Belasan Ribu Ton Garam Lokal Tak Ada Pembeli, Petambak NTT Teriak

Belasan Ribu Ton Garam Lokal Tak Ada Pembeli, Petambak NTT Teriak

 KONTENISLAM.COM - Belasan ribu ton garam produksi petambak lokal di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), menumpuk tanpa ada pembeli. Petambak pun teriak meminta perhatian pemerintah untuk bisa menyerap garam produksi nasional tersebut.

Data Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua mengungkapkan sebanyak 14 ribu ton garam industri hasil produksi petambak setempat, belum terjual. Hingga saat ini belum ada pembeli atau investor yang mau memborong garam lokal tersebut.
 
“Saat ini di semua gudang terdapat 14 ribu ton garam yang menumpuk. Dan ini belum terjual sama sekali, sehingga beberapa karung yang berisi garam ditumpuk sampai di luar gudang,” kata Pjs Bupati Sabu Raijua, Ferdy Kapitan, kepada Antara, Selasa (27/10).

Jika stok garam tersebut tak terbeli, maka kerugian petambak akan membubung. Apalagi pada Desember diperkirakan akan ada tambahan garam hasil panen baru sebanyak 5 ribu ton. Sehingga total stok garam lokal di Sabu Raijua mencapai 19 ribu ton garam.

“Kami perkirakan ini kan masih puncak-puncaknya panas. Kami perkirakan sampai Desember nanti akan ada beberapa kali panen lagi dan jumlah yang dipanen bisa mencapai 5.000 ribu ton, sehingga bisa mencapai 19 ribu ton nanti,” kata Ferdy.

Dia menyatakan telah melaporkan persoalan ini kepada Gubernur NTT, Viktor Laiskodat. Menurutnya, Gubernur NTT itu sudah menghubungi pemerintah pusat dan beberapa investor untuk membeli garam yang di gudang di Sabu Raijua ini. Dia berharap agar hal ini bisa segera terwujud karena dikhawatirkan sampai dengan Desember lagi akan ada panen garam lagi yang jumlahnya bisa mencapai 5.000 ton.

NTT merupakan salah satu wilayah yang memiliki kawasan potensial sebagai sentra produksi garam nasional. Salah satunya di Kabupaten Sabu Raijua ini. Setidaknya sejak 2017, pemerintah mewacanakan akan mengembangkan sentra pertambakan garam nasional di NTT, untuk menggantikan pasokan garam impor.

Presiden Jokowi menyebut bahwa selama ini persoalan produksi garam di Indonesia belum ada solusinya. Sebab, masalah garam kerap selalu ada persoalan dari masalah kualitas hingga alokasinya.

“Dari laporan yang saya terima, dua permasalahan utama yang kita hadapi dalam penyerapan garam rakyat yang kita hadapi. Satu, rendahnya kualitas garam rakyat sehingga tidak memenuhi standar kebutuhan industri,” kata Jokowi dalam ratas bersama menterinya terkait garam dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin (5/10).

Seharusnya, kata Jokowi, persoalan tersebut sudah ada jalan keluarnya. Apalagi, identifikasi masalahnya sudah diketahui dengan pasti.

“Kita tahu masalahnya, tapi tidak pernah dicarikan jalan keluarnya. Kemudian data per 22 September, masih 738 ribu ton garam rakyat yang tidak terserap industri kita, ini agar dipikirkan solusinya sehingga rakyat garamnya bisa terbeli,” ujarnya.

Sumber: kumparan.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel