Cerita Pengungsi Sumut di Wamena: Letusan Senjata Terus Terdengar, Warung Kami Dirusak Massa


Foto: Istimewa

Sebanyak 175 warga Sumatera Utara dari Wamena tiba di kantor Gubernur Sumatera Utara, Senin (21/10/2019) siang. Kedatangan mereka disambut langsung oleh Gubernur Sumut Edy Rahmayadi di Ruang Rajainal Siregar Jalan Pangeran Diponegoro, Medan, sambil santap siang.

Raut wajah mereka masih menyisakan lelah setelah perjalanan mengarungi lautan selama satu minggu dari Pelabuhan Sentani, Jayapura, Papua dan tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Jumat (18/10) kemarin.

Belum sempat melepas lelah, ratusan perantau asal Sumut itu harus kembali melanjutkan perjalanan menggunakan bus yang sudah menunggu di Tanjung Priok menuju ke Sumatera Utara.

Halomoan Naenggolan (50) warga asal Kota Pematangsiantar, satu dari ratusan pengungsi yang tiba di kantor Gubernur Sumut menceritakan, dirinya telah tinggal di Wamena selama 30 tahun. Merantau ke Wamena sejak 1988, Halomoan bekerja sebagai sopir truk di perusahaan swasta disana.

"Saya merantau setelah satu tahun tamat SMA, langsung berangkat kesana pada tahun 1988," kenang Halomoan di ruang Rajainal Siregar, kantor Gubernur Sumut, Senin (21/10).

Halomoan bercerita, saat terjadi kerusuhan, dia dan keluarganya tinggal di Jalan Home-Home Pikhe. Sekira pukul 09.00 WIT saat kerusuhan terjadi, dirinya melihat orang-orang sudah banyak di jalanan. Sesaat kemudian terdengar letusan senjata diikuti asap yang mulai membumbung ke udara.

"Udah banyak orang di jalan, terus terdengar suara letusan senjata. Waktu itu saya dapat telepon dari sekolah anak untuk segera menjemput dari sekolah," ujarnya.

Namun, lanjut Halomoan, saat akan mengeluarkan sepeda motor, petugas kepolisian menyerukan para warga untuk mengungsi ke pos polisi dan TNI terdekat. Massa semakin memanas dan melakukan pengrusakan terhadap ruko yang diikuti pembakaran di sepanjang jalan Hom-Home Pikhe.

"Kami langsung disuruh mengungsi. Saat itu dengan membawa barang seadanya, kami tinggalkan rumah dan harta benda," ungkapnya.

Hal senada juga diceritakan oleh Jona Simbolon, Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Nduga. Dirinya menceritakan bahwa dalam kerusuhan di Wamena beberapa waktu lalu menyebabkan harta benda dan usaha rumah toko (ruko) miliknya dirusak massa.q

"Saya tidak tahu, tiba-tiba tidak ada hujan tidak ada angin, usaha yang sudah 19 tahun kami usahakan dirusak dan dibobol massa," ujar Jona Simbolon.

Dirinya dan keluarga memutuskan untuk pulang ke Sumatera Utara. Sementara anak sulungnya Roy Simbolon harus tetap tinggal untuk menjalankan ruko sisa kerusuhan miliknya.

"Kami pengungsi bencana sosial, kini sudah tiba di Medan. Awal permintaan kami ada empat yaitu memulangkan kami, kedua memfasilitasi anak untuk sekolah, memindahkan ASN dan bisa hidup layak. Terimakasih pak gubernur sudah memulangkan kami hari ini," tutupnya. (Akurat.co)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel