nawawi berkata: “Ketahuilah bahwa semua doa-doa ini hukumnya <em>mustahabbah</em> (sunnah) dalam shalat wajib maupun shalat sunnah” (<em>Al Adzkar</em>, 1/107).</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah pendapat jumhur ulama, kecuali Imam Malik <em>rahimahullah</em>. Beliau berpendapat, yang dibaca setelah <em>takbiratul ihram</em> adalah الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ yaitu surat Al Fatihah. Tentu saja pendapat beliau ini tidak tepat karena bertentangan dengan banyak dalil.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Macam-macam Doa Istiftah</h3>
<p style="text-align: justify;">Ada beberapa macam jenis doa istiftah yang dibaca oleh Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dan sahabatnya, berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini macam-macam doa istiftah yang shahih, berdasarkan penelitian Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani <em>rahimahullah</em> terhadap dalil-dalil doa istiftah, yang tercantum dalam kitab beliau <em>Sifatu Shalatin Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam</em>:</p>
<h4 style="text-align: justify;">Pertama</h4>
<h3 style="text-align: right;">اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ</h3>
<blockquote><p>“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin” (HR.Bukhari 2/182, Muslim 2/98)</p></blockquote>
<p>Doa ini biasa dibaca Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dalam shalat fardhu. Doa ini adalah doa yang paling shahih diantara doa istiftah lainnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Baari</em> (2/183).</p>
<h3>Kedua</h3>
<h3 style="text-align: right;">وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ، اللهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku sendiri dan akui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Tunjukilah aku akhlak yang paling terbaik. Tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Aka aku patuhi segala perintah-Mu, dan akan aku tolong agama-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu. Sedangkan keburukan tidak datang dari Mu. Orang yang tidak tersesat hanyalah orang yang Engkau beri petunjuk. Aku berpegang teguh dengan-Mu dan kepada-Mu. Tidak ada keberhasilan dan jalan keluar kecuali dari Mu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampunan dariMu dan aku bertobat kepadaMu” (HR. Muslim 2/185 – 186)</p>
</blockquote>
<p>Doa ini biasa dibaca Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dalam shalat fardhu dan shalat sunnah.</p>
<h3>Ketiga</h3>
<h3 style="text-align: right;">اللَّهِ أَكْبَرُ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang Maha Pencipta langit dan bumi sebagai muslim yang ikhlas dan aku bukan termasuk orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau dan Maha Terpuji”. (HR. An Nasa-i, 1/143. Di shahihkan Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/251)</p>
</blockquote>
<h4>Keempat</h4>
<h3 style="text-align: right;">إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ</h3>
<blockquote><p>“Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, tunjukilah aku amal dan akhlak yang terbaik. Tidak ada yang dapat menujukkanku kepadanya kecuali Engkau. Jauhkanlah aku dari amal dan akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkanku darinya kecuali Engkau”. (HR. An Nasa-i 1/141, Ad Daruquthni 112)</p></blockquote>
<h4>Kelima</h4>
<h3 style="text-align: right;">سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ</h3>
<blockquote><p>“Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau” (HR.Abu Daud 1/124, An Nasa-i, 1/143, At Tirmidzi 2/9-10, Ad Darimi 1/282, Ibnu Maajah 1/268. Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri, dihasankan oleh Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/252)</p></blockquote>
<p>Doa ini juga diriwayatkan dari sahabat lain secara <em>marfu’</em>, yaitu dari ‘Aisyah, Anas bin Malik dan Jabir  <em>Radhiallahu’anhum</em>. Bahkan Imam Muslim membawakan riwayat :</p>
<h3 style="text-align: right;">أن عمر بن الخطاب كان يجهر بهؤلاء الكلمات يقول : سبحانك اللهم وبحمدك . تبارك اسمك وتعالى جدك . ولا إله غيرك</h3>
<blockquote><p>“Umar bin Khattab pernah menjahrkan doa ini (ketika shalat) : (lalu menyebut doa di atas)” (HR. Muslim no.399)</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah, doa ini banyak diamalkan oleh para sahabat Nabi, sehingga para ulama pun banyak yang lebih menyukai untuk mengamalkan doa ini dalam shalat. Selain itu doa ini cukup singkat dan sangat tepat bagi imam yang mengimami banyak orang yang kondisinya lemah, semisal anak-anak dan orang tua.</p>
<h3>Keenam</h3>
<h3 style="text-align: right;">سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ</h3>
<h3 style="text-align: right;">3x  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ</h3>
<h3 style="text-align: right;">3x  اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Maha suci Engkau, ya Allah. Ku sucikan nama-Mu dengan memuji-Mu. Nama-Mu penuh berkah. Maha tinggi Engkau. Tidak ilah yang berhak disembah selain Engkau, Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah (3x), Allah Maha Besar (3x)” (HR.Abu Daud 1/124, dihasankan oleh Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/252)</p>
</blockquote>
<h4>Ketujuh</h4>
<h3 style="text-align: right;">اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا</h3>
<blockquote><p>“Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah, baik waktu pagi dan petang” (HR. Muslim 2/99)</p></blockquote>
<p>Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radhiallahu’anhu, ia berkata:</p>
<h3 style="text-align: right;">بينما نحن نصلي مع رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ إذ قال رجل من القوم: … فذكره. فقال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” عجبت لها! فتحت لها أبواب السماء “. قال ابن عمر: فما تركتهن منذ سمعت رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول ذلك</h3>
<blockquote><p>“Ketika kami shalat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, ada seorang lelaki yang berdoa istiftah: (lalu disebutkan doa di atas). Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bersabda: ‘Aku heran, dibukakan baginya pintu-pintu langit‘. Ibnu Umar pun berkata:’Aku tidak pernah meninggalkan doa ini sejak beliau berkata demikian’”.</p></blockquote>
<h4>Kedelapan</h4>
<h3 style="text-align: right;">الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ</h3>
<blockquote><p>“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, pujian yang terbaik dan pujian yang penuh keberkahan di dalamnya” (HR. Muslim 2/99).</p></blockquote>
<p>Hadits tersebut diriwayatkan oleh Anas bin Malik <em>Radhiallahu’anhu</em>, ketika ada seorang lelaki yang membaca doa istiftah tersebut, Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>bersabda:</p>
<h3 style="text-align: right;">لقد رأيت اثني عشر ملكاً يبتدرونها ؛ أيهم يرفعها</h3>
<blockquote><p>“Aku melihat dua belas malaikat bersegera menuju kepadanya. Mereka saling berlomba untuk mengangkat doa itu (kepada Allah Ta’ala)”</p></blockquote>
<h4>Kesembilan</h4>
<h3 style="text-align: right;">اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ الحَقُّ وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Ya Allah, segala puji bagi Engkau. Engkau pemelihara langit dan bumi serta orang-orang yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau memiliki kerajaan langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau adalah cahaya bagi langit, bumi dan siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkau Raja langit dan bumi dan Raja bagi siapa saja yang berada di dalamnya. Segala puji bagi Engkau. Engkaulah Al Haq. Janji-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, pertemuan dengan-Mu pasti benar, firman-Mu pasti benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, para nabi itu membawa kebenaran, dan Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam itu membawa kebenaran, hari kiamat itu benar adanya. Ya Allah, kepada-Mu lah aku berserah diri.Kepada-Mu lah aku beriman. Kepada-Mu lah aku bertawakal. Kepada-Mu lah aku bertaubat. Kepada-Mu lah aku mengadu. Dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosaku. Baik yang telah aku lakukan maupun yang belum aku lakukan. Baik apa yang aku sembunyikan maupun yang aku nyatakan. Engkaulah Al Muqaddim dan Al Muakhir. Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau” (HR. Bukhari 2/3, 2/4, 11/99, 13/366 – 367, 13/399, Muslim 2/184)</p>
</blockquote>
<p>Doa istiftah ini sering dibaca Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi Wasallam</em> ketika shalat malam. Namun tetap <em>masyru’</em> juga dibaca pada shalat wajib dan shalat yang lain.</p>
<h3>Kesepuluh</h3>
<h3 style="text-align: right;">اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ</h3>
<blockquote><p>“Ya Allah, Rabb-nya malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi. Yang mengetahui hal ghaib dan juga nyata. Engkaulah hakim di antara hamba-hamba-Mu dalam hal-hal yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku kebenaran dalam apa yang diperselisihkan, dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk menuju jalan yang lurus, kepada siapa saja yang Engkau kehendaki” (HR. Muslim 2/185)</p></blockquote>
<p>Doa istiftah ini juga sering dibaca Rasulullah <em>Shalallahu’alaihi Wasallam</em> ketika shalat malam. Namun tetap <em>masyru’</em> juga dibaca pada shalat wajib dan shalat yang lain.</p>
<h4>Kesebelas</h4>
<h3 style="text-align: right;">10x الله اكبر</h3>
<h3 style="text-align: right;">10x الحمد لله</h3>
<h3 style="text-align: right;">10x لا اله الا الله</h3>
<h3 style="text-align: right;">10x استغفر الله</h3>
<h3 style="text-align: right;">10x اللهُمَّ اغْفِرْ لِي ،وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي وَعَافِنِي</h3>
<h3 style="text-align: right;">10x اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الضِّيقِ يَوْمَ الْحِسَابِ</h3>
<blockquote><p>“Allah Maha Besar” 10x</p>
<p>“Segala pujian bagi Allah” 10x</p>
<p>“Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah” 10x</p>
<p>“Aku memohon ampun kepada Allah” 10x</p>
<p>“Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rizki, dan berilah aku kesehatan” 10x</p>
<p>“Ya Allah, aku berlindung dari kesempitan di hari kiamat” 10x</p>
<p>(HR. Ahmad 6/143, Ath Thabrani dalam Al Ausath 62/2. Dihasankan Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/267)</p></blockquote>
<h4>Kedua Belas</h4>
<h3 style="text-align: right;">اللَّهُ أَكْبَرُ [ثلاثاً] ، ذُو الْمَلَكُوتِ، وَالْجَبَرُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ</h3>
<blockquote><p>“Allah Maha Besar” 3x</p>
<p>“Yang memiliki kerajaan besar, kekuasaan, kebesaran, dan keagungan” (HR. Ath Thayalisi 56, Al Baihaqi 2/121 – 122)</p></blockquote>
<h3>Adab Membaca Doa Istiftah</h3>
<p>Beberapa adab membaca doa istiftah dijelaskan oleh Imam An Nawawi dalam kitab <em>Al Adzkar </em>(1/107) :</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Disunnahkan menggabung beberapa doa istiftah, dalam shalat yang sendirian. Atau juga bagi imam, bila diizinkan oleh makmum. Jika makmum tidak mengizinkan, maka jangan membaca doa yang terlalu panjang. Bahkan sebaiknya membaca yang singkat. Imam An Nawawi nampaknya mengisyaratkan hadits:<br />
<h3 style="text-align: right;">إذا أم أحدكم الناس فليخفف . فإن فيهم الصغير والكبير والضعيف والمريض . فإذا صلى وحده فليصل كيف شاء</h3>
<p>“Jika seseorang menjadi imam, hendaknya ia ringankan shalatnya. Karena di barisan makmum terdapat anak kecil, orang tua, orang lemah, orang sakit. Adapun jika shalat sendirian, barulah shalat sesuai keinginannya” (HR.Muslim 467)</li>
<li style="text-align: justify;">Jika datang sebagai makmum masbuk, tetap membaca doa istiftah. Kecuali jika sudah akan segera ruku’, dan khawatir tidak sempat membaca Al Fatihah. Jika demikian keadaannya, sebaiknya tidak perlu membaca istiftah, namun berusaha menyelesaikan membaca Al Fatihah. Karena membaca Al Fatihah itu rukun shalat.</li>
<li>Jika mendapati imam tidak sedang berdiri, misalnya sedang rukuk, atau duduk di antara dua sujud atau sedang sujud, maka makmum langsung mengikuti posisi imam dan membaca sebagaimana yang dibaca imam. Tidak perlu membaca doa istiftah ketika itu.</li>
<li style="text-align: justify;">Para ulama Syafi’iyyah berbeda pendapat mengenai anjuran membaca doa istiftah ketika shalat jenazah. Menurut An Nawawi, yang lebih tepat adalah tidak perlu membacanya, karena shalat jenazah itu sudah selayaknya ringan.</li>
<li>Membaca doa istiftah itu hukumnya sunnah, tidak wajib. Jika seseorang meninggalkannya, tidak perlu sujud sahwi.</li>
<li>Yang sesuai sunnah, doa istiftah dibaca dengan <em>sirr </em>(lirih). Jika dibaca dengan <em>jahr </em>(keras) hukumnya makruh, namun tidak membatalkan shalat.</li>
</ol>
<p>Demikian tulisan ringkas ini. Semoga bermanfaat.</p>
<h3 style="text-align: right;">والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين</h3>
<p>—</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama<br />
Sumber artikel www.muslim.or.id</p>
</div>
</article>
</div>
</section>
</section>
<p>&nbsp;</p>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Kumpulan Doa Istiftah</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/apa-itu-islam-iman-dan-ihsan" rel="bookmark">Apa itu Islam, Iman dan Ihsan</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/menyambut-idul-fithri" rel="bookmark">Menyambut Idul Fithri</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/tauhid-uluhiyyah" rel="bookmark">Tauhid Uluhiyyah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/hak-hak-pendidikan-anak-dalam-islam" rel="bookmark">Hak-Hak Pendidikan Anak Dalam Islam</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/biografi-%e2%80%98umar-bin-al-khaththab-wafat-23-h" rel="bookmark">Biografi ‘Umar bin al-Khaththab (wafat 23 H)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/karena-do%e2%80%99a-si-buta-yang-papa-mendapatkan-wanita-yang-sangat-cantik-jelita" rel="bookmark">Karena Do’a, Si Buta Yang Papa Mendapatkan Wanita Yang Sangat Cantik Jelita</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/sebab-sebab-terjadinya-kesyirikan" rel="bookmark">Sebab-Sebab Terjadinya Kesyirikan</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/bab-an-najaasaat" rel="bookmark">Bab an-Najaasaat</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/seuntai-kata-tentang-cinta" rel="bookmark">Seuntai Kata Tentang Cinta</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/surat-kepada-ibu" rel="bookmark">Surat Kepada Ibu</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/kumpulan-doa-istiftah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Taubat Seorang yang Menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Sesat</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/kisah-taubat-seorang-yang-menuduh-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab-sesat</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/kisah-taubat-seorang-yang-menuduh-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab-sesat#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 07:33:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sirah]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=945</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh (wafat 1389 H) rahimahullah mengatakan: “Aku sekarang akan menyebutkan sebuah kisah tentang Abdurrahman al-Bakri, salah seorang penduduk kota Najd. Pada mulanya ia adalah salah seorang thalibul ‘ilmi (penuntut ilmu) yang belajar kepada pamannya, yaitu Syaikh Abdullah bin Abdullathif Alu Syaikh dan para syaikh yang lain. Kemudian beliau ingin membuka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2011/07/pengertian-sejarah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17" title="pengertian sejarah" src="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2011/07/pengertian-sejarah-300x225.jpg" alt="pengertian sejarah 300x225 Kisah Taubat Seorang yang Menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Sesat" width="300" height="225" /></a>Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh (wafat 1389 H) <em>rahimahullah</em> mengatakan:</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku sekarang akan menyebutkan sebuah kisah tentang Abdurrahman al-Bakri, salah seorang penduduk kota Najd.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada mulanya ia adalah salah seorang <em>thalibul ‘ilmi</em> (penuntut ilmu) yang belajar kepada pamannya, yaitu Syaikh Abdullah bin Abdullathif Alu Syaikh dan para syaikh yang lain. Kemudian beliau ingin membuka sebuah madrasah di Aman.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sana beliau mengajarkan tauhid dari biaya sendiri. Apabila harta yang dimilikinya telah habis, maka beliau mengambil barang dagangan dari seseorang dan pergi ke India. Terkadang beliau menghabiskan waktu selama setengah tahun di India.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh al-Bakri mengatakan:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Aku pernah berada di sisi sebuah masjid di India. Di sana terdapat seorang guru, yang mana apabila seusai mengajar mereka melaknat Ibnu Abdul Wahhab, yakni Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Apabila keluar masjid beliau melewatiku. Dan ia mengatakan: “Aku bisa berbahasa arab, akan tetapi aku ingin mendengarnya dari Orang Arab”. Lalu iapun minum air dingin di tempatku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merasa sedih dengan apa yang telah dia dilakukan dalam ceramahnya. Lalu aku berbuat siasat dengan mengundangnya (ke tempatku) dan aku mengambil kitab <em>at-Tauhid</em>, aku cabut sampulnya dan aku letakkan di rak dalam rumahku sebelum dia datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika dia telah hadir, aku berkata kepadanya: “Apakah anda mengizinkan aku untuk membawakan semangka (ke sini)?”. Lalu akupun pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku kembali, ternyata di sedang membacanya dan menggerak-gerakkan kepalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia berkata: “Karya siapakah kitab ini? Judul-judulnya mirip dengan judul-judul kitab al-Bukhari, ini demi Allah judul-judul al-Bukhari.”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menjawab: “Aku tidak tahu!”. Lalu aku katakan kepadanya: “Bagaimana sekiranya kita pergi ke Syaikh al-Ghazawi untuk menanyakan masalah ini,” yang mana beliau adalah seorang pemilik sebuah perpustakaan, dan beliau telah memiliki bantahan terhadap kitab <em>Jami’ al-Bayan</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu kamipun masuk kepada beliau dan aku berkata kepada al-Ghazawi: “Aku memiliki beberapa lembaran. Syaikh ini menanyakan kepadaku siapakah yang menulis kitab ini? Akupun tidak tahu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Ghazawi paham dengan keinginanku. Lalu beliau memerintahkan seseorang untuk mendatangkan kitab <em>Majmu’ah at-Tauhid</em> (kumpulan kitab tauhid), lalu dibawakan kepada beliau, kemudian mencocokkan antara keduanya, lalu beliau mengatakan: “Ini adalah karya Muhammad bin Abdul Wahhab.”</p>
<p style="text-align: justify;">Orang Alim dari India tadi marah dan mengatakan dengan suara yang tinggi: “Orang Kafir itu …!!!”</p>
<p style="text-align: justify;">Kamipun diam, diapun lalu diam sejenak. Sesaat kemudian kemarahannya mereda dan ia pun ber<em>istirja’</em> (mengucapkan <em>innalillah wa inna ilaihi raaji’un</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Ia berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Apabila kitab ini adalah karya beliau, maka sungguh kami telah menzhaliminya”.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kemudian beliaupun setiap hari mendoakan untuk Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab dan murid-muridnya pun juga mendoakanya bersamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu tersebarlah murid-muridnya di India. Apabila mereka selesai membaca, mereka mendoakan untuk Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab.”</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Ashim Muhtar Arifin</p>
<p style="text-align: justify;">Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 60, hal. 57-58</p>
<p style="text-align: justify;">sumber : majalahislami.com</p>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Kisah Taubat Seorang yang Menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Sesat</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/karena-do%e2%80%99a-si-buta-yang-papa-mendapatkan-wanita-yang-sangat-cantik-jelita" rel="bookmark">Karena Do’a, Si Buta Yang Papa Mendapatkan Wanita Yang Sangat Cantik Jelita</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/biografi-%e2%80%98umar-bin-al-khaththab-wafat-23-h" rel="bookmark">Biografi ‘Umar bin al-Khaththab (wafat 23 H)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/ustadz-faisal-rahman-lc" rel="bookmark">Ustadz Faisal Rahman, Lc</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kisah-hijrah-ummul-mu%e2%80%99minin-ummu-salamah" rel="bookmark">Kisah Hijrah Ummul Mu’minin Ummu Salamah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/ustadz-muhammad-elvi-syam-lc-ma" rel="bookmark">Ustadz Muhammad Elvi Syam, Lc. MA</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/umar-bin-abdul-aziz-dan-lilin-negara" rel="bookmark">Umar bin Abdul Aziz dan Lilin Negara</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/studi-kritis-atas-kesesatan-buku-%e2%80%9csejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi%e2%80%9d" rel="bookmark">Studi Kritis Atas Kesesatan Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi”</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/utsman-bin-%e2%80%98affan-wafat-35-h" rel="bookmark">Utsman bin ‘Affan (Wafat 35 H)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kunci-sukses-bermu%e2%80%99amalah" rel="bookmark">Kunci Sukses Bermu’amalah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/fitnah-ibnu-batutah-terhadap-ibnu-taimiyah" rel="bookmark">Fitnah Ibnu Batutah Terhadap Ibnu Taimiyah</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/kisah-taubat-seorang-yang-menuduh-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab-sesat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (3)</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jan 2012 10:43:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi timur tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=939</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran 3 Unjuk Rasa = Awal Kekacauan &#38; Bencana Ketika badai unjuk rasa berhembus, orang-orang berhamburan keluar rumah mengekspresikan keinginannya. Mereka berkumpul dalam aksi longmarch besar-besaran. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya ikut serta. Walaupun awalnya sekedar unjuk rasa damai, tetap saja kerusuhan sering kali mewarnai. Mengapa demikian? Simaklah pendapat seorang ‘alim rabbani yang namanya tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: justify;" align="center">Pelajaran 3</h3>
<h4 style="text-align: justify;" align="center">Unjuk Rasa = Awal Kekacauan &amp; Bencana</h4>
<p style="text-align: justify;">Ketika badai unjuk rasa berhembus, orang-orang berhamburan keluar rumah mengekspresikan keinginannya. Mereka berkumpul dalam aksi longmarch besar-besaran. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya ikut serta. Walaupun awalnya sekedar unjuk rasa damai, tetap saja kerusuhan sering kali mewarnai. Mengapa demikian? Simaklah pendapat seorang ‘alim rabbani yang namanya tak asing di telinga kita. Beliau lah ulama yang digelari oleh Syaikh Al Albani -<em>rahimahullah</em>- sebagai <em>faqiehuz zamaan</em>, alias ahli fiqih zaman ini. Beliaulah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -<em>rahimahullah</em>-.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada yang bertanya kepada beliau: “Kalau penguasanya tidak berhukum dengan syariat Allah, lalu ia membolehkan sebagian kalangan untuk melakukan unjuk rasa independen berdasarkan aturan yang ditetapkan oleh si penguasa, kemudian mereka (para demonstran) melakukannya; kemudian bila ada yang mengingkari perbuatan mereka, mereka mengatakan: “Kami tidak melawan penguasa, dan apa yang kami lakukan selaras dengan pendapat penguasa”. Apakah hal tersebut dibolehkan secara syar’i jika mengandung hal-hal yang bertentangan dengan nas (dalil)?</p>
<p style="text-align: justify;">Jawab beliau, “Kamu hendaknya mengikuti para salaf. Kalau memang demonstrasi ada di zaman salaf, berarti baik. Namun jika tidak ada di zaman mereka, berarti jelek. Tidak diragukan sedikitpun bahwa demonstrasi itu jelek, sebab ia menimbulkan kekacauan, baik dari pihak demonstran maupun yang lain. Bahkan terkadang menimbulkan tindak aniaya terhadap kehormatan, harta benda, dan jiwa. Karena mereka yang tenggelam dalam kekacauan tadi, seperti pemabuk yang tidak sadar terhadap ucapan dan perbuatannya. Jadi, demonstrasi itu jelek semua, baik diizinkan oleh penguasa maupun tidak. Adanya sebagian penguasa yang mengizinkan demonstrasi sebenarnya hanyalah basa-basi, sebab jika hati kecilnya ditanya ia pasti sangat membencinya. Namun ia berusaha menampakkan dirinya sebagai orang yang ‘demokrat’, dan memberi kebebasan bagi rakyat… ini semuanya bukanlah sikap para salaf”.<a title="" href="http://basweidan.com/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: justify;">Kalau lah ada yang mengatakan bahwa fatwa ini tidak berlaku bagi demonstrasi damai, maka jawabnya ialah bahwa walaupun demonstrasi itu awalnya damai, namun sering berujung pada kekerasan dan tindak anarkis. Sebab para demonstran belum tentu satu tujuan, dan tidak memiliki satu komando… mereka juga tidak bisa menolak orang lain yang hendak bergabung, dan bahkan mungkin tidak saling mengenal satu sama lain. Dalam kondisi seperti ini, provokator sangat mudah menyusup untuk menyulut fitnah. Apalagi jika mereka keluar dengan emosi lalu mendapat perlakuan dan sikap yang tak sesuai keinginan, maka bukan saja kekacauan yang terjadi, namun perang saudara dan pertumpahan darah.</p>
<p style="text-align: justify;">Revolusi Tunisia awalnya sekedar unjuk rasa akibat meroketnya harga sembako dan solidaritas terhadap Bouazizi yang membakar dirinya. Akan tetapi, unjuk rasa hari itu berujung pada baku hantam antara aparat dan ratusan pengunjuk rasa, penangkapan puluhan demonstran, dan pengrusakan sejumlah fasilitas umum. Kemudian berakhir setelah menyisakan 219 korban tewas.[2]</p>
<p style="text-align: justify;">Revolusi Mesir sampai hari ini belum benar-benar berakhir. Menurut amnesty internasional, jumlah korban tewas sejak meletusnya revolusi tanggal 25 Januari 2011, minimal mencapai 840 orang[3]. Dan sampai hari ini aksi demonstrasi masih terus terjadi dan terus menelan korban jiwa.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang lebih parah lagi adalah revolusi Libya. Jenderal Abdul Mun’im Al Hauny selaku wakil Majelis Peralihan Nasional Libya di Kairo, pernah menyatakan bahwa revolusi melawan Gaddafi telah menelan korban 35 ribu orang tewas, puluhan ribu orang luka-luka, dan kerugian material atas rusaknya fasilitas dan infrastruktur umum lebih dari 240 milyar Dollar! Hal ini beliau jelaskan dalam wawancara dengan harian <em>Al Masry Al Youm</em> tanggal 11 Agustus 2011. Artinya, saat itu Gaddafi belum benar-benar terguling, sebab ia baru terbunuh tanggal 20 Oktober 2011.[4]</p>
<p style="text-align: justify;">Belum lagi dengan Revolusi Yaman dan Suriah. Semuanya membuktikan bahwa demonstrasi = awal berbagai kekacauan dan bencana. Demonstrasi dan unjuk rasa, termasuk bentuk <em>khuruj</em>, alias pemberontakan terhadap penguasa[5]. Kalau penguasa tersebut seorang muslim, maka tindakan ini jelas haram secara syar’i. Simaklah hadits berikut yang sarat dengan pelajaran berharga…</p>
<p style="text-align: justify;">Abdurrahman bin Abdirabbil Ka’bah menceritakan, “Aku pernah masuk ke masjidil haram dan kudapati Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash sedang duduk di balik bayang-bayang Ka’bah, sedangkan orang-orang berkumpul di sekelilingnya. Aku pun menghampiri mereka dan duduk di dekatnya. Ia lantas bercerita, “Kami pernah bersama Rasulullah dalam suatu safar. Kami singgah di sebuah tempat, lalu di antara kami ada yang membenahi tenda, ada yang bermain panah, dan ada yang mengawasi hewan tunggangannya. Tiba-tiba pesuruh Rasulullah memanggil kami untuk shalat berjama’ah. Maka kami segera mendatangi Rasulullah untuk shalat, lalu selepas shalat beliau bersabda:</p>
<h3 style="text-align: right;" dir="RTL">إنه لم يكن نبي قبلي إلا كان حقا عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم وينذرهم شر ما يعلمه لهم، وإن أمتكم هذه جعل عافيتها في أولها وسيصيب آخرها بلاء وأمور تنكرونها، وتجيء فتنة فيرقق بعضها بعضا، وتجيء الفتنة فيقول المؤمن هذه مهلكتي ثم تنكشف، وتجيء الفتنة فيقول المؤمن هذه هذه؛ فمن أحب أن يزحزح عن النار ويدخل الجنة، فلتأته منيته وهو يؤمن بالله واليوم الآخر وليأت إلى الناس الذي يحب أن يؤتى إليه، ومن بايع إماما فأعطاه صفقة يده وثمرة قلبه فليطعه إن استطاع، فإن جاء آخر ينازعه فاضربوا عنق الآخر.</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada seorang Nabi pun sebelumku, melainkan ia wajib membimbing umatnya kepada sesuatu yang paling baik bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari sesuatu yang paling buruk untuk mereka. Sesungguhnya keselamatan umat ini dijadikan bagi generasi awalnya, sedangkan generasi akhirnya akan terkena berbagai bala dan perkara yang kalian ingkari. Fitnah pun datang melanda, dan sebagian fitnah seakan meringankan fitnah lainnya. Lalu datanglah fitnah besar, hingga orang beriman mengatakan bahwa inilah kebinasaannya; lalu fitnah tersebut berakhir. Kemudian datang fitnah yang lebih besar lagi, maka si mukmin berkata: “Ini dia… ini dia”. Maka barangsiapa ingin dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan Surga, hendaklah ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir; dan hendaklah memperlakukan orang-orang dengan perlakuan yang ia sukai bagi dirinya sendiri. Barangsiapa telah membaiat seorang pemimpin dengan tulus ikhlas, maka hendaklah ia taat kepadanya selagi mampu. Bila ada orang lain yang hendak merebut kepemimpinannya, maka bunuhlah orang lain tersebut”.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka kudekati beliau dan kukatakan, “Kusumpah engkau demi Allah. Benarkah ini semua kau dengar dari Rasulullah?” tanya Abdurrahman. Maka ia menunjuk kedua telinga dan dadanya, seraya berkata: “Aku mendengarnya dengan kedua telingaku, dan memahaminya dengan hatiku”. Jawab Abdullah bin ‘Amru.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Lalu bagaimana dengan sepupumu Mu’awiyah yang menyuruh kami agar memakan harta kami secara batil, dan saling berbunuhan? Padahal Allah berfirman:<em></em></p>
<h3 style="text-align: right;" dir="RTL">يا أيها الذين آمنوا لا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل إلا أن تكون تجارة عن تراض منكم ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما !</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta sesama kalian secara batil, kecuali dengan jual-beli atas dasar kerelaan. Jangan pula kalian saling membunuh, sesungguhnya Allah amat pengasih terhadap kalian (An Nisa’: 29).</p>
<p style="text-align: justify;">Abdullah bin ‘Amru pun terdiam sejenak, lalu berkata: “Taatilah dia dalam hal yang bersifat taat kepada Allah, dan maksiatilah dia dalam hal yang bersifat maksiat kepada Allah”. (HR. Muslim no 1844).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits lain Rasulullah pernah ditanya,</p>
<h3 style="text-align: right;" dir="RTL">يا نبي الله أرأيت إن قامت علينا أمراء يسألونا حقهم ويمنعونا حقنا فما تأمرنا فأعرض عنه ثم سأله فأعرض عنه ثم سأله في الثانية أو في الثالثة فجذبه الأشعث بن قيس وقال اسمعوا وأطيعوا فإنما عليهم ما حملوا وعليكم ما حملتم</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Wahai Nabiyullah, bagaimana menurutmu jika kami dikuasai oleh para pemimpin yang menuntut hak mereka, namun merampas hak kami. Apa yang engkau perintahkan atas kami? Nabi pun berpaling darinya. Lalu beliau ditanya lagi kedua atau ketiga kalinya, maka Asy’ats bin Qais menarik baju si penanya, lalu Nabi menjawab: <em>“Dengarlah dan taatilah para pemimpin kalian, karena mereka bertanggung jawab atas kewajibannya, dan kalian bertanggung jawab atas kewajiban kalian”.</em> (HR. Muslim no 1846).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dalam perang Hunain, Rasulullah berhasil mengalahkan suku Hawazin dan meraih ghanimah yang demikian besar. Beliau lantas membagi-bagikannya kepada suku Quraisy yang baru masuk Islam dan kebanyakan dari mereka justru lari saat pertempuran. Akan tetapi, kaum Anshar yang begitu berjasa dan membela Rasulullah mati-matian, justru tidak diberi apa-apa. Sebagian dari mereka lantas mengeluhkan sikap Rasulullah tersebut, hingga akhirnya beliau berkhutbah di hadapan mereka dengan sangat mengesankan… lalu menutup khutbahnya dengan kata-kata:</p>
<h3 style="text-align: right;" dir="RTL">أفلا ترضون أن يذهب الناس بالأموال وترجعون إلى رحالكم برسول الله؟ فوالله لما تنقلبون به خير مما ينقلبون به. فقالوا: بلى يا رسول الله قد رضينا, قال: فإنكم ستجدون أثرة شديدة فاصبروا حتى تلقوا الله ورسوله فإني على الحوض, قالوا: سنصبر.</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Tidakkah kalian ridha bila orang-orang pulang membawa harta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah? Sungguh demi Allah, apa yang kalian bawa pulang lebih baik daripada apa yang mereka bawa pulang”. “Benar wahai Rasulullah, kami ridha”, jawab mereka. “Kalau begitu, nanti kalian akan melihat sikap mementingkan diri yang luar biasa dari para penguasa, maka bersabarlah hingga kalian menghadap Allah dan Rasul-Nya, sebab aku menanti kalian di telaga”, pesan Rasulullah. “Baiklah, kami akan bersabar”, jawab kaum Anshar. (HR. Muslim no 1059).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits-hadits di atas, Rasulullah telah berwasiat kepada umatnya secara umum, dan kaum Anshar secara khusus; bahwa kelak akan muncul para penguasa yang mementingkan kemaslahatan pribadi mereka, serta melakukan berbagai kezhaliman dan kemunkaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka (mayoritas penguasa tadi) mengesampingkan jasa-jasa kaum Anshar yang demikian besar, dan mengedepankan orang-orang yang tidak berjasa dalam Islam untuk memegang tampuk kekuasaan…</p>
<p style="text-align: justify;">Cobalah kita perhatikan sosok Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi. Siapa dia? Dari mana asal-usulnya? Apa jasa-jasanya terhadap Islam? Sungguh tak layak jika orang model Hajjaj menjadi gubernur Mekkah dan Madinah sejak tahun 73-75 H, padahal di sana banyak para sahabat dan tabi’in mulia …[6].</p>
<p style="text-align: justify;">Hajjaj lantas dipindah tugaskan ke Irak dan menjadi gubernur di sana selama 20 tahun. Banyak orang yang ‘tak sabar’ melihat kelakuannya. Sebagian dari mereka berpikir untuk melakukan kudeta… namun sebagian lagi menahan diri. Salah satu orang yang paling dibenci oleh Hajjaj adalah Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembantu setia Rasulullah selama 8 tahun ini pernah kena damprat dan caci maki oleh Hajjaj bin Yusuf !! Seorang tabi’in bernama Ali bin Zaid bin Jud’an menuturkan: Aku pernah berada di istana Hajjaj saat ia menginterogasi para pengikut Ibnul Asy’ats. Ketika Anas berdiri di hadapannya, Hajjaj berkata:</p>
<p style="text-align: justify;">“Hei orang busuk yang tenggelam dalam berbagai fitnah. Sesekali kau di pihak Ali, kemudian di pihak Ibnu Zubeir, lalu di pihak Ibnul Asy’ats[7]?”.</p>
<p style="text-align: justify;">“Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kamu akan kubunuh dan kukuliti laksana seekor biawak !!” celetuk Hajjaj.</p>
<p style="text-align: justify;">“Siapa yang Anda maksud wahai Amir ?” tanya Anas.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamulah yang kumaksud. Semoga Allah menulikan telingamu !” bentak Hajjaj.</p>
<p style="text-align: justify;"> “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun” kata Anas. Ia pun keluar dari sana lalu mengatakan: “Demi Allah, andai saja aku tak ingat akan anak-anakku, dan khawatir dia (Hajjaj) menganiaya mereka, niscaya akan kuucapkan kepadanya kata-kata yang membuatnya pasti membunuhku” lanjut Anas[8].</p>
<p style="text-align: justify;">Kendatipun demikian, Anas radhiyallahu ‘anhu tidak membalas kekurang ajaran tersebut dengan sikap yang sama, walaupun ia sangat berhak membela diri dari tuduhan ini. Anas lalu menyurati Abdul Malik bin Mirwan selaku khalifah yang mengangkat Hajjaj sebagai gubernur Irak, dan mengeluhkan sikap Hajjaj yang kurang ajar tadi.[9]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam versi lainnya, Imam Al Hakim meriwayatkan kisah ini dari Simak bin Musa, katanya:</p>
<h3 style="text-align: right;" dir="RTL">لما دخل أنس رضي الله عنه على الحجاج أمر بوجى ء عنقه ثم قال يا أهل الشام أتعرفون هذا هذا خادم رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم قال أتدرون لم وجأت عنقه قالوا الأمير أعلم قال إنه كان بين البلاء في الفتنة الأولى وغاش الصدر في الفتنة الآخرة …</h3>
<p style="text-align: justify;">“Saat Anas menghadap Hajjaj, ia menyuruh agar lehernya ditonjok! Hajjaj lantas berkata: “Wahai warga Syam, apakah kalian mengenal orang ini? Dia adalah pembantu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Tahukah kalian mengapa kutonjok lehernya?”. Tanya Hajjaj. “Amir-lah yang lebih tahu” jawab mereka. “Itu karena ia berada di antara bencana yang terjadi dalam fitnah pertama, dan berkhianat dalam fitnah yang terakhir”.[10]</p>
<p style="text-align: justify;">Hajjaj konon berkeliling mempertontonkan Anas kepada pasukannya. Anas lantas menyurati Abdul Malik bin Marwan dengan mengatakan: “Bagaimana menurutmu jika pembantu Nabi Musa mendatangi kalian, apakah kalian akan menyakitinya?”. Maka Abdul Malik menyurati Hajjaj dan menyuruhnya agar membiarkan Anas bin Malik untuk tinggal di bumi mana saja yang dia suka. Ia juga menulis surat kepada Anas dan mengatakan “Tidak ada seorang pun yang berkuasa atasmu selainku”.[11]</p>
<p style="text-align: justify;">ِMeskipun demikian menyakitkan perlakuan Hajjaj terhadap Anas, Anas tetap saja tidak memberontak atau mengajak orang-orang untuk ‘berdemonstrasi’ menuntut agar Hajjaj dicopot dari jabatannya…. Dan jangan lupa, bahwa status beliau adalah pembantu setia Rasulullah dan satu dari segelintir sahabat Nabi yang masih hidup… bahkan umur beliau kala itu telah demikian lanjut, sebab beliau wafat tahun 93 H dalam usia 103 tahun menurut pendapat paling shahih, sedangkan fitnah Ibnul Asy’ats berakhir pada tahun 84 H. Ini berarti bahwa usia beliau saat dicaci-maki oleh Hajjaj adalah 90 tahun atau lebih…</p>
<p style="text-align: justify;">Kendatipun demikian, simaklah bagaimana sikap beliau terhadap warga Basrah yang mengeluhkan perilaku Hajjaj ini. Salah seorang tabi’in murid Anas bin Malik yang bernama Zubeir bin Adiy mengatakan,</p>
<h3 style="text-align: right;" dir="RTL">أتينا أنس بن مالك نشكو إليه ما نلقى من الحجاج، فقال: اصبروا فإنه لا يأتي عليكم عام أو زمان أو يوم إلا والذي بعده شر منه، حتى تلقوا ربكم عزوجل، سمعته من نبيكم صلى الله عليه وسلم</h3>
<p style="text-align: justify;">Kami mendatangi Anas dalam rangka mengeluhkan kezhaliman Hajjaj terhadap kami. Maka kata Anas, “Sabarlah kalian, sebab tidaklah kalian melalui suatu hari atau zaman, melainkan yang datang setelahnya lebih jelek dari itu. (Demikian seterusnya) sampai kalian menghadap Allah (mati)”. Inilah yang kudengar dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.[12]</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula sikap Imam Hasan Al Bashri yang merupakan musuh bebuyutan Hajjaj dan berulang kali hendak dihabisinya. Hasan yang notabene adalah murid Anas bin Malik juga bersikap sebagaimana ‘ustadz’-nya yang tidak setuju terhadap khuruj.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayyub As Sikhtiyani mengatakan bahwa Hajjaj berulang kali berniat membunuh Hasan Al Basri, akan tetapi Allah melindunginya. Hasan juga beberapa kali terlibat perdebatan dengan Hajjaj. Pun begitu, Hasan tidak termasuk orang yang membolehkan khuruj (pemberontakan) terhadap Hajjaj. Ia bahkan melarang pengikut Ibnul Asy’ats untuk memberontak. Hasan mengatakan bahwa Hajjaj merupakan hukuman, maka janganlah kalian hadapi hukuman Allah dengan pedang. Kalian harus bersabar, tenang, dan merendahkan diri kepada Allah”.[13]</p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Sya’bi berkata, “Akan datang suatu masa di mana orang-orang mendoakan kebaikan bagi Hajjaj”. Dalam riwayat lain beliau mengatakan, “Demi Allah, jika kalian berumur panjang; kalian akan mengharapkan kembalinya Hajjaj”.[14]</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, terjadinya pemberontakan Ibnul Asy’ats yang didukung oleh banyak ulama Irak saat itu, merupakan kesalahan besar yang mengakibatkan malapetaka. Simaklah komentar Ibnu Katsir setelah menyitir tragedi menewaskan sekitar 130 ribu muslim ini. Beliau mengatakan,</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Sungguh aneh bin ajaib ketika mereka (para fuqaha’ Irak) membaiatnya (yakni Abdurrahman ibnul Asy’ats) sebagai amirul mukminin, padahal ia bukan berasal dari Quraisy. Ia hanyalah seorang lelaki suku Kindah asal Yaman. Sedangkan para sahabat saat peristiwa saqifah Bani Sa’idah telah sepakat, bahwa yang berhak menjadi amirul mukminin hanyalah suku Quraisy. Abu Bakar Ash Shiddiq bahkan menegaskan hal tersebut dengan menyitir sebuah hadits. Saat kaum Anshar menuntut agar mreka memiliki amir di samping amir kaum Muhajirin, Abu Bakar menolak tuntutan tersebut. Bahkan Abu Bakar sempat mencambuk Sa’ad bin Ubadah yang awalnya menyerukan hal tersebut, namun kemudian rujuk darinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lantas bagaimana dibenarkan bila mereka -para fuqaha’ Irak- menyikapi seorang khalifah yang telah dibaiat sebagai pemimpin kaum muslimin, lantas mencopotnya; padahal ia berasal dari suku Quraisy asli? Lalu di saat yang sama mereka membaiat seorang lelaki suku Kindah padahal baiat tersebut tidak disepakati oleh ahlul halli wal ‘aqdi? Karena ini merupakan kesalahan dan kekeliruan, maka terjadilah bencana besar yang menewaskan banyak korban… inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun”.[15]</p>
</blockquote>
<div><br clear="all" /></p>
<p style="text-align: justify;"> sumber : basweidan.com</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align: justify;">
<p>[1] Lihat: Liqaa’ al Baabil Maftuh, no 179.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[2] Lihat: http://ar.wikipedia.org/wiki/الثورة_التونسية</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[3] Lihat: http://www.aljazeera.net/NR/EXERES/A3A3FFB0-69C1-40FF-8261-3223AC997B98.htm</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[4] Lihat: http://www.dw-world.de/dw/article/0,,15310470,00.html</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[5] Sebagian kalangan menganggap bahwa pemberontakan yang tidak boleh dilakukan ialah pemberontakan bersenjata. Namun yang benar ialah bahwa pemberontakan (khuruj) bisa terjadi dengan keyakinan maupun perbuatan. Contoh <em>khuruj</em> dengan keyakinan (pemikiran) ialah dengan tidak mau berbaiat, dan meyakini bolehnya atau wajibnya <em>khuruj</em> terhadap penguasa muslim. Para salaf sering mencela orang yang khuruj dengan cara seperti ini dengan istilah ‘kaana yara as-saif’.</p>
<p>Sedangkan jenis kedua, ialah orang yang mengangkat senjata melawan pemimpinnya. Seperti dengan berkumpul di suatu tempat dengan maksud melengserkan pemimpin atau menggantinya, atau dalam rangka membikin kekacauan dan fitnah yang melaluinya si penguasa akan terbunuh atau disingkirkan. Artinya, semua perbuatan yang mengarah kepada pemberontakan, atau berusaha membunuh dan melengserkan penguasa, termasuk kategori khuruj yang kedua.</p>
<p>Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa khuruj juga bisa terjadi lewat ucapan. Yaitu bila ia mengatakan sesuatu yang berakibat pada terjadinya pemberontakan. Namun jika ia mengatakan sesuatu dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar sesuai aturan syar’i tanpa menimbulkan fitnah; maka tidak dianggap sebagai khuruj (lihat: Syarh Aqidah Ath Thahawiyyah oleh Syaikh Shalih Alusy Syaikh).</p>
<p>Contoh orang-orang yang dikritik karena berpemikiran khawarij ialah: Hasan bin Shalih bin Hay, Ali bin Abi Thalhah, ‘Imran bin Dawar Al Qaththan, Muhammad bin Rasyid Al Makhuly, dan Imam Abu Hanifah.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[6] Lihat: Tariekhul Islam 2/759-764. Para sahabat yang masih hidup saat Hajjaj berkuasa di Haramain contohnya: Abu Sa’id Al Khudri, Rafi’ bin Khadiej, dan Salamah bin Akwa’ mereka semua wafat th 74 H. Kemudian ‘Irbadh bin Sariyah, dan Abu Tsa’labah Al Khusyani (keduanya wafat th 75 H). Sedangkan yang tetap hidup hingga Hajjaj pindah ke Irak, adalah Jabir bin Abdillah dan Zaid bin Khalid Al Juhani (keduanya wafat th 78 H).  Hajjaj lantas menjadi gubernur Irak selama 20 tahun kemudian, padahal di sana terdapat sahabat terkenal Anas bin Malik Al Anshari, dan sejumlah tokoh Tabi’in seperti Hasan Al Basri, Sa’id bin Jubair, Asy Sya’bi, dll.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[7]  Ali bin Abi Thalib, Ibnu Zubeir, dan Ibnul Asy’ats adalah orang-orang yang pernah berseteru dengan Bani Umayyah, sedangkan Hajjaj adalah kaki tangan Bani Umayyah yang demikian loyal, sehingga memusuhi setiap orang yang dianggap berseberangan dengan ‘majikannya’.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[8] Kisah ini diriwayatkan oleh At Thabrani dlm Al Mu’jamul Kabir (no 704) dan Ibnu Asakir dlm Tarikh Dimasyq (9/372) dengan sanad yang hasan hingga Ali bin Zaid bin Jud’an. Ibn Jud’an adalah orang yang jujur namun lemah hafalannya. Kisah ini juga diriwayatkan oleh Mu’afa bin Zakariya dlm Al Jalis As Shalih (3/151) dari Jalur Hisyam bin Muhammad bin Sa-ib Al Kalbi, dari ‘Awanah bin Hakam Al Kalbi dengan redaksi yang mirip. Semua perawi dalam sanad yang kedua ini tergolong tsiqah kecuali Hisyam Al Kalbi yang dianggap matruk walaupun hafalannya sangat luas dan tergolong ahli sejarah.</p>
<p>Bila diperhatikan, kelemahan yang ada pada Ibnu Jud’an bisa ditoleransi mengingat ia menyaksikan langsung peristiwa tersebut, dan hal ini lebih melekat pada ingatan daripada sekedar mendengar. Apalagi kisah yang senada juga diriwayatkan oleh ahli sejarah terkenal -walaupun dianggap matruk dalam hal hadits-, yaitu Hisyam Al Kalbi. Intinya kisah ini bisa diterima. Al Mizzi juga meriwayatkan kisah ini dari jalur Ibnu Jud’an dengan lafazh <em>jazm</em> (Qaala), yang berarti bahwa sanad kisah ini <em>laa ba’sa bihi</em>(tidak bermasalah) menurut beliau (lihat: Tahdzibul Kamal 3/373).</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[9] Lihat kisah selengkapnya dalam Al Jalis Ash Shalih (3/151-153) dan Tarikh Dimasyq</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[10] Al-Mustadrak 3/574, dengan sanad yang hasan. Fitnah yang pertama maksudnya peperangan antara Ali dengan Mu’awiyah, atau antara pasukan Syam yang dipimpin oleh Hajjaj melawan Ibnu Zubeir. Sedangkan fitnah yang terakhir maksudnya adalah pemberontakan Ibnul Asy’ats beserta warga Irak melawan Bani Umayyah.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[11] Diriwayatkan oleh Al Hakim dlm Mustadrak-nya dengan sanad yang sama, dari penuturan Muhammad bin Mughirah. Menurut  Hisyam Al Kalbi, surat Anas terhadap Abdul Malik bunyinya adalah: “Bismillahirrahmanirrahiem, untuk Abdul Malik bin Marwan dari Anas bin Malik… Amma ba’du, Hajjaj telah mengucapkan kata-kata keji dan memperdengarkan sesuatu yang munkar kepadaku, padahal aku tidaklah seperti itu. Maka tahanlah dia dariku sebab aku merupakan pembantu serta sahabat Rasulullah. Wassalaam” (Lihat: Al Bidayah wan Nihayah 9/153).</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[12] HR. Ahmad (no 12838) sebagaimana lafazh di atas, dan Bukhari (no 6657).</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[13] Al Bidayah wan Nihayah 9/155.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[14] Idem.</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;">[15] Al Bidayah wan Nihayah 9/66.</p>
</div>
</div>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (3)</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-1" rel="bookmark">Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (1)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-2" rel="bookmark">Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (2)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/berhujjah-dengan-hujjahnya-para-s" rel="bookmark">Berhujjah Dengan Hujjahnya Para Shahabat</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/sejarah-agama-syiah" rel="bookmark">Sejarah Agama Syi&#8217;ah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/maulud-nabi-dalam-timbangan-sejarah" rel="bookmark">Maulud Nabi Dalam Timbangan Sejarah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/hukum-parcel-bagi-pejabat" rel="bookmark">Hukum Parcel Bagi Pejabat</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4" rel="bookmark">Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (4)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/biografi-%e2%80%98umar-bin-al-khaththab-wafat-23-h" rel="bookmark">Biografi ‘Umar bin al-Khaththab (wafat 23 H)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/dialog-ibnu-abbas-dengan-khawarij" rel="bookmark">Dialog Ibnu Abbas Dengan Khawarij</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kisah-hijrah-ummul-mu%e2%80%99minin-ummu-salamah" rel="bookmark">Kisah Hijrah Ummul Mu’minin Ummu Salamah</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (2)</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-2</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-2#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 05:25:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi timur tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=933</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran 2 Bangunlah Rumah dari Bawah Erat kaitannya dengan pelajaran pertama, ibrah yang kedua ini mengajarkan kita bagaimana cara membangun ‘rumah’ yang benar. Setiap rumah pasti memiliki pondasi, dinding, dan atap. Nah, demikian pula suatu negara, pasti memiliki elemen-elemen penting yang menyusunnya. Undang-undang ibarat pondasi, sedangkan rakyat adalah dinding, dan pemerintah adalah atapnya. Bila kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h3 style="text-align: justify;" align="center">Pelajaran 2</h3>
<h4 style="text-align: justify;" align="center">Bangunlah Rumah dari Bawah</h4>
<p style="text-align: justify;">Erat kaitannya dengan <a title="Pelajaran Pertama" href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-1" target="_blank">pelajaran pertama</a>, ibrah yang kedua ini mengajarkan kita bagaimana cara membangun ‘rumah’ yang benar. Setiap rumah pasti memiliki pondasi, dinding, dan atap. Nah, demikian pula suatu negara, pasti memiliki elemen-elemen penting yang menyusunnya. Undang-undang ibarat pondasi, sedangkan rakyat adalah dinding, dan pemerintah adalah atapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila kita perhatikan berbagai revolusi tadi, ternyata semuanya menginginkan perubahan dari ‘atap’. Mereka tak mempedulikan keadaan pondasi dan dinding rumah yang hendak direnovasi. ‘Pokoknya, gentengnya harus kita ganti baru !’, seru mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal, apa artinya genteng baru yang mengkilap kalau pondasi dan dindingnya rapuh? Apa artinya presiden baru kalau undang-undang dan rakyatnya masih seperti dulu? Perubahan yang terjadi ibarat bunglon yang berganti warna kulit, sedangkan ia tetap bunglon. Kalau pun ada perubahan maka artinya tak seberapa, karena yang berubah hanyalah wajah penguasa, bukan sistem dan perilakunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini sebuah perbandingan sederhana antara perubahan dari bawah akibat dakwah, dan perubahan dari atas akibat revolusi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Sirah-nya, Ibnu Ishaq meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas, bahwa sejumlah tokoh musyrikin Quraisy pernah berkumpul di samping Ka’bah. Mereka berunding untuk menghentikan laju dakwah Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em>. Diutuslah seseorang untuk memanggil beliau. Begitu beliau datang, mereka segera memuntahkan segala uneg-uneg mereka tentang dakwah beliau. Mereka demikian kebakaran jenggot akibat dakwah tauhid yang diserukan Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut mereka, dakwah itu telah memecah belah kesatuan suku Quraisy. Beliau dituduh mencemooh ajaran leluhurnya, mencaci-maki berhala, membodoh-bodohkan keyakinan kaumnya, dan melakukan semua tindakan tercela yang merusak hubungan beliau dengan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka lantas berkata, “Kalaulah tujuanmu mendakwahkan itu semua adalah demi mencari harta, kami akan kumpulkan separuh harta kami untukmu, sehingga kamu menjadi orang yang paling kaya di antara kita. Tapi bila dakwahmu ini demi mencari status sosial, maka kami angkat kamu menjadi pemimpin kami. Namun <strong>bila engkau</strong> <strong>menghendaki</strong> <strong>kekuasaan</strong>, <strong>kami angkat dirimu menjadi raja</strong>. Sedang bila semua ajakanmu ini akibat gangguan setan (kesurupan), maka kami akan mencarikan tabib dan menanggung biaya pengobatanmu hingga sembuh”.</p>
<p style="text-align: justify;">Alangkah manisnya tawaran-tawaran tersebut. Dr. Ahmad an-Naqieb mengatakan, “Sebenarnya kalau dipikir, mengapa beliau tidak menerima tawaran tadi? Padahal jika beliau menjadi orang paling kaya, maka beliau bisa membeli budak dalam jumlah besar (10 ribu orang misalnya), lalu mempersenjatai mereka dan mengatakan kepada kaum musyrikin, “Pilih mana: kalian masuk Islam, atau mereka kusuruh menghabisi kalian?!” Bukankah dengan begitu beliau dapat menyukseskan misinya dengan mudah?”[1]</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> mengatakan, “Aku tak mengerti maksud ucapan kalian. Semua yang kudakwahkan kepada kalian bukanlah dalam rangka mencari kekayaan, status sosial, maupun kekuasaan. Akan tetapi Allah mengutusku sebagai Rasul, menurunkan kitab kepadaku, dan menyuruhku memberi kabar gembira dan peringatan bagi kalian. Maka kusampaikanlah risalah Allah dan kunasehati kalian. Jika kalian menerima ajakanku, maka itulah bagian kalian di dunia dan di akhirat. Namun jika kalian menolaknya, maka aku akan bersabar sampai Allah memutuskan perselisihan kita”.[2]</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau menolak semua tawaran tadi karena beliau memiliki misi utama, yaitu membenahi kondisi dan perilaku kaumnya. Allah berfirman:</p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="RTL">وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ (156) الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (157)</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"> “… dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, maka kelak akan Ku-tetapkan rahmat tersebut bagi orang-orang bertakwa yang menunaikan zakat, dan beriman kepada ayat-ayat Kami. Yaitu mereka yang mengikuti Rasulullah sebagai Nabi yang ummi (buta huruf); yang (namanya) mereka dapati tertulis dalam kitab Taurat dan Injil milik mereka. Ia menyuruh mereka berbuat ma’ruf, melarang mereka berbuat munkar, menghalalkan bagi mereka semua yang baik, mengharamkan bagi mereka semua yang buruk, serta mencabut segala belenggu dan beban yang sebelumnya mereka pikul. Maka siapa saja yang beriman kepadanya, mendukungnya, membelanya, dan mengikuti cahaya yang turun kepadanya (Al Qur’an), berarti mereka lah orang-orang yang beruntung” (al-A’raaf: 156-157).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Beliau menolak dijadikan penguasa atas mereka. Sebab selama mereka belum mau diberesi, maka percuma saja dikuasai.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun yang sering kita saksikan adalah sebaliknya. Sebagian orang justru demikian ambisius mencapai kekuasaan. Karenanya, mereka menempuh hampir segala cara demi mewujudkannya. Jalan dakwah terlalu panjang di mata mereka, dan mereka khawatir takkan sempat memetik buah manisnya karena terlalu lama.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka ingin mengadakan perubahan drastis dengan jalan pintas, yaitu merebut kekuasaan. Yang ‘agak sabar’ di antara mereka, menempuhnya lewat politik praktis dan parlemen. Namun yang tak sabar, meraihnya lewat kudeta dan revolusi.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua cara tadi telah dicoba di beberapa negara. Mesir, Turki, Sudan, Aljazair, dan Suriah adalah sebagian contohnya. Tak satupun dari negara tersebut yang berhasil dibenahi. Mesir masih identik dengan kerusakan moral dan ratusan kuburan keramatnya. Turki tetap identik dengan undang-undang sekulernya. Sudan kalah negoisasi dengan pihak Nasrani dan kini terpecah menjadi dua. Partai Islam Aljazair (FIS) gagal berkuasa setelah menang suara. Sedangkan 40 ribu warga kota <em>Hamah</em> di Suriah menjadi korban pembantaian setelah gagal melakukan kudeta ![3]</p>
<p style="text-align: justify;">Bandingkan kondisi negara-negara tersebut dengan penduduk jazirah Arab tiga abad yang lalu. Kondisi mereka jauh lebih mengenaskan dari kaum musyrikin di zaman Nabi <em>shallaahu ‘alaihi wasallam</em>. Kemusyrikan menjadi fenomena sehari-hari. Bid’ah, khurafat, dan takhayyul sudah bukan rahasia lagi. Sedangkan pembunuhan dan perampokan telah menjadi profesi.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun melalu dakwah <em>islahiyyah</em> yang diserukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, kondisi mereka berubah dari hari ke hari. Kemusyrikan dibasmi satu persatu dengan <em>hujjah</em> dan dalil. Kebodohan, bid’ah, khurafat, dan takhayul digantikan oleh ilmu, sunnah, akidah, dan amal. Pembunuhan dan perampokan berganti dengan keamanan; sedangkan kemiskinan berganti dengan kemakmuran.</p>
<p style="text-align: justify;">Simaklah ucapan sejarawan Najed terkenal di masanya yang mengatakan:</p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="RTL">“ولقد رأينا الدرعية بعد ذلك في زمن سعود بن عبد العزيز بن محمد بن سعود رحمهم الله تعالى، وما في أهلها من الأموال وكثرة الرجال والسلاح المحلى بالذهب والفضة، وعندهم الخيل الجياد والنجايب العمانيات، والملابس الفاخرة والرفاهيات ما يعجز عن عده اللسان، ويكل عن حصره الجنان والبنان. ولقد نظرت إلى موسمها يوماً وأنا في مكان مرتفع، وهو في الموضع المعروف بالباطن، بين منازلها الغربية التي فيها آل سعود والمعروفة بالطريف، وبين منازلها الشرقية، والمعروفة بالبجيري التي فيها أبناء الشيخ. ورأيت موسم الرجال في جانب وموسم النساء في جانب، وما فيه من الذهب والفضة والسلاح والإبل والأغنام، وكثرة ما يتعاطونه من صفقة البيع والشراء، والأخذ والعطاء، وغير ذلك، وهو مد البصر لا تسمع فيه إلا دوي النحل من النجناج، وقول: بعت واشتريت، والدكاكين على جانبيه الشرقي والغربي، وفيها من الهدم والقماش والسلاح ما لا يوصف، فسبحان من لا يزول سلطانه وملكه…”</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"> “Sungguh, kami pernah menyaksikan kota <em>Dir’iyyah</em>[4] pada zaman Su’ud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud, <em>rahimahumullah</em>. Alangkah banyak harta yang dimiliki warganya, di samping besarnya jumlah pasukan dan persenjataan berlapis emas dan perak. Demikian pula kuda-kuda dan unta-unta istimewa, pakaian-pakaian mewah, dan berbagai kemegahan yang sulit dibayangkan dalam hati maupun dilukiskan lewat kata-kata.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Aku pernah menyaksikan suatu pekan raya di <em>Dir’iyyah</em> dari sebuah tempat yang tinggi. Pekan tersebut berada di tempat bernama <em>Baathin</em>, yang terletak di antara perumahan keluarga Saud -yang dikenal dengan nama Thuraif- dan perumahan keluarga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab -yang dikenal dengan nama Bujairi-. Kulihat bahwa tempat laki-laki terpisah dari tempat perempuan. Kusaksikan betapa banyak emas, perak, senjata, unta, dan kambing. Betapa seringnya transaksi jual beli dan serah terima terjadi di sana. Pekan tersebut terlihat sejauh pandangan mata, dan yang terdengar hanyalah tempik sorak dan gemuruh pasar mirip dengungan lebah. Toko-toko berjejer di sebelah timur dan barat, penuh berisi pakaian, tekstil, dan senjata yang tak terbayangkan. Maha Suci Allah yang selalu abadi kekuasaan-Nya…”.[5]</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah sebuah perbandingan sederhana antara perjuangan lewat dakwah yang dibangun atas landasan tauhid dan sunnah Rasulullah <em>shallaahu ‘alaihi wasallam</em>, yang memakan waktu puluhan tahun… akan tetapi membuahkan hasil manis berupa tegaknya tauhid, runtuhnya symbol-simbol syirik, dan tegaknya syari’at Allah. Bandingkan dengan perjuangan lewat demokrasi dan revolusi yang dilakukan dalam waktu relatif singkat, akan tetapi tak pernah berujung pada tegaknya tauhid atau lenyapnya berbagai kemusyrikan.</p>
<p style="text-align: right;">Bersambung… &gt;&gt; Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (3)</p>
<div><br clear="all" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> sumber : basweidan.com</strong></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align: justify;">
<p>[1] Dr. Ahmad an-Naqieb adalah salah seorang Syaikh salafi di Mesir. Hal ini beliau sampaikan dalam salah satu <em>dars</em>-nya saat Mesir sedang rusuh oleh berbagai aksi unjuk rasa dan kerusuhan menjelang lengsernya Presiden Husni Mubarak.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[2] Lihat: As Sierah An Nabawiyyah, oleh Ibnu Hisyam (2/131-133). Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari berbagai jalur, dan semuanya dengan sanad yang terputus (mursal). Akan tetapi, riwayat-riwayat lemah seperti ini dalam sirah nabawiyah masih ditoleransi oleh para ulama. Apalagi Ibnu Ishaq adalah Imam dalam hal <em>maghazi</em> dan sirah nabawiyyah.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[3] Peristiwa berdarah ini merupakan operasi militer terbesar yang dilancarkan Presiden Hafizh Assad terhadap Ikhwanul Muslimin di Suriah. Pembantaian kaum muslimin ini terjadi mulai tanggal 2 Februari 1982 di kota Hamah, Suriah. Dan berlangsung hingga 27 hari berikutnya. Warga Hamah dikepung lalu digempur dengan menggunakan senjata berat, artileri, dan mortir hingga puluhan ribu jiwa menjadi korban. Kronologi selengkapnya bisa dibaca di: http://ar.wikipedia.org/wiki/مجزرة_حماة</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[4] Sebuah kota kecil di selatan ibukota Riyadh sekarang, yang dahulu merupakan ibukota Daulah Su’udiyyah I dan II. Daulah Su’udiyyah pernah berdiri dua kali. Periode pertama (1744-1818 M) adalah periode keemasannya. Kemudian disusul dengan periode kedua (1824-1891 M). Dan kemudian berubah menjadi Kerajaan Arab Saudi (1926-Sekarang).</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;">[5] Lihat: <em>‘Unwaanul Majd, fi Tariekhi Najd</em> (1/44), karya Al ‘Allamah Utsman bin Abdillah bin Bisyr. Sebagaimana yang dinukil dalam (الأطلس التاريخي للمملكة العربية السعودية ص 100). Syaikh Utsman bin Abdillah bin Bisyr adalah sejarawan Nejed yang hidup pada masa Daulah Su’udiyyah I.</p>
</div>
</div>
</div>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (2)</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-1" rel="bookmark">Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (1)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4" rel="bookmark">Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (4)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3" rel="bookmark">Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (3)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/tentang-makam-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam" rel="bookmark">Tentang Makam Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/sejarah-agama-syiah" rel="bookmark">Sejarah Agama Syi&#8217;ah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/fenomena-tki-di-arab-saudi" rel="bookmark">Fenomena TKI di Arab Saudi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/karakter-seorang-salafi" rel="bookmark">Karakter Seorang Salafi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/begini-seharusnya-seorang-salafi" rel="bookmark">Begini Seharusnya Seorang Salafi</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/studi-kritis-atas-kesesatan-buku-%e2%80%9csejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi%e2%80%9d" rel="bookmark">Studi Kritis Atas Kesesatan Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi”</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/partai-politik-menurut-ulama-salafi" rel="bookmark">Partai Politik Menurut Ulama Salafi</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (1)</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-1</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-1#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 04:45:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi timur tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=929</guid>
		<description><![CDATA[Revolusi Timur Tengah Baru-baru ini kita menyaksikan serangkaian peristiwa di Tunisia, Mesir, Libya, Bahrain, Yaman, dan Suriah. Mulai dari kaburnya Presiden Ben Ali mencari perlindungan, diikuti jatuhnya Rezim Mubarak pasca unjuk rasa besar-besaran, dan perang sengit antara Muammar Gaddafi melawan para demonstran. Dari Afrika, gelombang unjuk rasa berputar haluan menuju Bahrain, Yaman, dan Suriah. Wallahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h3 style="text-align: justify;">Revolusi Timur Tengah</h3>
<p style="text-align: justify;">Baru-baru ini kita menyaksikan serangkaian peristiwa di Tunisia, Mesir, Libya, Bahrain, Yaman, dan Suriah. Mulai dari kaburnya Presiden Ben Ali mencari perlindungan, diikuti jatuhnya Rezim Mubarak pasca unjuk rasa besar-besaran, dan perang sengit antara Muammar Gaddafi melawan para demonstran. Dari Afrika, gelombang unjuk rasa berputar haluan menuju Bahrain, Yaman, dan Suriah. Wallahu a’lam, negara mana lagi selanjutnya yang mendapat giliran.</p>
<p style="text-align: justify;">Korban jiwa berjatuhan. Puluhan di Tunisia, ratusan di Mesir &amp; Yaman, dan ribuan di Libya dan Suriah. Adapun yang luka-luka, maka tak terkira jumlahnya. Pembunuhan, penjarahan, perusakan, dan pelanggaran kehormatan, nampaknya menjadi harga mati setiap revolusi.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa ini mengingatkan penulis terhadap kerusuhan Mei 1998 yang melanda sejumlah kota di Indonesia. Di Jakarta, ribuan mahasiswa berunjuk rasa menuntut lengsernya Pak Harto yang telah berkuasa 32 tahun. Berbagai yel-yel diteriakkan oleh mereka. Mayoritas menuntut perbaikan ekonomi, sebagian menuntut kebebasan hak asasi, sebagian lagi sekedar mencari sensasi, namun sedikit sekali yang berjuang demi ridha ilahi.</p>
<p style="text-align: justify;">Elang Mulya, Hafidin Royan, Heri Hartanto, dan Hendriawan Sie adalah empat mahasiswa Trisakti yang terbunuh tanggal 12 Mei 1998. Nama mereka lantas diabadikan sebagai ‘Pahlawan Reformasi’.</p>
<p style="text-align: justify;">Mirip revolusi <em>yasmin</em> di Tunisia, terbunuhnya keempat mahasiswa tadi memicu kerusuhan besar di Jakarta dan Solo (kota asal saya). Tanggal 14-15 Mei merupakan hari-hari paling kelabu dalam sejarah <em>kota bengawan</em> ini. Kelabu bukan hanya dalam arti ‘menyedihkan’, namun kelabu dalam arti yang sesungguhnya. Pembakaran terjadi di mana-mana. Pertokoan, pusat perbelanjaan, dealer kendaraan, dan sebagian rumah warga adalah sasarannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Penjarahan dan pengrusakan oleh massa terjadi di hampir seluruh kota. Gerombolan perusuh berambut gondrong dan bertato terlihat melempari rumah warga dengan batu dan botol. Mereka hendak meluapkan emosi dengan gaya mereka, atau mungkin sekedar <em>iseng</em> dan membikin huru-hara. Tumpukan ban yang dibakar semakin menambah ‘kelabu’ suasana hari itu. Sejumlah aset milik etnis tionghoa menjadi sasaran utama mereka, bahkan banyak dari wanita mereka yang konon diperkosa !</p>
<p style="text-align: justify;">Kaum perusuh memang tak membedakan siapa kawan siapa lawan. Bagi mereka, kerusuhan adalah kesempatan emas untuk beraksi dan mencari kepuasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Malamnya, suasana demikian mencekam. Warga memasang barikade di mulut-mulut gang dan melakukan jaga malam. Saya sendiri termasuk yang ikut berjaga beberapa kali. Kota Solo terasa demikian sunyi karena sebagian besar warga memilih tinggal di rumah. Lagi pula, untuk apa keluar rumah? Toh kantor-kantor dan sekolah-sekolah libur total… toko-toko nyaris tak ada yang buka… dan jalan-jalan dipenuhi bangkai kendaraan yang terbakar !</p>
<p style="text-align: justify;">Pun demikian, lengsernya Pak Harto tanggal 21 Mei 1998 tak menghentikan kerusuhan begitu saja. Enam bulan kemudian, tragedi berdarah kembali terulang di Ibukota. Dan lagi-lagi, korbannya adalah pelajar dan mahasiswa.</p>
<p style="text-align: justify;">Agaknya, tumbangnya Pak Harto sebagai simbol rezim orba menumbangkan pula rasa takut rakyat terhadap penguasa. Presiden B.J. Habibie yang jenius ternyata tak punya wibawa… beda jauh dengan pendahulunya. Dan mulai saat itu, unjuk rasa menjadi pemandangan biasa di ibukota.</p>
<p style="text-align: justify;">Wibawa pemerintah pun semakin menurun. Baik periode Habibie, Gus Dur, Megawati, maupun SBY; semuanya diwarnai berbagai unjuk rasa. Kita menginginkan pemimpin yang jujur, adil, dan berpihak kepada Islam. Berbagai sarana ditempuh oleh kaum muslimin untuk memegang tampuk kekuasaan. Partai-partai yang berlabel Islam bermunculan bak cendawan di musim hujan. Umat pun bingung, siapa yang harus dipilih? Semuanya mengatasnamakan Islam dan semuanya menginginkan perubahan. Namun lagi-lagi hasilnya mengecewakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbagai peristiwa tadi, baik yang terjadi di timur tengah maupun di tanah air, tentu memiliki segudang pelajaran berharga. Sebab Ahlussunnah meyakini bahwa Allah tidak mungkin menciptakan sesuatu yang bersifat kejelekan seratus persen. Akan tetapi, sejelek apa pun takdir Allah, pasti di baliknya tersimpan sejumlah hikmah dan pelajaran.</p>
<h3 style="text-align: justify;" align="center">Pelajaran 1</h3>
<h4 style="text-align: justify;" align="center">Sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian</h4>
<p style="text-align: justify;">Mengapa kita sering membicarakan kejelekan pemerintah, namun melupakan kejelekan pribadi? Mengapa kita selalu mencela penguasa, dan tak pernah mencela berbagai penyimpangan kita? Sebenarnya, pemerintah adalah cermin rakyatnya. Ali bin Abi Thalib pernah ditanya oleh seseorang: “Mengapa saat Abu Bakar dan Umar menjabat sebagai khalifah kondisinya tertib, namun saat Utsman dan engkau yang menjadi khalifah kondisinya kacau? Jawab Ali: “Karena saat Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah, mereka didukung oleh orang-orang seperti aku dan Utsman, namun saat Utsman dan aku yang menjadi khalifah, pendukungnya adalah kamu dan orang-orang sepertimu”[1].</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, ketika penguasa seenaknya mengeruk kekayaan negara dan memenjarakan rakyat tak berdosa, penyebabnya adalah dosa rakyat yang melalaikan kewajiban dan tenggelam dalam maksiat. Demikian pula ketika rakyat memberontak dan menjatuhkan si penguasa, itupun akibat kesalahan penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, loyal kepada orang kafir, tenggelam dalam foya-foya dan menelantarkan urusan negara.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah mengatakan[2]: waliyyul amr, baik dari kalangan ulama’ maupun umara’, pasti punya banyak kesalahan. Akan tetapi, dalam sebuah atsar disebutkan <em>kamaa takuunuu, yuwalla ‘alaikum</em> (sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian)[3].</p>
<p style="text-align: justify;">Cobalah perhatikan kondisi masyarakat…</p>
<p style="text-align: justify;">Karakter pemimpin yang sesuai dengan rakyatnya adalah salah satu ketentuan Allah yang bijaksana. Allah berfirman:</p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="RTL">وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah Kami kuasakan orang-orang yang zhalim itu satu sama lain, sebagai akibat dari perbuatan mereka</p>
<p style="text-align: justify;">(al-An’am: 129).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula sebaliknya, Allah mengangkat pemimpin shalih bagi rakyat yang shalih. Jika kita perhatikan diri kita sebagai rakyat, ternyata kita pun sering meremehkan kewajiban, tenggelam dalam maksiat, curang dalam jual-beli, melakukan penipuan, pemalsuan, dan banyak lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Siapa yang meneliti kondisi umat Islam hari ini, pasti akan menyaksikan berbagai kekurangan dan kelemahan. Umat Islam adalah umat yang jujur, menepati janji, dan amanah. Akan tetapi semua sifat ini tak lagi dimiliki sekarang, kecuali pada segelintir orang yang masih dirahmati Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalaulah kita sendiri menyia-nyiakan amanah yang kita pikul padahal kita bukanlah penguasa besar, lantas bagaimana halnya dengan mereka yang menguasai kita? Boleh jadi lebih menyia-nyiakan lagi daripada kita. Akan tetapi, bersikaplah yang lurus, niscaya Allah menjadikan pemimpin kita bersikap lurus [..].</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnul Qayyim (w. 751 H) mengatakan: Cobalah perhatikan hikmah Allah yang menjadikan para penguasa sebanding dengan jenis perbuatan rakyatnya, bahkan tingkah laku rakyat menjadi cerminan penguasa mereka. Jika rakyat itu istiqamah (lurus), maka penguasanya pun lurus. Jika mereka adil, maka penguasa pun adil. Jika mereka zhalim, maka penguasa pun zhalim. Jika mereka terkenal suka menipu dan manipulasi, maka penguasanya pun seperti itu. Jika mereka menahan hak Allah terhadap harta mereka dan pelit dalam membayar zakat; maka penguasa akan menahan hak rakyatnya dan pelit terhadap mereka. Jika golongan lemah dari mereka menindas yang kuat dan mengambil yang bukan miliknya dalam bermuamalah, maka penguasa akan mengambil pula yang bukan miliknya dan mencekik mereka dengan berbagai pajak dan upeti. Semua yang mereka rampas dari pihak yang lemah, akan dirampas dari mereka oleh penguasa … jadi, para pejabat adalah potret perbuatan rakyat! Hikmah ilahi tidak punya ketentuan lain, selain menguasakan orang jahat atas sesamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Berhubung generasi pertama umat Islam adalah generasi terbaik, maka pemimpin mereka pun adalah pemimpin terbaik. Ketika mereka mulai menyimpang, pemimpin mereka pun menyimpang.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, kebijaksanaan Allah tak mengizinkan kita untuk dipimpin oleh orang-orang seperti Mu’awiyah radhiyallaahu ‘anhu dan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, apalagi oleh pemimpin seperti Abu Bakar dan Umar radhiyallaahu ‘anhuma. Akan tetapi, pemimpin kita adalah sesuai dengan kualitas kita. Dan pemimpin sebelum kita, juga sesuai dengan kualitas rakyatnya [..].[4]</p>
<p style="text-align: right;"><a title="Revolusi Timur Tengah" href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-2" target="_blank">Bersambung… ke &gt; Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (2)</a></p>
<div><br clear="all" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> sumber :  basweidan.com</strong></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div style="text-align: justify;">
<p>[1]  Lihat: Syadzaraat Adz Dzhahab 1/51.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[2] Beliau mengatakannya dalam acara Liqa’ al-baabil maftuh. Yaitu acara pertemuan antara beliau dengan masyarakat umum untuk tanya-jawab, yang diadakan di rumah beliau. Penjelasan ini disampaikan dalam pertemuan ke-50 dari total 236 pertemuan.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p>[3]  Ini adalah atsar Abu Ishaq As Sabi’iy, salah seorang ulama tabi’in asal Kufah yang terkenal sebagai ahli hadits dan ahli ibadah. Beliau lahir dua tahun menjelang berakhirnya kekhalifahan Utsman, dan wafat sekitar tahun 129 H. keluasan ilmu beliau di bidang hadits disejajarkan dengan Imam Ibnu Syihab Az Zuhri.</p>
</div>
<div>
<p style="text-align: justify;">[4] Lihat: <em>Miftaah Daaris Sa’aadah</em> (2/168-169).</p>
</div>
</div>
</div>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (1)</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-4" rel="bookmark">Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (4)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-2" rel="bookmark">Mendulang Hikmah di Balik Revolusi Timur Tengah (2)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-dari-revolusi-timur-tengah-3" rel="bookmark">Mendulang Hikmah dari Revolusi Timur Tengah (3)</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/pemimpin-yang-menipu" rel="bookmark">Pemimpin Yang Menipu</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/sejarah-agama-syiah" rel="bookmark">Sejarah Agama Syi&#8217;ah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/hari-raya-ikut-siapa" rel="bookmark">Hari Raya Ikut Siapa ?</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/hukum-parcel-bagi-pejabat" rel="bookmark">Hukum Parcel Bagi Pejabat</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/umar-bin-abdul-aziz-dan-lilin-negara" rel="bookmark">Umar bin Abdul Aziz dan Lilin Negara</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/maulud-nabi-dalam-timbangan-sejarah" rel="bookmark">Maulud Nabi Dalam Timbangan Sejarah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/syura-dalam-pandangan-islam-dan-demokrasi" rel="bookmark">Syura Dalam Pandangan Islam Dan Demokrasi</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/mendulang-hikmah-di-balik-revolusi-timur-tengah-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 Kerusakan Dalam Perayaan Tahun Baru</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/10-kerusakan-dalam-perayaan-tahun-baru</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/10-kerusakan-dalam-perayaan-tahun-baru#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 05:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab dan Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=924</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em><a href="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2011/12/Tahun-2012.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-925" title="Tahun 2012" src="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2011/12/Tahun-2012-300x208.jpg" alt="Tahun 2012 300x208 10 Kerusakan Dalam Perayaan Tahun Baru" width="300" height="208" /></a>Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad</em><em>, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga artikel yang singkat ini bisa menjawabnya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Sejarah Tahun Baru Masehi</h3>
<p style="text-align: justify;">Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.[1]</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru ini terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut adalah beberapa kerusakan akibat seorang muslim merayakan tahun baru.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram</h4>
<p style="text-align: justify;">Perlu diketahui bahwa perayaan (’ied) kaum muslimin ada dua yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan,</p>
<h3 style="text-align: right;">كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’”[2]</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (’ied) di tengah kaum muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar perayaan yang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>maksudkan sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Perhatikan penjelasan <em>Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’</em>, komisi fatwa di Saudi Arabia berikut ini:</strong><br />
Al Lajnah Ad Da-imah mengatakan, “Yang disebut ‘ied atau hari perayaan secara istilah adalah semua bentuk perkumpulan yang berulang secara periodik boleh jadi tahunan, bulanan, mingguan atau semisalnya. Jadi dalam ied terkumpul beberapa hal:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Hari yang berulang semisal idul fitri dan hari Jumat.</li>
<li>Berkumpulnya banyak orang pada hari tersebut.</li>
<li>Berbagai aktivitas yang dilakukan pada hari itu baik berupa ritual ibadah ataupun non ibadah.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Hukum ied (perayaan) terbagi menjadi dua:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Ied yang tujuannya adalah beribadah, mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan hari tersebut dalam rangka mendapat pahala, atau</li>
<li>Ied yang mengandung unsur menyerupai orang-orang jahiliah atau golongan-golongan orang kafir yang lain maka hukumnya adalah bid’ah yang terlarang karena tercakup dalam sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,<br />
<h3 style="text-align: right;">مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ<strong> </strong></h3>
<p>“Barang siapa yang mengada-adakan amal dalam agama kami ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Misalnya adalah peringatan maulid nabi, hari ibu dan hari kemerdekaan. Peringatan maulid nabi itu terlarang karena hal itu termasuk mengada-adakan ritual yang tidak pernah Allah izinkan di samping menyerupai orang-orang Nasrani dan golongan orang kafir yang lain. Sedangkan hari ibu dan hari kemerdekaan terlarang karena menyerupai orang kafir.”[3] -Demikian penjelasan Lajnah-</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu pula perayaan tahun baru termasuk perayaan yang terlarang karena menyerupai perayaan orang kafir.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir</h4>
<p style="text-align: justify;">Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Abu Hurairah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<h3 style="text-align: right;">« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“[4]</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<h3 style="text-align: right;">لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” [5]</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">An Nawawi -<em>rahimahullah</em>- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan <em>syibr</em> (sejengkal) dan <em>dziro’</em>(hasta) serta lubang <em>dhob</em> (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”[6]</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Apa yang beliau katakan memang benar-benar terjadi saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Ingatlah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (<em>tasyabbuh</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau bersabda,</p>
<h3 style="text-align: right;">مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [7]</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[8]</p>
<h4 style="text-align: justify;">Kerusakan Ketiga: Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru</h4>
<p style="text-align: justify;">Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini berasal dari orang kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara orang-orang jahil ada yang mensyari’atkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun. <strong><em>“Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama’ah di masjid. Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada manfaatnya”</em>,</strong> demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh. Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari’atkan amalan tertentu ketika itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika ada yang mengatakan, <em>“Daripada menunggu tahun baru diisi dengan hal yang tidak bermanfaat, mending diisi dengan dzikir. Yang penting kan niat kita baik.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud,</p>
<h3 style="text-align: right;">وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Mas’ud lantas berkata,</p>
<h3 style="text-align: right;">وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.” [9]</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Kerusakan Keempat: Terjerumus dalam Keharaman dengan Mengucapkan Selamat Tahun Baru</h4>
<p style="text-align: justify;">Kita telah ketahui bersama bahwa tahun baru adalah syiar orang kafir dan bukanlah syiar kaum muslimin. Jadi, tidak pantas seorang muslim memberi selamat dalam syiar orang kafir seperti ini. Bahkan hal ini tidak dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’).</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah <em>Ta’ala</em>.”[10]</p>
<h4 style="text-align: justify;">Kerusakan Kelima: Meninggalkan Perkara Wajib yaitu Shalat Lima Waktu</h4>
<p style="text-align: justify;">Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari, kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali. <em>Na’udzu billahi min dzalik.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa itu termasuk dosa besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnul Qoyyim -<em>rahimahullah</em>- mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”[11]</p>
<p style="text-align: justify;">Adz Dzahabi –<em>rahimahullah</em>- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).”[12]</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pun mengancam dengan kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu. Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<h3 style="text-align: right;">الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”[13] Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Dengan merayakan tahun baru, seseorang dapat pula terluput dari amalan yang utama yaitu shalat malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<h3 style="text-align: right;">أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[14]</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Shalat malam adalah sebaik-baik shalat dan shalat yang biasa digemari oleh orang-orang sholih. Seseorang pun bisa mendapatkan keutamaan karena bertemu dengan waktu yang mustajab untuk berdo’a yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Sungguh sia-sia jika seseorang mendapati malam tersebut namun ia menyia-nyiakannya. Melalaikan shalat malam disebabkan mengikuti budaya orang barat, sungguh adalah kerugian yang sangat besar.<strong></strong></p>
<h4 style="text-align: justify;">Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat</h4>
<p style="text-align: justify;">Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i dibenci oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,</p>
<h3 style="text-align: right;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[15]</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[16] Apalagi dengan begadang, ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!</p>
<h4 style="text-align: justify;">Kerusakan Ketujuh: Terjerumus dalam Zina</h4>
<p style="text-align: justify;">Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari <em>ikhtilath </em>(campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi. Padahal dengan melakukan seperti pandangan, tangan dan bahkan kemaluan telah berzina. Ini berarti melakukan suatu yang haram.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<h3 style="text-align: right;">كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”[17]<strong></strong></p>
</blockquote>
<h4 style="text-align: justify;">Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin</h4>
<p style="text-align: justify;">Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<h3 style="text-align: right;">الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”[18]</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.”[19] Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!<strong></strong></p>
<h4 style="text-align: justify;">Kerusakan Kesembilan: Meniru Perbuatan Setan dengan Melakukan Pemborosan</h4>
<p style="text-align: justify;">Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Masya Allah sangat banyak sekali jumlah uang yang dibuang sia-sia. Itulah harta yang dihamburkan sia-sia dalam waktu semalam untuk membeli petasan, kembang api, mercon, atau untuk menyelenggarakan pentas musik, dsb. Padahal Allah <em>Ta’ala</em> telah berfirman,</p>
<h3 style="text-align: right;">وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Qs. Al Isro’: 26-27)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauh sikap boros dengan mengatakan: <em>“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.”</em>Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.”[20]</p>
<h4 style="text-align: justify;">Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga</h4>
<p style="text-align: justify;">Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang,</p>
<h3 style="text-align: right;">مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” [21]</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang.Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “<em>(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.</em>”[22]</p>
<p style="text-align: justify;">Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<h3 style="text-align: right;">أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ</h3>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (Qs. Fathir: 37). Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu. Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.”[23]</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Inilah di antara beberapa kerusakan dalam perayaan tahun baru. Sebenarnya masih banyak kerusakan lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam tulisan ini karena saking banyaknya. Seorang muslim tentu akan berpikir seribu kali sebelum melangkah karena sia-sianya merayakan tahun baru. Jika ingin menjadi baik di tahun mendatang bukanlah dengan merayakannya. Seseorang menjadi baik tentulah dengan banyak bersyukur atas nikmat waktu yang Allah berikan. Bersyukur yang sebenarnya adalah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dengan berbuat maksiat dan bukan dengan membuang-buang waktu dengan sia-sia. Lalu yang harus kita pikirkan lagi adalah apakah hari ini kita lebih baik dari hari kemarin? Pikirkanlah apakah hari ini iman kita sudah semakin meningkat ataukah semakin anjlok! Itulah yang harus direnungkan seorang muslim setiap kali bergulirnya waktu.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam saat ini. Perbaikilah keadaan saudara-saudara kami yang jauh dari aqidah Islam. Berilah petunjuk pada mereka agar mengenal agama Islam ini dengan benar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Qs. Hud: 88)</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Disempurnakan atas nikmat Allah di Pangukan-Sleman, 12 Muharram 1431 H</p>
<p style="text-align: justify;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal<br />
Sumber : artikel www.muslim.or.id</p>
<div>
<hr />
<div id="ftn1" style="text-align: justify;">[1] Sumber bacaan: http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_baru</div>
<div id="ftn2" style="text-align: justify;">[2] HR. An Nasa-i no. 1556. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih.</em></div>
<div id="ftn3" style="text-align: justify;">[3]<em> Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta</em>‘, 3/88-89, Fatwa no. 9403, Mawqi’ Al Ifta’.</div>
<div id="ftn4" style="text-align: justify;">[4] HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah.</div>
<div id="ftn5" style="text-align: justify;">[5] HR. Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al Khudri.</div>
<div id="ftn6" style="text-align: justify;">[6]<em> Al Minhaj Syarh Shohih Muslim</em>, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, 16/220, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, cetakan kedua, 1392.</div>
<div id="ftn7" style="text-align: justify;">[7] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam <em>Iqtidho</em>‘ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini <em>jayid</em>/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shohih</em> sebagaimana dalam <em>Irwa’ul Gholil</em> no. 1269.</div>
<div id="ftn8" style="text-align: justify;">[8] Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam <em>Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim</em>, 1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H.</div>
<div id="ftn9" style="text-align: justify;">[9] HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid (bagus).</div>
<div id="ftn10" style="text-align: justify;">[10]<em> Ahkam Ahli Dzimmah</em>, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.</div>
<div id="ftn11" style="text-align: justify;">[11] <em>Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha</em>, hal. 7, Dar Al Imam Ahmad</div>
<div id="ftn12" style="text-align: justify;">[12] <em>Al Kaba’ir</em>, hal. 26-27, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.</div>
<div id="ftn13" style="text-align: justify;">[13] HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat <em>Misykatul Mashobih</em> no. 574</div>
<div id="ftn14" style="text-align: justify;">[14] HR. Muslim no. 1163</div>
<div id="ftn15" style="text-align: justify;">[15] HR. Bukhari no. 568</div>
<div id="ftn16" style="text-align: justify;">[16] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah.</div>
<div id="ftn17" style="text-align: justify;">[17] HR. Muslim no. 6925</div>
<div id="ftn18" style="text-align: justify;">[18] HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41</div>
<div id="ftn19" style="text-align: justify;">[19] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 1/38, Asy Syamilah</div>
<div id="ftn20" style="text-align: justify;">[20] Lihat <em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</em>, 5/69, pada tafsir surat Al Isro’ ayat 26-27</div>
<div id="ftn21" style="text-align: justify;">[21] HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam <em>Shohih wa Dho’if  Sunan Tirmidzi</em> mengatakan bahwa hadits ini <em>shohih</em>.</div>
<div id="ftn22" style="text-align: justify;">[22] <em>Al Fawa’id</em>, hal. 33</div>
<div id="ftn23" style="text-align: justify;">[23] Lihat <em>Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</em>, 6/553, pada tafsir surat Fathir ayat 37.</div>
</div>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan 10 Kerusakan Dalam Perayaan Tahun Baru</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/hukum-mengadakan-pengajian-pada-hari-tertentu" rel="bookmark">Hukum Mengadakan Pengajian Pada Hari Tertentu</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/menyambut-idul-fithri" rel="bookmark">Menyambut Idul Fithri</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/bentuk-loyal-kepada-orang-kafir" rel="bookmark">Bentuk Loyal Kepada Orang Kafir</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/maulud-nabi-dalam-timbangan-sejarah" rel="bookmark">Maulud Nabi Dalam Timbangan Sejarah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kebiasaan-tidur-pagi-itu-berbahaya" rel="bookmark">Kebiasaan Tidur Pagi Itu Berbahaya</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/hari-raya-ikut-siapa" rel="bookmark">Hari Raya Ikut Siapa ?</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/keutamaan-puasa-ramadhan" rel="bookmark">Keutamaan Puasa Ramadhan</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/shalat-dhuha-di-kantor-bolehkah" rel="bookmark">Shalat Dhuha Di Kantor, Bolehkah ?</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/hukum-parcel-bagi-pejabat" rel="bookmark">Hukum Parcel Bagi Pejabat</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/membayar-zakat-fithri-qurban-dan-aqiqah-dengan-uang" rel="bookmark">Membayar Zakat Fithri, Qurban Dan Aqiqah Dengan Uang</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/10-kerusakan-dalam-perayaan-tahun-baru/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perang Wailah menjadi Duri di Kerongkongan Syi&#8217;ah</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/perang-wailah-menjadi-duri-di-kerongkongan-syiah</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/perang-wailah-menjadi-duri-di-kerongkongan-syiah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 13:59:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=921</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 4 Safar 1433 (29 Desember 2011) Berita Jihad Dari Bumi Wailah Medan perang Wailah menjadi duri di kerongkongan orang-orang Rafidhah, kemenangan yang terus-menerus -dengan karunia Allah-. Dalam dua hari ini mujahidin Ahlus Sunnah terus maju kedepan dan menguasai 3 bukit yang sangat strategis. Ini membuat Rafidhah menjadi patah semangat dan menggambarkan seakan-akan Ahlus Sunnah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><img class="attachment-266x266 alignleft" style="font-size: 13px; font-weight: normal; text-align: -webkit-auto; border-style: initial; border-color: initial;" title="dammaj 11" src="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2011/12/dammaj-11-300x150.jpg" alt="dammaj 11 300x150 Perang Wailah menjadi Duri di Kerongkongan Syiah" width="266" height="133" />Kamis, 4 Safar 1433 (29 Desember 2011)</h3>
<h3 style="text-align: justify;">Berita Jihad Dari Bumi Wailah</h3>
<p style="text-align: justify;">Medan perang Wailah menjadi duri di kerongkongan orang-orang Rafidhah, kemenangan yang terus-menerus -<em>dengan karunia Allah</em>-. Dalam dua hari ini <em>mujahidin</em> Ahlus Sunnah terus maju kedepan dan menguasai 3 bukit yang sangat strategis. Ini membuat Rafidhah menjadi patah semangat dan menggambarkan seakan-akan Ahlus Sunnah bukan dari golongan manusia. Juga mereka tidak mampu mengambil kembali tempat-tempat yang telah dikuasai Ahlus Sunnah.</p>
<p style="text-align: justify;">Telah terjadi komunikasi dengan salah satu komandan di medan perang. Beliau menceritakan, ikhwah datang berbondong-bondong maju ke medan perang sampai kami merasa khawatir dengan mereka. Dan semangat mereka sangat luar biasa sekali seakan-akan hendak memakan orang-orang Rafidhah tanpa perlu membunuh mereka! Bahkan mereka berlomba-lomba hendak maju ke garis depan. Komandan tadi menceritakan, kami tembakkan peluru mortar ke salah satu penembak Rafidhah yang bersenjata senapan mesin kaliber 12,7 mm, dan dia banyak sekali menyusahkan <em>mujahidin.</em> Kami tidak mengetahui hasilnya kecuali setelah terdengar ledakan mengenainya dan asap membumbung tinggi, suatu peristiwa yang mencengangkan!</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian aku bertanya lagi, kami mendengar disana ada tim mediator untuk perdamaian. Dia menjawab, kami mendengar mereka membicarakan tentang perdamaian, akan tetapi kami tidak pernah berfikir untuk berdamai. <em>Ikhwah</em> yang lain juga bercerita, disana ada penembak Rafidhy busuk sekali dan telah melukai beberapa orang <em>mujahidin</em> kemudian <em>mujahidin</em> mengepungnya dari berbagai arah. Dia tidak menyadarinya kecuali setelah mereka berada di depannya, kemudian dia minta kepada <em>mujahidin</em> untuk dibiarkan berbicara dengan ibunya sebelum dibunuh. Maka ikhwah mengatakan: sekarang kamu berkata seperti ini! Sebelumnya kamu telah menyebabkan saudara-saudara kami terluka! Setelah itu ikhwah membunuhnya dengan segera -<em>semoga Allah memburukkannya</em>-.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa ini mengingatkan kepada kami tentang seorang tawanan yang berusaha menyusup ke Wailah kemudian ditangkap oleh mujahidin bersama senjatanya. Ketika ditanya: apa tujuanmu kesini? Dia menjawab : mencari ibunya ! Juga ada sebuah peristiwa yang lebih aneh lagi dari itu, ikhwah <em>mujahidin</em> mendapati telepon genggam dari orang-orang Rafidhah yang terbunuh, tiba-tiba telpon tersebut berdering, kemudian ikhwah mengangkatnya dan bertanya : dari siapa ini ? dia balik bertanya : dimana pemilik telpon ini ? dijawab telah terbunuh, kemudian ditanya lagi : siapa anda? Dia menjawab : aku ibunya seraya berkata: wahai Ahlus Sunnah! Kuburkanlah anakku dengan baik, demi Allah, orang-orang Rafidhah telah membawanya dengan paksa padahal dia tidak mau! Maka aku berkata : <em>Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un</em>. Dan bayak sekali ikhwah menceritakan : kami mendapatkan gambar-gambar telanjang di telpon genggam mereka!</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bertanya kepada Abu Hatim pimpinan markaz penerimaan Mujahidin tentang banyaknya <em>mujahidin</em> yang datang berbondong-bondong ke medan perang Wailah. Maka beliau menjawab : sangat mengherankan!! Puluhan mobil dipersenjatai dengan senjata lengkap datang ke Wailah, ratusan <em>mujahidin</em> datang dari mana-mana dengan senjata-senjata mereka, semuanya mencari medan perang di garis depan, ini semua berkat karunia Allah semata, adapun kematian di pihak Rafidhah, keadaan mereka seakan-akan digiring menuju kematian !!</p>
<h3 style="text-align: justify;">Penjara Rahasia Milik Rafidhah</h3>
<p style="text-align: justify;">Kantor berita<em> As-Syirq Al-Ausath</em> menukil berita dari saksi mata, diantaranya para Masyaikh, anggota parlemen, tokoh masyarakat dari dua propinsi, Sha’dah dan ‘Imran tentang adanya penjara rahasia milik Rafidhah. Mereka menangkap orang-orang yang menyelisihi madzhab ataupun pendapatnya tanpa kuputusan pengadilan ataupun tuduhan yang beralasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Para saksi mata juga menyatakan bahwa para tahanan di penjara rahasia tidak diketahui keadaan mereka karena siapun orangnya dilarang mengunjungi ataupun datang ke sana. Anggota parlemen yang bernama Syaikh Shaghir bin Aziz yang memimpin rombongan anggota parlemen dan masyarakat untuk menghapuskan blokade di Dammaj. Juga berkunjung ke penjara rahasia di Sha’dah, memaparkan kepada kantor berita<em> As-Syirq Al-Ausath</em>, bahwasanya orang-orang Rafidhah sejak 8 tahun yang lalu di Sha’dah dan beberapa Propinsi, di Jauf dan Hajjah, menangkapi orang-orang yang berseberangan dengan madzhab dan golongannya kemudian melakukan pembersihan fisik alias membunuh orang-orang tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Di wilayah Sufyan, ada sekitar 17 orang yang diculik oleh orang-orang Rafidhah tanpa diketahui rimbanya! Anggota parlemen tersebut menambahkan : penjara-penjara rahasia tersebut berada ditempat yang jauh, di gunung-gunung, di goa-goa, yang penting jauh dari pemukiman penduduk, di dalamnya terdapat alat-alat penyiksaan yang tidak bisa dibayangkan oleh akal.</p>
<p style="text-align: justify;">Kantor berita <em>As-Syirq Al-Ausath</em> menelepon salah satu orang yang ditangkap oleh orang-orang Rafidhah selama satu bulan, tanpa tahu sebab kenapa dia ditangkap dan atas tuduhan apa dia diperlakukan seperti itu, orang ini bernama Sulton Al-Marhaby. Menceritakan apa yang dialaminya dan berkata : aku tinggal di penjara selama sebulan penuh dan aku tidak tahu tuduhan apa yang ditujukan kepadaku! Ketika ditanya : dimana dia dipenjara ? dia menjawab : aku tidak tahu, aku ditangkap dalam keadaan tertutup kedua-mataku dan terikat kedua tanganku, barang siapa yang berusaha menggerakkan tangannya ke arah penutup matanya untuk membukanya maka mereka meletakkan moncong senjatanya ke kepalanya dan mengancam : kalau sekali lagi mengangkat tangannya akan dibunuh! Kemudian dia menambahkan: mereka memaksaku bermalam di tempat yang dingin dan meminta kepadaku untuk mengakui bahwa aku punya hubungan dengan Amerika dan Yahudi dan memaksaku untuk menunjukkan data-data tentang Amerika dan Israel maka aku jawab: aku tidak tahu dimana Amerika dan Yahudi di Yaman. Mereka memukuli wajahku dan menendang seluruh tubuhku bahkan memukuliku dengan cambuk sampai hilang rasa sakit ditubuhku karena banyaknya pukulan yang telah aku terima! Juga memaksaku bermalam di tempat terbuka dan aku mendengar dari mereka penghinaan di luar yang aku bisa bayangkan serta menganggapku anteknya Amerika dan Yahudi !</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber berita dari Ma’rib Press dengan beberapa peringkasan.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Penyusun: Ustadz Abu Sa’ad M.Nur Huda, MA.<br />
Artikel Muslim.Or.Id</p>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Perang Wailah menjadi Duri di Kerongkongan Syi'ah</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kondisi-ahlussunnah-di-dammaj-yaman-25-muharram-1433h" rel="bookmark">Kondisi Ahlussunnah di Dammaj Yaman 25 Muharram 1433H</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/berita-besar-dari-bumi-wailah-kedatangan-rombongan-masyaikh" rel="bookmark">Berita Besar dari Bumi Wailah, Kedatangan Rombongan Masyaikh</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/berita-dari-medan-perang-kitaaf-yamman-krisis-dammaj" rel="bookmark">Berita Dari Medan Perang Kitaaf &#8211; Yamman [Krisis Dammaj]</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kedustaan-terus-menerus-dari-syiah-rafidhah" rel="bookmark">Kedustaan Terus Menerus dari Syi&#8217;ah Rafidhah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/berita-dari-medan-perang-wailah-yaman" rel="bookmark">Berita Dari Medan Perang Wailah &#8211; Yaman</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/tidak-ada-perdamaian-dengan-rafidhah" rel="bookmark">Tidak Ada Perdamaian Dengan Rafidhah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/mediator-mengusir-paksa-rafidhah-dari-gunung-al-masyrahah" rel="bookmark">Mediator Mengusir Paksa Rafidhah dari Gunung Al-Masyrahah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/syarat-syarat-syaikh-yahya-dan-warga-dammaj" rel="bookmark">Syarat-Syarat Syaikh Yahya dan warga Dammaj</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kondisi-ahlussunnah-di-dammaj-16-muharram-1433-h" rel="bookmark">Kondisi Ahlussunnah di Dammaj 16 Muharram 1433 H</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kondisi-dammaj-15-muharram-1433-h" rel="bookmark">Kondisi Dammaj 15 Muharram 1433 H</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/perang-wailah-menjadi-duri-di-kerongkongan-syiah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mediator Mengusir Paksa Rafidhah dari Gunung Al-Masyrahah</title>
		<link>http://www.mediamuslim.org/mediator-mengusir-paksa-rafidhah-dari-gunung-al-masyrahah</link>
		<comments>http://www.mediamuslim.org/mediator-mengusir-paksa-rafidhah-dari-gunung-al-masyrahah#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 13:35:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu rasyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mediamuslim.org/?p=919</guid>
		<description><![CDATA[Rabu, 3 Safar 1433 (28 Desember 2011) Hari berganti, tim Mediator telah mengusir dengan paksa orang-orang Rafidhah dari gunung Al-Masyrahah, Abdul-Karim dan Al-Wathon adapun di Al-Qunu’ mereka bersikeras tetap tinggal disana. Walaupun mereka bersikap keras, ikhwah Mujahidin di medan perang Kitaaf telah mendapatkan kemenangan yang sangat besar -segala puji dan ni’mah hanya dari Allah semata- [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: justify;">Rabu, 3 Safar 1433 (28 Desember 2011)</h3>
<p style="text-align: justify;">Hari berganti, tim Mediator telah mengusir dengan paksa orang-orang Rafidhah dari gunung Al-Masyrahah, Abdul-Karim dan Al-Wathon adapun di Al-Qunu’ mereka bersikeras tetap tinggal disana. Walaupun mereka bersikap keras, <em>ikhwah</em> Mujahidin di medan perang Kitaaf telah mendapatkan kemenangan yang sangat besar -<em>segala puji dan ni’mah hanya dari Allah semata</em>- juga semoga Allah memberikan kebaikan kepada tim Mediator yang telah bekerja keras, suatu hal yang patut disyukuri. Juga peringatan bahwa perjanjian tersebut sangat rapuh karena Rafidhah dikenal dengan kedustaan dan penghianatannya. Juga dibutuhkan perhatian terhadap <em>ikhwah</em> yang terluka dan telah dibawa ke Shan’a, perhatian <em>ikhwah</em> yang dibutuhkan diantaranya :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Semoga Allah memberikan kebaikan kepada ikhwah yang telah mengirimkan hartanya untuk Mujahidin yang terluka, insya Allah sudah tepat pada tempatnya, walaupun masih belum cukup untuk kondisi sekarang dan Syaikh Yahya telah mewasiatkan untuk memberikan perhatian kepada Mujahidin yang terluka.</li>
<li><em>Ikhwah</em> telah mengirimkan madu dalam jumlah yang cukup dan masih dalam perjalanan, ini sangat baik bagi yang sakit dan masih kami harapkan tambahan untuk itu.</li>
<li>Barang siapa yang berkehendak membantu <em>ikhwah</em> yang luka-luka, <em>semoga Allah membalas kebaikan kepadanya</em>, terutama yang keadaannya sangat berbahaya sekali. Aku telah melihat luka-luka yang disebabkan tembakan senapan yang berkaliber besar menimbulkan lubang yang cukup dalam bahkan tampak tulang bagian dalamnya. Karena Rafidhah menggunakan peluru dengan kaliber besar, yang peluru tersebut meledak dan membakar tempat yang terkena. Kami memohon keselamatan hanya kepada Allah, kami menghimbau kepada <em>ikhwah</em> untuk memberikan perhatian yang besar kepada <em>ikhwah</em> yang terluka. Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada anda sekalian.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber berita dari Al-Akh Kholid bin Muhammad Al-Ghurbany. </em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Penyusun: Ustadz Abu Sa’ad M.Nur Huda, MA.<br />
Artikel Muslim.Or.Id</p>
<div id="seo_alrp_related"><h3>Artikel yang berkaitan dengan Mediator Mengusir Paksa Rafidhah dari Gunung Al-Masyrahah</h3><ul><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/berita-dari-medan-perang-kitaaf-yamman-krisis-dammaj" rel="bookmark">Berita Dari Medan Perang Kitaaf &#8211; Yamman [Krisis Dammaj]</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kedustaan-terus-menerus-dari-syiah-rafidhah" rel="bookmark">Kedustaan Terus Menerus dari Syi&#8217;ah Rafidhah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kondisi-ahlussunnah-di-dammaj-yaman-25-muharram-1433h" rel="bookmark">Kondisi Ahlussunnah di Dammaj Yaman 25 Muharram 1433H</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kondisi-ahlussunnah-di-dammaj-16-muharram-1433-h" rel="bookmark">Kondisi Ahlussunnah di Dammaj 16 Muharram 1433 H</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/kondisi-dammaj-15-muharram-1433-h" rel="bookmark">Kondisi Dammaj 15 Muharram 1433 H</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/tidak-ada-perdamaian-dengan-rafidhah" rel="bookmark">Tidak Ada Perdamaian Dengan Rafidhah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/61-hari-sejak-blokade-dammaj-di-yaman-oleh-syiah" rel="bookmark">61 hari sejak blokade Dammaj di Yaman oleh Syiah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/berita-dari-medan-perang-wailah-yaman" rel="bookmark">Berita Dari Medan Perang Wailah &#8211; Yaman</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/perang-wailah-menjadi-duri-di-kerongkongan-syiah" rel="bookmark">Perang Wailah menjadi Duri di Kerongkongan Syi&#8217;ah</a></h5></div></li><li><div class="seo_alrp_rl_content"><h5><a href="http://www.mediamuslim.org/berita-besar-dari-bumi-wailah-kedatangan-rombongan-masyaikh" rel="bookmark">Berita Besar dari Bumi Wailah, Kedatangan Rombongan Masyaikh</a></h5></div></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mediamuslim.org/mediator-mengusir-paksa-rafidhah-dari-gunung-al-masyrahah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

