Tere Liye: Toleransi itu tidak dilihat dari apa yang kita posting di media sosial

KEKACAUAN BERPIKIR

Toleransi itu tidak dilihat dari apa yang kita posting di media sosial. Wah, kacau sekali, jika netizen merasa paling toleran hanya lewat media sosial. Kacau. Sekacau2nya berpikir.

Lantas dari mana toleransi dilihat? Baik, akan saya kasih kalian test, nanti kamu jawab. 

1. Apakah kamu kenal tetangga samping kiri-kanan rumahmu? 
2. Apakah kamu kenal siapa Ketua RT mu?
3. Apakah kamu mengecilkan volume televisi, musik, dll di rumahmu biar tidak mengganggu orang lain?
4. Apakah kamu memastikan mobil, motor mu itu tidak meraung2 saat masuk komplek/kampung/gang rumahmu?
5. Apakah kamu suka ikut gotong-royong warga, kampung, atau aktivitas bersama lainnya?
6. Apakah kamu memastikan hewan peliharaan, mobil milikmu, pohon di rumahmu, tidak menganggu tetanggamu?

Daftar ini masih panjang sekali. Tapi sungguh, tidak ada yang akan bertanya: apakah kamu sudah komen paling toleran di media sosial? apakah kamu sudah sibuk update status paling toleran di media sosial? apakah kamu sudah sibuk mengomentari hal2 lain di media sosial?

Karena bukan apa2. Kita sibuuuk sekali bergaya paling toleran, tapi kita malah tidak kenal siapa Pak RT kita, lah? Kamu teh hidupnya di mana? Mahkluk gaib medsos? Atau kamu masuk kategori mahluk sosial yang benar2 hidup bertetangga, bertoleransi dengan tetangga sekitar? Daftar 1-6 tadi misalnya, kalaupun tdk semua, minimal separuh kita bisa menjawabnya.

Jangan sampai kita hebat sekali berkomentar di medsos, sibuuuk menghakimi peristiwa2 yang menurut kita tidak toleran, sibuuuk menghakimi orang2 yg kita nilai tdk toleran, tapi ternyata, tetangga sebelah rumah saja tidak tahu. Kacau. 

Semoga kalian mau merenungkannya. 

By Tere Liye, penulis novel "Selamat Tinggal"

(Sumber: fb)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel