Penghormatan Tertinggi untuk Burung Besi Karya Eyang Habibie

https://1.bp.blogspot.com/-TlGL7H-go_0/X0BwGZtH1DI/AAAAAAABjgI/y7TOaOP2Is4NkBMW0BchakL9UEaD9H2ZwCLcBGAsYHQ/s640/pendaratan-terakhir-n250-karya-habibie-di-museum-tni-ad-diy-3.jpeg

Pesawat karya BJ Habibie ini mendapat penghormatan tertinggi di antara pesawat-pesawat lainnya. Soalnya, ini adalah karya monumental bangsa. Burung besi ini masuk museum.

Burung besi ini adalah pesawat sipil N250 bernama Gatotkaca. Pesawat ini mulai dirancang bangun pada 1986. Pada 1995, pesawat tersebut berhasil mengudara di langit Indonesia.

Berdasarkan keterangan pers Dinas Penerangan TNI AU, Gatotkaca pertama kali terbang pada 1995 bertepatan HUT RI ke-50. Pesawat yang dibuat oleh Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN)--kini bernama PT Dirgantara Indonesia (PTDI)--itu sempat tampil dan menjadi idola di beberapa International Air Show, salah satunya di Le-Bourge, Paris Air Show 1997.

Semua negara dunia melihat kehebatan serta kecanggihan pesawat N250. Apalagi kala itu pesawat karya anak bangsa ini menggunakan teknologi paling canggih, yakni fly by wire.

BJ Habibie selama hidupnya menorehkan prestasi di bidang teknologi, terutama penerbangan. Bahkan ia adalah sosok di balik terbangnya pesawat pertama Indonesia.

Sayangnya, 'keperkasaan' Gatotkaca harus terhenti saat Indonesia diterpa krisis moneter pada 1998. Proyek pesawat N250 disetop oleh negara akibat krisis ekonomi tersebut.

"Saat krisis ekonomi 1998 melanda, N250 dihentikan produksinya, setelah IMF meminta IPTN ditutup karena dianggap memberatkan ekonomi. Gatotkaca pun dirumahkan, tidak boleh terbang. Pupus sudah harapan bangsa Indonesia memiliki pesawat produksi dalam negeri," kata Kadispen TNI AU Marsma Fajar Adriyanto kepada wartawan, Rabu (19/8).

Gatotkaca kemudian teronggok di salah satu hanggar kawasan PTDI di Bandung, Jawa Barat. Gatotkaca sudah tidak bisa terbang lagi. Setelah dua dekade lebih, akhirnya Gatotkaca dimuseumkan.

Gatotkaca diberangkatkan dari Bandung ke Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya ke Museum Pusat Dirgantara Mandala, Banguntapan, Kabupaten Bantul. Gatotkaca berangkat dari Bandung ke Yogyakarta pada Rabu (19/8) pukul 22.00 WIB malam, menempuh perjalanan 560 km lewat Tol Pantura. Truk tronton membawanya.

Perjalanan Gatotkaca menuju Yogyakarta sempat tersendat di Semarang. Truk yang membawanya tidak bisa melewati Gerbang Tol Banyumanik, karena gerbang tol terlalu tinggi. Pada Kamis (20/8) pukul 19.30 WIB, truk pembawa pesawat harus bergeser gerbang supaya bisa lewat. Barulah pada pukul 22.00 WIB, Gatotkaca bisa lewat gerbang tol.

Jumat (21/8) pagi, akhirnya Sang Gatotkaca sampai di Yogyakarta.

"Tiba di sini (museum) pukul 04.30 WIB menempuh 567 kilometer. Di pesawat tidak ada kerusakan, sepanjang perjalanan pesawat ini yang kami prioritaskan sehingga tidak ada kerusakan pada pesawat," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma TNI Fajar Adriyanto saat ditemui di kompleks Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.

TNI AU menjelaskan, pesawat ini akan menjadi monumen, pertanda bahwa Indonesia mampu membuat pesawat terbang dengan teknologi canggih, yakni fly by wire.

Pesawat N250 merupakan masterpiece Presiden ke-3 Republik Indonesia yang berhasil membuktikan bahwa anak bangsa mampu memproduksi pesawat terbang.

Dalam pengangkutannya, Gatotkaca dibongkar terlebih dahulu. Selanjutnya, pesawat ini akan dirakit dan ditargetkan selesai dalam satu pekan. Pesawat ini juga akna diperbaiki sehingga sesuai dengan kondisi asli pesawat saat pertama kali terbang.

"Nanti kita rapikan, dalamnya akan kita sesuaikan dengan saat terbang pertama kali, instrumen, tempat duduk akan kita sesuaikan, sehingga masyarakat bisa masuk, duduk, bisa merasakan inilah pesawat buatan bangsa sendiri," kata Fajar.

Meski Gatotkaca tak bisa lagi mengangkasa, namun burung besi ini bakal mengilhami generasi penerus bangsa untuk terus berkarya.

"Harapannya semangat kedirgantaraan timbul lagi, jadi keinginan untuk membuat pesawat seperti ini timbul lagi dan memacu generasi muda mencintai dirgantara," tutupnya.(detik)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel