Lebih 300 Orang Kehilangan Rumah, Netizen Dan Hotel-hotel Tawarkan Tempat Bernaung “Open Houses Lebanon”

Lebih 300 Orang Kehilangan Rumah, Netizen Dan Hotel-hotel Tawarkan Tempat Bernaung “Open Houses Lebanon”

Ratusan ribu orang Lebanon kehilangan tempat tinggal akibat ledakan dahsyat yang telah mengguncang Ibukota Beirut pada Selasa (4/8). Gubernur Lebanon Marwan Abboud memperkirakan ada sekitar 300 ribu orang yang kehilangan tempat tinggal dalam insiden itu.

Hal itu mengundang respon dari para netizen Lebanon, banyak yang kemudian menawarkan rumah mereka kepada penduduk yang menjadi korban ledakan dan telah kehilangan tempat tinggal melalui media sosial.

Halaman Instagram yang bernama “Open Houses Lebanon” dibuat beberapa jam setelah insiden ledakan terjadi. Mereka berbagi rincian lokasi dan nomor kontak untuk mereka yang rumahnya hancur lebur oleh ledakan, seperti dikutip dari MEE, Rabu (5/8).

Lebih dari 100 lokasi telah dibagikan di halaman ini, mulai dari rumah, studio, dan kamar tidur warga hingga sekolah dan gereja. Halaman ini juga berbagi informasi tentang klinik hewan darurat yang terbuka untuk hewan peliharaan yang mengalami cedera akibat ledakan.

Tagar #OurHomesAreOpen menggema di berbagai platform media sosial, para netizen yang peduli menawarkan rumah mereka untuk orang menginap para korban yang kehilangan tempat tinggal. Selain itu mereka juga membantu menyediakan transportasi untuk memindahkan para korban ke lokasi yang lebih aman.

Sejumlah hotel yang selamat dari ledakan juga menawarkan kamar gratis untuk orang-orang yang terdampak ledakan.

Ketika rumah sakit dibanjiri pasien, orang-orang juga menggunakan media sosial untuk berbagi lokasi bank darah yang sangat membutuhkan donor.

Data terakhir Palang Merah Lebanon menyebut ada sekitar 100 orang meninggal dan 4.000 orang yang terluka dalam insiden ledakan dahsyat itu. Banyak orang dibiarkan tanpa makanan, air atau tempat berlindung, karena tempat tinggal utama mereka mengalami kerusakan parah.

Peristiwa itu terjadi di saat Lebanon tengah berjuang melawan krisis ekonomi yang melumpuhkan negara itu, di mana pound Lebanon kehilangan 80 persen nilainya dalam waktu kurang dari setahun sehingga menyebabkan harga makanan menjadi dua kali lebih mahal. Pemerintah sebelumnya telah memperingatkan bahwa 60 persen populasi Lebanon berisiko hidup di bawah garis kemiskinan sebelum akhir tahun. (Rmol)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel