Bagaimana Islam sebagai Inspirasi, Aspirasi, dan Solusi


Oleh: Mira 

Penulis Komunitas Rindu Syurga


Dikutip dari AntaraNews.com, Menteri Agama (Menag) RI Yaqut Cholil Qoumas kembali menegaskan dan mengajak masyarakat di Tanah Air agar menjadikan agama sebagai sebuah inspirasi bukan aspirasi. Dalam bahasa paling ekstrem, ujar dia, siapapun yang berbeda keyakinannya, dianggap lawan atau musuh. "Itu norma yang kemarin sempat berkembang atau bahasa lainnya populisme Islam," katanya. (27/12/2020)

Pernyataan ini tentu saja tak sepatutnya dilontarkan. Karena tak boleh dilupakan, bahwasanya bangsa ini merdeka dan mampu bertahan sampai hari ini atas jasa umat Islam yang berpegang teguh pada ajaran agamanya, Islam. Tanpa umat Islam menggenggam agamanya negara ini tidak akan pernah lahir.

Timor Timur lepas dari kesatuan negara muslim mayoritas ini, tersebab penguasa kala itu mengabaikan syariat Islam yang secara tegas mengharamkan disintegrasi. Seruan lantang umat Islam menolak kemerdekaan Timor Timur dari Indonesia dianggap angin lalu.

Kalau melihat fakta sejarah, Khilafah Islamiah yang difitnah sebagai pemecah belah persatuan justru berhasil menyatukan setidaknya tak kurang dari 2/3 wilayah dunia selama berabad-abad. Bahkan sejak awal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan kewajiban negara Islam menjaga hak beragama nonmuslim.


“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menulis surat kepada penduduk Yaman, “Siapa saja yang tetap memeluk agama Nasrani dan Yahudi, mereka tidak akan dipaksa untuk keluar dari agamanya.” (HR Abu ‘Ubaid)

Hukum Islam yang bersumber dari Allah SWT  dapat memberikan solusi terhadap permasalahan umat muslim, karena Allah telah menurunkan hukum untuk mengatur seluruh  tatanan kehidupan umat manusia, sekaligus untuk menegakkan keadilan. Tanpa adanya hukum, maka manusia akan bertindak sebebas-bebasnya tanpa menghiraukan hak dan kepentingan orang lain. 

Melaksanakan hukum Islam akan menciptakan kemaslahatan umat, sehingga  umat Islam harus memahaminya. Umat harus paham bahwa hakekat suatu perbuatan itu sama, tidak tergantung oleh waktu atau zaman, karena yang membedakannya hanyalah sarana perbuatannya. Sebagai contoh kasus pencurian dari dahulu maupun sekarang kasus ini selalu ada, yang membedakannya adalah cara melakukan pencuriannya, yang untuk saat ini dipengaruhi oleh kemajuan sarana dan teknologi. Adapun hukum pencuriannya tetap sama, yaitu haram. 

Umat harus memahami bila ada fakta/kondisi yang bertentangan dengan dalil (syariah), maka fakta/kondisi itulah yang harus diubah, bukan sebaliknya, syariah yang harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Misalnya banyak orang tidak shalat, bukan berarti hukum shalat harus diubah menjadi sunnah/mubah, tetapi yang tidak shalat mesti disadarkan untuk melaksanakan shalat. 

Syariat Islam juga mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara untuk warganegara yang majemuk, karena Islam mengatur hak dan  kewajiban warganegara muslim dan non muslim untuk mewujudkan kehidupan bernegara. Pengaturan ini sudah dipraktekkan berabad-abad lamanya, sehingga dikenal  istilah kafir dzimmi yaitu non muslim yang menjadi warganegara sistem Khilafah yang keamanan jiwa dan hartanya dijamin oleh negara. Terkait ini Rasulullah bersabda sebagaimana telah diriwayatkan oleh Imam Abu Daud :

أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا أَوِ انْتَقَصَهُ أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ketahuilah, bahwa  siapa yang menzalimi seorang mu’ahad (non-Muslim yang berkomitmen untuk hidup dalam naungan negara Islam), merendahkannya, membebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa keridhaan dirinya, maka saya adalah lawan bertikainya pada hari kiamat.”

Selain itu terdapat lembaga yang salah satu fungsinya adalah untuk mendengarkan aspirasi kelompok non muslim, yaitu lembaga majelis ummah. Lembaga ini menjadi tempat bernaung perwakilan semua kelompok termasuk non muslim untuk memberikan masukan kepada Khalifah dalam menjalankan roda pemerintahan.


Wallahua’lam bishawwab


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel