MUQADIMAH


 بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Segala puji hanya bagi Allah. Kami memuji, memohon pertolongan, dan arnpunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu dan buruknya amal perbuatan kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh-Nya, maka tidak ada seorangpun yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah hamba dan Rasul-Nya. Shalawat dan salam semoga terlimpah atas para kerabat beliau, Sahabat, dan siapa saja yang berpegang pada petunjuk dan Sunnah beliau hingga hari Kiamat.

Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan petunjuk dan agama yang benar untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Dia menurunkan al-Kitab dan al-Hikmah (yaitu Sunnah) kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia memerintahkan agar beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengikuti apa yang diturunkan kepadanya dan berpaling dari selainnya.

Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 “Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabb-mu; tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Dia; dan berpalinglah dari orang – orang musyrik.” (QS. Al-An’aam:106)

Dia juga memerintahkan pengikut beliau dengan apa yang Dia perintahkan kepada beliau.

Dia Subhanahu wa Ta’ala :

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu dan janganlah kamu mengikut pemimpin-pemimpin selain-Nya…” (QS. Al-A’raaf:3)

Dia melarang mereka dari menyelisihi Al-Qur’an.

Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang – orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi Mahamengetahui” (QS. Al Hujurat :1)

Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata :

“Janganlah kalian mengatakan sesuatu yang menyelisihi al-Kitab (Al-Qur’an) dan as-Sunnah” (Tafsiir Ibnu Katsir V/412)

Allah menjadikan manusia dua golongan: Golongan orang-orang berilmu dan awam. Dia memerintahkan golongan terakhir bertanya pada golongan pertama.

Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“… Maka bertanyalah kepada orangyang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Jika seorang awam mengemukakan masalahnya pada seorang Mufti (seseorang yang berhak untuk berfatwa-pen) sambil mengatakan, “Keluarkanlah aku dari hawa nafsuku. Tunjukilah aku ke jalan yang benar”. Maka dalam keadaan seperti ini, tidak mungkin ia menjawab, “Mengenai masalahmu ini, ada dua pendapat. Pilih-lah sesuka hatimu?!” Karena ini berarti menjadikan hawa nafsu sebagai hukum, bukan agama. (Al-Muwaafaqaat, karya asy-Syathibi (IV/143))

Orang awam tersebut menanyakan kepadanya agar dapat memberikan petunjuk mengenai hukum agama. Maka wajiblah baginya menyebutkan yang terkuat di antara dua pendapat, dengan menyebutkan dalilnya. Bukannya mengatakan, “Mengenai masa­lahmu ini terdapat dua pendapat”

Orang awam akan merasa pusing dengan jawaban Mufti: “Ada dua pendapat” Dan mereka pun akhirnya kebingungan.

Sebagai wujud bantuan dariku untuk kalangan awam dan kalangan khusus, maka saya menulis kitab ini (yang berjudul): “Al-Wajiizfii Fiq-his Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz”

Di dalam kitab ini, saya meringkas pendapat rajih (terkuat) yang didukung dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Saya berharap kepada Allah agar pendapat yang menurutku rajih (terkuat), memang itulah yang terkuat (benar). Jika memang demikian, maka itu semata-mata karunia dari Allah. Jika tidak, maka saya ber-istighfar (memohon ampun) kepada Allah karenanya, dan saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menganugerahiku pendapat yang rajih dalam masalah tersebut sebagaimana yang Allah karuniakan kepadaku dalam masalah lainnya.

Saya gembira dengan terbitnya cetakan kedua ini, terlebih dengan adanya kata pengantar dari orang tua kita yang mulia, asy-Syaikh al-Ustadz Muhammad Ibrahim Syaqrah -semoga Allah menjaganya- Dan mudah-mudahan umat mendapatkan manfaat dari ilmu beliau.

Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar cetakan ini diterima oleh kaum muslimin. Mudah-mudahan kaum muslimin mendapat manfaat darinya dan menjadikannya sebagai simpanan pahala bagi saya.

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hatiyang bersih.” (QS. Asy-Syu’araa: 88-89)

“Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.”

‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi

Di rumahku, desa asy-Syiin/

Markas Quthuur, Propinsi Barat Republik Mesir

Kamis pagi, awal Ramadhan, 1420 H / 9-12-1999 M

Panduan Fiqih Lengkap terjemahan Kitab Al-Wajiz penerbit Pustaka Ibnu Katsir