Bentrokan Berdarah Aparat Di Papua, Natalius Pigai: Komnas HAM Harus Turun Tangan, Kalau TNI/Polri Tidak Netral

Bentrokan Berdarah Aparat Di Papua, Natalius Pigai: Komnas HAM Harus Turun Tangan, Kalau TNI/Polri Tidak Netral

Insiden bentrokan antara oknum anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di Papua mengakibatkna 3 anggota Korps Bhayangkara meregang nyawa.

Insiden mematikan antara aparat negara itu disebabkan oleh kesalahpahaman. Kejadian di Kasonaweja, Kabupaten Mamberamo Raya pada Minggu (12/4) sekitar pukul 07.40 WIT.

Aktivis kemanusiaan Natalius Pigai meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) turun tangan mengusut tuntas insiden tersebut. Kata mantan Komisioner Komnas HAM ini, jika tim investigasi berasal dari internal TNI dan Polri maka dikhawatirkan tidak netral.

"Komnas HAM harus turun, kalau TNI dan Polri tidak akan netral dan keluarga korban tidak akan dapat rasa keadilan," demikian kata Natalius Pigai, Senin dini hari (13/4).

Natalius meyakini sesuai pengalamannya saat menjabat di lembaga independen yang bertugas menyelidiki kasus pelanggaran HAM itu, Komnas HAM dapat bekerja secara independen.

Proses yang independen, tambah Natalius akan memberi keadilan bagi keluarga korban yang telah kehilangan oknum anggota yang gugur dalam inside berdarah itu.

"RIP!. Berdasarkan pengalaman saya. Saya minta Komnas HAM adalah lembaga independen yang tepat, harus berani dan kredibel untuk menemukan rasa keadilan bagi keluarga korban!," demikian kata Putra Papua ini.

Diketahui, Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel CPL Eko Daryanto, menjelaskan bentrok antara anggota TNI dan Polri tersebut terjadi karena kesalahpahaman antara oknum anggota Satgas Pamrahwan Yonif 755/20/3-Kostrad dengan dua anggota Polres Mamberamo Raya.(rmol)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel