Meski Tak Memiliki Kaki di Parlemen, KAMI Dinilai Kuat di Wacana

Meski Tak Memiliki Kaki di Parlemen, KAMI Dinilai Kuat di Wacana

 Pengamat politik menilai Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) hanya kuat di level wacana. Namun, belum kuat di level parlemen maupun akar rumput.
"Kekuatan (ada) di wacana, parlemen, di grassroot. Saya lihat KAMI ini baru punya kekuatan wacana. Artinya, dia bisa mempengaruhi wacana yang berkembang di media massa, maupun media sosial. Ide gerakan kritikan, masukan-masukan itu bisa masuk ke media massa dan media sosial. Karena anggotanya, para tokoh yang punya nilai berita," ucap Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, saat dihubungi, Sabtu (22/8/2020).

Meski banyak tokoh di dalam KAMI, namun, M Qodari menilai mereka tidak memiliki basis akar rumput yang kuat.

"Sebetulnya, pada tokoh yang ada di KAMI, pada hari ini, notabennya bukan punya kaki yang kuat di grassroot. Tokoh menonjol seperti Pak Din Syamsudin, memang pernah jadi ketua PP Muhammadiyah. Tapi sekarang dia bukan lagi ketua umum, jadi terbatas (gerak KAMI)," kata M Qodari.

Kekuatan wacana menjadi kekuatan yang paling lemah diatara kekuatan di parlemen atau di akar rumput. Kecuali saat pemilu yang bisa mengubah konstelasi partai dengan suara.
"Kekuatan wacana itu paling lemah, Apalagi jarak ke pemilu masih jauh. Makin dekat pemilu, mungkin kekuatan wacana bisa lebih besar karena mempengaruhi konstelasi politik," kata Qodari.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin mengakui kekuatan wacana dari KAMI. Orang-orang yang bergabung di KAMI merupakan orang yang pernah berada di pemerintahan.

"Mereka kuat secara argumen, dan memiliki pengalaman di pemerintahan. Jadi tahu apa yang menjadi kesalahan-kesalahan pemerintah," ucap Ujang.

Kekuatan yang dimiliki oleh KAMI cukup membuat perhatian. Tak ayal, banyak pendukung pemerintah yang mulai menyerang mereka di media sosial.

"Karena KAMI dianggap berpengaruh dan kuat. Dan bisa membahayakan pemerintah jika besar. Maka tak aneh dan tak heran, tokoh-tokohnya mengalami tekanan dan twitternya di retas. Dan tak aneh juga, jika ada organ tandingan seperti KITA, yang tujuannya mengcounter isu dan gerakan KAMI," ujar Ujang.

Seperti diketahui, deklarasi KAMI digelar di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (18/8). Selain Din, sejumlah tokoh yang hadir di antaranya Gatot Nurmantyo, Refly Harun, Said Didu, Rocky Gerung, Ichsanuddin Noorsy, Ahmad Yani, dan Titiek Soeharto.(detik)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel