Pak Presiden... Kami Inginnya Di Rumah, Tapi Perut Kami Menuntut Untuk Keluar Rumah Mencari Nafkah

Kami Inginnya Di Rumah, Tapi Perut Kami Menuntut Untuk Keluar Rumah Mencari Nafkah

Oleh: Ahmad Khozinudin, SH (Advokat Muslim)

"Selamat pagi. Tak ada tempat yang lebih baik saat ini selain di rumah saja dan menjauhi kerumunan." [Jokowi dalam akun Instagram @jokowi, Senin, 5/7/2021]

Renyahnya kata-kata Presiden Joko Widodo yang mengimbau masyarakat agar tetap di rumah. Mungkin, dibenak Tuan Presiden tabungan rakyat bejibun, mirip miliknya dan anak-anaknya. Sehingga, mau dirumah seumur hidup pun, tidak kekurangan uang untuk mencukupi kebutuhan makan.

Tuan Presiden tidak peduli, rakyatnya banyak yang bekerja sehari untuk makan sehari. Bahkan, ada yang berutang untuk kebutuhan sehari-hari, dengan jaminan bekerja setiap hari.

Jadi, logika rakyat itu berbeda dengan logika tuan Presiden. Rakyat mau makan ya harus kerja. Tak mau kerja, ya tidak makan.

Rakyat mau saja, bahkan bahagia duduk manis di rumah sambil bercengkrama dengan keluarga, bebas dari virus Corona asalkan kebutuhan dasarnya dipenuhi sebagaimana diatur dalam pasal 55 UU No 6/2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan. Rakyat rela dikarantina di rumah, asalkan dijamin makan.

Tuan Presiden tidak mau terapkan Karantina Wilayah tapi gunakan PPKM Darurat. Itu artinya, rakyat diminta mengurung diri di rumah, tapi makannya tidak ada yang tangguh jawab. Padahal, burung dikurung di sangkar saja dikasih makan.

Tuan Presiden, jangan menganggap rakyat banyak tabungan. Bisa memborong kebutuhan hidup di Indomaret, lalu mengurung diri di rumah, sambil asyik nonton TV sampai tanggal 20 Juli 2021. 

Rakyatmu bukan seperti Kaesang, yang bisnis martabak dengan omset miliaran. Kalau semua rakyat seperti Kaesang, jangankan dua minggu, satu tahun juga sanggup duduk manis di rumah.

Rakyatmu bukan seperti Gibran yang Kepala Daerah, punya gaji tetap. Rakyat itu gaji gak jelas, kerja masih banyak yang serabutan.

Rakyatmu juga tidak seperti menantumu Bobby, pebisnis sekaligus penguasa di daerah. Di Kota Medan, menantumu hidup serba berkecukupan.

Rakyatmu, Rakyat Indonesia itu kebanyakan orang susah. Mereka banyak yang bekerja sebagai buruh harian lepas, kuli, ojeg, kerja serabutan, yang mereka ini kalau tidak bekerja ya tidak makan. 

Semestinya, dana ratusan triliun anggaran Covid-19 itu untuk memberi makan rakyat seperti ini, bukan dikorupsi Juliari Peter Batubara PDIP, atau dimakan dengan modus data fiktif hingga 20 juta penerima bansos sebagaimana dilaporkan Mensos Risma ke KPK.

Maaf Tuan Presiden, di rumah itu tidak aman. Rakyat bisa mati kelaparan. Seorang kepala keluarga, tidak akan mampu berdiam diri di rumah, melihat anak dan istrinya menangis kelaparan.

Rakyat akan bertaruh nyawa mencari makan, menembus PPKM Darurat, melawan badai Corona, demi menghidupi keluarga mereka. Mengambil pilihan di rumah sementara negara tidak menjamin kebutuhan hidupnya, sama saja mengambil pilihan bunuh diri bersama keluarga.(*)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel