Ini Kata Al Chaidar Alasan Wiranto yang Jadi Sasaran Teroris

Kolase Tribun Jabar (Kompas dan Instagram/wiranto.official)

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto diserang dan ditusuk pada bagian perutnya saat menghadiri peresmian gedung baru Mathla'ul Anwar di Menes, Pandenglang, Banten sekitar pukul 11.55 WIB, Kamis, 10 Oktober 2019. Pelaku penusukan dan penyerangan, Syahril Alamsyah alias Abu Bara dan Fitri Andriana merupakan pasangan suami istri anggota Jamaah Ansharud Daulah atau JAD.

Menurut pengamat teroris Al Chaidar, penyerangan itu terjadi karena akumulasi kebencian yang sangat kuat dari kelompok teroris kepada Wiranto. Pasalnya, Menkopolhukam dianggap orang yang paling bertanggung jawab terhadap kriminalisasi, kasus revolusi hingga kerusuhan di Wamena, Papua.

"Jadi banyak hal yang membuat dia jadi sorotan. Ini dipersepsikan oleh mereka (pelaku) sebagai kerugian bagi umat Islam," kata dia, seperti dikutip dari VIVAnews.


Kebencian kepada Wiranto semakin bertambah, kata dia, karena sejumlah penyataan yang dikeluarkannya dinilai makin memperkeruh suasana. Menurutnya, pejabat publik seharusnya tak perlu memberikan jawaban atas semua persoalan dan sebisa mungkin memberikan jawaban yang menyejukan publik.

“Jadi harusnya dia memberikan jawaban-jawaban bahwa oke akan kita tanggapi, akan kita urus, akan kita apa. Jadi jangan pendekatan-pendekatan kekuasaan bahwa pejabat itu perlu diakui kekuasaannya,” tuturnya.

Dan jika dilihat dari metode yang digunakan pelaku saat menyerang Wiranto, Al Chaidar yakin bahwa mereka memang kelompok JAD. Kelompok JAD ini memiliki afiliasi dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan mengatakan bahwa kedua pelaku merupakan JAD jaringan Bekasi. Syahril sebelumnya terdata dalam jaringan JAD Kediri, Jawa Timur. Kemudian, dia pindah ke Bogor, Jawa Barat. Usai bercerai dengan istri pertamanya, Syahril pindah ke Menes, Pandeglang, Banten.

Sedangkan polisi masih mendalami apakah penyerang Wiranto terkait dengan kelompok JAD Cirebon atau Sumatera. Hal itu diungkapkan Karopenmas Divhumas Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo.

Menurut dia, pelaku diduga terpapar paham radikal ISIS. Orang yang terkena paham tersebut akan menyerang pejabat publik, terutama aparat kepolisian lantaran melakukan penegakan hukum terhadap mereka.


"Karena aparat kepolisian dan pejabat publik yang setiap saat melakukan penegakan hukum terhadap kelompok tersebut," kata Dedi.

Dan buntut dari kejadian ini, Presiden Joko Widodo alias Jokowi meminta pengamanan terhadap menteri-menterinya ditingkatkan. Sebab, penusukan kepada Wiranto menandakan ada potensi ancaman serupa kepada pejabat negara lainnya. [viva]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel