Jenderal Yang Melawan Diri Sendiri

Jenderal Yang Melawan Diri Sendiri

Oleh: Radhar Tribaskoro, Aktivis pergerakan

PADA 12 Maret 2020 saya menulis bahwa statistik Covid-19 yang diumumkan pemerintah mencurigakan. Angka itu hanya menyajikan puncak gunung es dari kenyataan yang sebenarnya. Pertanyaannya kemudian, mengapa hal itu dilakukan?

Jawabannya termuat dalam berita di bawah ini. Menko Luhut menyebutkan bahwa kematian karena Covid-19 di Indonesia Cuma 500! Luhut kemudian membandingkannya dengan Amerika Serikat yang memiliki tingkat mortalitas 22.000 orang. Hebat, Indonesia!!

Luhut belum boleh menepuk dada lebih jauh, surat BEM se Indonesia berhasil memaksa Presiden Jokowi memerintahkan pembukaan data real lebih rinci, terungkap fakta 139.137 ODP dan 10.482 PDP. Angka menggambarkan bahwa kenyataan wabah Covid-19 lebih mengerikan.

Saya jadi heran, kenapa sih dalam keadaan mengharu-biru seperti ini Menko Luhut masih sempat-sempatnya memamerkan dada?

Tidak ada yang harus dibanggakan sekalipun angka 500 itu benar!

Lima ratus orang itu nyawa yang tidak ternilai harganya. Lagipula, perang melawan virus baru dimulai, baru seminggu lalu PSBB pertama diberlakukan di Jakarta. Tidak ada yang bisa diklaim, peluru belum masuk magazin.

Sebagai mantan jenderal Luhut mestinya tahu perang melawan virus sama sekaligus tidak sama dengan perang yang ia pelajari akademi militer. Perang itu butuh kesatu-paduan seperti perang pada umumnya.

Namun ini perang melawan virus, garis depan perang itu adalah orang awam. Senjata mereka adalah kewaspadaan. Mereka membunuh virus dengan cara mencegah virus itu menyangkut dalam tenggorokan mereka.

Oleh karena itu strategi utama perang ini adalah keterbukaan. Rakyat diajar dan disuplai dengan informasi yang benar, dimana virus itu berada dan bergerak kemana. Virus itu bergerak bersama siapa dan diam di benda macam apa.

Seperti awan, virus berjalan dalam klaster dari orang-orang terinfeksi. Dimana saja klaster itu, berapa terinfeksi, berapa bergejala, berapa dalam pantauan, berapa mati.

Perang dalam klaster itu seperti gerilya. Apa beda perang gerilya dengan perang teritorial klasik? Perang gerilya membutuhkan informasi yang sangat detil tentang musuhnya.

Kesal saya harus kuliahi jenderal tentang perang. Kan mestinya dia lebih tahu? Tetapi kenapa bikin pernyataan amatir seperti di bawah ini?

Tidak ada satupun alasan membenarkan pernyataan Menko Luhut. Tidak ada manajemen wabah yang luar biasa hebat, corona tidak kurang menular di iklim yang terlalu panas dan terlalu lembab, tidak ada kekebalan khas Indonesia, tidak ada jamu terlalu ampuh.... Lantas apa yang dipakai untuk menjustifikasi Indonesia hebat mengurus Covid-19 ?

Publik sekarang mengetahui bahwa statistik Covid-19 yang diumumkan pemerintah tidak dimunculkan sebagaimana adanya. Angka-angka disajikan setelah dipilih-pilih dan disaring dengan kriteria arbiter.

Katanya, √°gar rakyat tidak panik. Itu alasan konyol. Bila rakyat adalah tentara, tentara tidak panik lantaran diberi informasi jujur, tentara panik kalau tidak ada panduan dan kepemimpinan.

Lebih dari itu, karena rakyat adalah garis depan dalam perang melawan coronavirus, membohongi rakyat sama saja dengan membunuh mereka. Rakyat tidak bisa membangun perkiraan tepat, kurang antispasi atau hilang kewaspadaan. Mereka bisa terbunuh karenanya.

Jenderal, kenapa anda melawan logika sendiri? (*)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel