Ramalan Fahri Hamzah tentang Jokowi Akhirnya Terbukti

Ramalan Fahri Hamzah tentang Jokowi Akhirnya Terbukti

Ramalan Fahri Hamzah tentang Joko Widodo (Jokowi) pada tahun 2014 akhirnya terbukti.

Fahri Hamzah menyebut tipe kepala daerah seperti Jokowi hanya akan mengandalkan utang negara jika menjadi presiden.

Saat itu, Jokowi masih menjabat Gubernur DKI Jakarta dan maju sebagai calon Presiden RI.

“Cuitan legend dari dari seorang @Fahrihamzah yang terbukti akurat dan tidak bisa dibantah siapa pun! Ramalan tentang Jokowi!,” cuit @K1ngPurw4.

Fahri Hamzah membalas cuitan tersebut dengan mengatakan bahwa kelemahan para kepala daerah di Indonesia yakni berburu dana ke pemerintah pusat.

“Kelemahan semua kepala daerah (gubernur, bupati, walikota, kades) di RI adalah krn mereka “menyusu” pada pemerintah pusat tanpa henti melalui DAU, DAK dll. Mereka berburu dana pusat dan tak biasa cipta pendapatan Sendiri. Jika pendapatan tak ada mereka akan berburu hutang,” kata Fahri, Kamis (9/7/2020).

Pada 13 Juni 2014, Fahri Hamzah yang saat itu masih menjabat Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengungkap kemampuan Jokowi saat memimpin Solo (Surakarta) selama 5 tahun terakhir.

Mantan Wakil Ketua DPR RI itu mengatakan Jokowi tidak mampu mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Fahri membeberkan data yang diperoleh dari catatan badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Hasilnya, pendapat daerah Solo selama dipimpin Jokowi terus turun.

“Dari tabel nanti tampak bahwa sejak 2005 hingga 2010, rasio PAD dibanding Pendapatan Total Daerah selalu turu,” kicau Fahri, Jumat (13/6/2014).

Fakta ini, kata dia, membuktikan bahwa Jokowi tak mampu mengoptimalkan kinerja Dinas Pendapatan Daerah. Fahri menyimpulkan, jika Jokowi jadi presiden, hanya akan mengandalkan utang saja nantinya.

“Kepala daerah hanya mengandalkan uluran tangan dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah provinsi untuk menutup ‘defisit’ APBD yang semakin besar,” kata dia.

“Kepala daerah dengan tipe seperti ini jika kelak menjadi presiden, maka hanya akan mengandalkan utang negara,” pungkas Fahri Hamzah.

Seperti diketahui, posisi utang Indonesia per akhir Mei 2020 berada di angka Rp5.258 triliun. Nilai ini naik dari posisi akhir April 2020 yang berkisar Rp5.172 triliun.

Rasio utang per akhir Mei 2020 naik di angka 32,09 persen dari PDB dari bulan sebelumnya di angka 31,78 persen dari PDB.

Adapun komposisi utang pada Mei 2020 terdiri dari Rp4.442,90 triliun Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp815,66 triliun dari pinjaman.[pojoksatu]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel