Dugaan Penyerangan 'Preman' Bikin Eks Anggota DPR Wa Ode Dipolisikan

Dugaan Penyerangan 'Preman' Bikin Eks Anggota DPR Wa Ode Dipolisikan

 KONTENISLAM.COM - Kasus penyerangan terhadap eks anggota DPR Wa Ode Nur Zainab di Cianjur, Jawa Barat, berbuntut panjang. Wa Ode dipolisikan gegara penyebutan 'preman-preman PT MPM' terkait pelaku penyerangan itu.

Wa Ode dilaporkan oleh tim kuasa hukum PT Maskapai Perkebunan Moelia (MPM) pada Jumat (16/10) ke Polda Metro Jaya. Dalam laporan bernomor LP/6154/X/Yan.2.5/2020/SPKT PMJ, Wa Ode dilaporkan atas tuduhan pencemaran nama baik dan penyebaran berita bohong yang dinilai merugikan PT MPM.Dalam laporan itu, Wa Ode dilaporkan atas tuduhan Pasal 27 ayat 3 UU No 19 Tahun 2016 tentang ITE dan Pasal 14 serta Pasal 15 UU No 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Muannas Alaidid selaku kuasa hukum PT MPM menyebutkan, apa yang dituduhkan Wa Ode tidak benar. Muannas menyebut kliennya dirugikan atas tuduhan tersebut.

"Jadi kami tegaskan semua itu tidak benar dan kami merasa dirugikan karenanya dengan tuduhan itu, makanya kami memilih melaporkan agar semua dilakukan penyelidikan karena ini mengarah pada dugaan pencemaran nama baik, bahkan menyebarkan berita bohong, yang bila dibiarkan, fitnah ini dapat meresahkan warga sekitar lokasi. Apalagi ada tuduhan adu domba perusahaan dengan masyarakat penggarap, padahal kami tidak tahu-menahu," kata Muannas dalam keterangannya kepada wartawan, Sabtu (17/10/2020)


Muannas prihatin akan kejadian yang menimpa Wa Ode tersebut. Tetapi dia menyayangkan tuduhan Wa Ode yang menyebut para pelaku adalah 'preman-preman PT MPM', yang seolah-olah PT MPM di balik penyerangan itu.

"Tanpa dasar Wa Ode Nur, di hadapan sejumlah media dan broadcast WhatsApp yang kami terima, seolah terjadinya peristiwa perusakan tersebut langsung dituduhkan kepada PT MPM berada di belakang ini semua, bahkan tidak segan dengan menyebut perbuatan dilakukan oleh preman-preman PT MPM," tutur Muannas.

"Mestinya, sebagai orang yang paham hukum, apalagi profesinya sebagai advokat, Wa Ode menyerahkan saja sepenuhnya peristiwa yang terjadi kepada pihak kepolisian setempat, apalagi masalah ini kabarnya sudah dilaporkan di Polres Cianjur dan sedang dilakukan penyelidikan serta diketahui apa motif para pelaku," sambungnya.

Wa Ode dinilai mendahului penyidik karena menyebut para pelaku adalah 'preman PT MPM'. Menurut Muannas lagi, Wa Ode juga tidak seharusnya mengembuskan isu seolah PT MPM sedang berkonflik dengan masyarakat.

"Bukan malah melakukan tuduhan tanpa dasar dengan mengembuskan isu bahwa antara PT MPM dengan warga seolah sedang ada masalah yang disebutnya konflik dengan masyarakat penggarap tanah, seperti cerita WhatsApp yang beredar itu yang diduga berasal dari nomor handphone Wa Ode Nur Zainab," imbuhnya.

Menanggapi laporan tersebut, Wa Ode mengaku siap. Wa Ode merasa tidak pernah mencemarkan nama baik siapa pun terkait pernyataannya itu

"Nggak ada masalah. Kita siap hadapi, saya kan membela diri saya. Saya kan nggak pernah mencemarkan nama orang lain, nggak pernah berurusan dengan orang lain. Saya nyatakan bahwa dia terindikasi bekerja di PT MPM itu karena memang menurut informasi bekerja di MPM. Kecuali misal (saya menyebutkan) 'dia menyerang saya atas perintah MPM', oh itu nggak boleh dong, kan pelaku belum ditangkap," kata Wa Ode saat dihubungi detikcom, Sabtu (17/10/2020).

Wa Ode menegaskan dirinya tidak mencemarkan nama perusahaan dengan menyebut bahwa para pelaku penyerangan terhadapnya itu bekerja di PT MPM. Wa Ode mengklaim punya bukti-bukti bahwa para pelaku memang bekerja untuk PT MPM.

"Tapi bahwa dia bekerja di situ betul, dia bekerja di PT MPM itu. Saya tidak mencemarkan siapa pun, itu fakta, saya punya nama-namanya, saya punya foto-fotonya, karena saya kan olah TKP juga. Dari malam itu saya sudah mengutus orang saya kemudian besoknya saya olah TKP sendiri. Saya punya datanya. Saya sudah mengambil--ya maaf saja secara hidden--makanya nggak bisa dipublikasikan, tapi saya bisa menyampaikan ke penyidik. Misalnya ada di situ ada saksi, tapi saya ambil rekaman tidak atas izin, kan artinya tidak boleh saya ini (rekam), saya mengambil hanya sebagai informasi, 'oh bahwa ada ini', tapi itu tidak bisa saya publikasikan. Kalau untuk konsumsi saya pribadi, kan tidak masalah," papar Wa Ode.Wa Ode pun menantang pihak PT MPM untuk bertemu untuk sama-sama membuktikan soal para pelaku tersebut.Gini aja, deh, MPM itu ketemu sama saya, saya buktikan, 'Nih, orang-orangnya' memang dia itu bekerja di MPM, entah dia disuruh oleh orang MPM. Persoalan lain saya tidak tahu, itu harus dibuktikan. Bahwa mereka orang-orang MPM iya," bebernya.

Seperti diketahui, Wa Ode diserang sekelompok orang di Cianjur, Jawa Barat, pada Jumat (15/10). Mobil Toyota Alphard warna putih miliknya dirusak oleh sekelompok orang.

Singkat cerita, kedatangan Wa Ode ke Cianjur saat itu hendak ke Polres Cianjur untuk suatu urusan. Seperti diketahui, Wa Ode berprofesi sebagai advokat. Sebelum ke Polres Cianjur, ia bersama stafnya mampir ke sebuah restoran.

Wa Ode berencana menginap di vila selama satu malam di kawasan tersebut untuk istirahat dan sekadar melepas lelah. Apalagi staf-stafnya kelelahan setelah beberapa pekan bekerja dengan cukup berat.

"Setelah istirahat, sore hari sekitar pukul 15.30 WIB, kami ke daerah Puncak 2, sekitar 3-4 km dari resto, untuk melihat pemandangan Kota Bunga dari ketinggian. Untuk menuju Puncak 2, kami melewati jalan raya arah Jonggol. Setiba di jalan yang sudah mulai menanjak, saya dan rombongan melihat ada perkebunan yang diberi beberapa plang dan ada suatu tempat yang terlihat seperti pos penjagaan perkebunan. Saat itu kami lihat ada beberapa orang yang berjaga-jaga di sekitar pos," kata Wa Ode dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Minggu (11/10/2020).

Penyerangan itu terjadi saat Wa Ode dan staf-stafnya sedang berada di sebuah outlet.

"Sekitar 10 menit berada dalam outlet, saya dilaporkan La Ode Ahmad (stafnya), bahwa mobil saya dirusak orang-orang. Mendengarnya, saya sangat terkejut dan langsung ke luar outlet. Saat itu saya melihat banyak orang sedang berkerumun dan terlihat panik," paparnya.(detik)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel