HUJAT DULU, IKUTI KEMUDIAN

 


HUJAT DULU, IKUTI KEMUDIAN


Sudah sangat biasa, ketika Anies membuat keputusan yang berbeda dengan pusat, terlebih di saat krisis seperti sekarang, pertama-tama ia akan disindir oleh presiden. Kemudian ia pun akan dikritik oleh menko, para menteri, dan pejabat-pejabat tidak berguna lainnya.

Contoh, ketika Anies menjadi pemimpin pertama yang mulai mewaspadai masuknya wabah Covid-19 ke Indonesia saat atasan dan para koleganya di pusat masih menganggap pandemi ini sebagai bahan candaan, ia ramai-ramai dihujat, dituduh bikin panik.

Begitupun ketika Anies memutuskan untuk menutup sekolah-sekolah karena khawatir anak-anak akan terinfeksi. Ia ramai-ramak dikritik.

Anies juga di-hewan-hewankan oleh para buzzeRp ketika ia memutuskan untuk mengkarantina wilayahnya ketika kasus di DKI dan sekitarnya mulai meningkat.

Pun ketika ia berinisiatif mengalih fungsikan hotel-hotel milik pemprov untuk dijadikan rumah sementara tenaga media yang 'terusir' dari tempat tinggalnya.

Ia dikritik. Dihujat. Dibully. Dicaci-maki.

Tapi ia jalan terus, tanpa sedikitpun keraguan.

Perekonomian penting. Tapi keselamatan warga adalah segalanya. Perekonomian tidak mungkin bisa baik jika warganya sakit. Tapi warga yang sehat sangat mungkin mampu memulihkan perekonomian yang sakit.

Anies tahu, waktu akan membuktikan, bahwa apa yang ia putuskan sudah tepat.

Dan Anies sering terbukti benar. Meskipun awalnya dihujat beramai-ramai mulai dari atasannya hingga level buzzerp, tapi banyak kebijakannya kemudian dengan malu-malu diikuti oleh pusat dan daerah-daerah lain, walaupun dengan memakai istilah yang berbeda.

Saat ini Anies ramai-ramai dihujat?

Biarkan saja. Toh nanti juga kebijakannya akan diikuti.

Begitulah. Kebenaran akan selalu menemukan jalannya.

Semoga pandemi ini segera berakhir.

(Wendra Setiawan)

 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel