Cerita Tentang Makam di Pinggir Jalan Depan Kantor Bupati Demak

Makam yang berada di pinggir jalan depan kantor Bupati Demak, Selasa (4/8/2020).


Sebuah nisan di pinggir jalan depan kantor Bupati Demak, Jawa Tengah dipercaya sebagai makam Kiai Singkil. Begini penjelasan Pemkab Demak.

Ahmad Widodo menjelaskan, makam tersebut memiliki dua versi cerita. Pertama makam tersebut merupakan era Kasultanan Demak. Kedua, sebagai pusaka yang dulunya ditanam pada sebuah tanggul pencegah air masuk ke keraton.

"Dua versi, yang jelas makam (Kiai Singkil) itu era Kasultanan Demak. Sementara versi kedua, legenda dari orang-orang, sebagai tanggul atau bendung, supaya air tidak masuk ke keraton. Sebelahnya (Kali Tuntang) ada gundukan atau tanggul sampai panjang sekali. Pusaka itu untuk dijadikan tanggul, agar air tidak masuk dalam keraton," tutur Widodo di kantornya, Jumat (7/8/2020).

Widodo menyebut, pertanda makam Kiai Singkil tersebut lebih kepada suatu tanda bahwa Kiai Singkil dari Kerajaan Pasai, Aceh, pernah membantu Demak dalam upaya pembebasan dari kekuasaan Majapahit.

"Versi saya, dari beberapa pendapat dan pengamatan, lebih kepada di mana para ulama dan wali se-nusantara, mendukung kebebasan Demak di bawah tekanan Majapahit, karena Brawijaya pernah melarang penyebaran agama Islam, termasuk para wali se-nusantara," tuturnya.

Demak, lanjutnya, saat itu didukung oleh kerajaan Islam yang sudah menjadi Islam terlebih dulu. Seperti Kerajaan Pasai-Aceh, Sumatra, Jambi. Ia menjelaskan, Kiai Singkil tersebut berasal dari ulama Aceh.

Ia menambahkan, Kiai Singkil dari Kerajaan Aceh menyatu dengan Demak, membantu Demak dalam upaya melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.

"Demak didukung oleh kerajaan Islam yang sudah menjadi Islam dulu, seperti kerajaan Pasai-Aceh, terbukti Syekh Singkil datang ke sini," jelasnya.

"Pada zaman dulu tidak makam. Mungkin beliau (Kiai Singkil) berdomisili di situ. Di situlah mereka memberikan suatu tanda, barangkali suatu pusaka sebagai suatu kenang-kenangan," jelasnya yang juga sebagai Kepala Museum Glagah Wangi UPTD Dindikbud Demak.

Ia menjelaskan, keberadaan kiai dan ulama zaman dahulu berdomisili di dekat sungai. Begitupun setelah meninggal, lanjutnya, dimakamkan di dekat area rumah, antara sisi kanan rumah atau kirinya.

Dirinya menyimpulkan, keberadaan makam tersebut merupakan sebuah pertanda, Kiai Singkil pernah ada dan berdomisili di Demak, dalam rangka mendukung Demak untuk melepaskan diri dari cengkeraman Majapahit.

Widodo mengatakan, makam tersebut tidak menghadap sebagaimana laiknya makam umumnya. Dirinya cenderung menyebut makam tersebut sejajar dengan Masjid Agung Demak.

"Coba kamu urutkan, Masjid (Agung Demak) menghadap ke mana dan makam tersebut ke mana," tutur Widodo.

Terkait perawatan nisan tersebut, Widodo menyebut, pembangunan makam dalam bentuk keramik dan pembatasnya, bukan dari pemerintah melainkan dari orang yang memiliki kedekatan secara spiritual dengannya.

"Bukan pemerintah, justru orang-orang yang peduli. Wallahualam (dari orang Demak atau luar Demak). Orang peduli dalam tanda kutip dia memiliki spiritual yang lebih. Sehingga, memberanikan diri untuk membangun. Yang jelas sudah meminta izin ke aparat setempat saat itu," ungkapnya.

Sementara untuk alasan tidak memindahkan makam tersebut, Widodo menyebut, sebagai cagar budaya dan upaya menghormati syuhada yang berjuang untuk Demak.

"Bagaimanapun juga usia makam tersebut lebih dari 50 tahun, dan nisannya masih asli, itu merupakan cagar budaya. Kita juga menghormati syuhada yang berjuang untuk Demak," terang Widodo.

Diberitakan sebelumnya, ada sebuah nisan yang berada di pinggir jalan depan kantor Bupati Demak, Jawa Tengah. Jika diperhatikan, nisan tersebut tak seperti makam pada umumnya yang membujur ke arah utara. Bagaimanakah ceritanya?

Makam yang berada di sisi barat jalan depan Kantor Bupati tersebut, atau dekat dengan Taman Kali Tuntang, dipercaya warga sebagai makam Kiai Singkil. Masyarakat juga percaya makam tersebut merupakan pertanda adanya pusaka.

"Makam Kiai Singkil, tapi ana seng kanda Kiai Singkil biyen ki wujud keris. Berarti gak menungsa. Nek wujud keris kan berarti nyawane kan jin. (Makam Kiai Singkil. Tapi ada yang menyebut Kiai Singkil dulu berwujud keris. Berarti bukan manusia. Kalau wujud keris kan berarti nyawanya jin)," kata satu warga Kelurahan Bintoro, Sugiyono (55) saat ditemui di ruko aksesoris dan bunga dekat makam tersebut, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak Kota, Demak, Selasa (4/8/2020).

Kendati juga dipercaya warga sebagai pusaka, dia mengaku heran lantaran ada yang menziarahi makam tersebut. Meski dirinya tak tahu pasti, peziarah tersebut datang dari orang Demak atau luar Demak.

Sugiyono yang bersekolah tingkat dasar di Kelurahan Bintoro, mengatakan kala itu setiap hari melewati makam tersebut dengan jalan kaki saat berangkat dan pulang sekolah. Dirinya menjelaskan, tidak ada peziarah datang ke makam tersebut saat dirinya kecil. Peziarah datang baru ia ketahui pada tahun 2006 ke belakang ini.

"Saat kecil tidak ada peziarah. Sejak 2006 ke belakang saya baru tahu ada peziarah. Kadang sedikit, kadang banyak. Antara tiga orang, delapan orang, dengan menggunakan tikar," jelasnya.

Dirinya menambahkan, tidak ada kejadian aneh seperti halnya kecelakaan kendaraan di area makam yang merupakan jalur lambat tersebut. "Tidak ada," ucapnya.[detik]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel