Bagaimana Cara China Menguasai Sumber Daya Mineral Kobalt di Kongo? Melalui Sogok-menyogok ke Kroni Presiden

Bagaimana Cara China menguasai Sumber Daya Mineral Kobalt di Kongo Bagaimana Cara China Menguasai Sumber Daya Mineral Kobalt di Kongo? Melalui Sogok-menyogok ke Kroni Presiden
Bagaimana Cara China menguasai Sumber Daya Mineral Kobalt di Kongo?

Laporan Media Belanda NRC (28/11/2021):


China memang haus akan kebutuhan energi. China mengalami krisis energi. Energi Fossil sudah semakin menipis serta penuh kritik akan polusi. Energi hijau atau yang dikenal renewable energy butuh elemen transisi energi.

Kobalt di Kongo adalah solusinya. Kobalt adalah element penting untuk pengisian energi pada Baterei (rechargeable batteries). Kobalt berfungsi sebagai transisi energi. Dengan menguasai Sumber Daya Mineral Kobalt maka China kan bisa membangun produksi baterei secara massive.

Bagaimana agar Sumber Daya Mineral Kobalt di Kongo akhirnya jadi milik China?

Laporan dari Media Belanda het NRC Handelsblad amat menarik menjelaskan. Melalui sogok-menyogok dari BUMN China ke Kroni Presiden dan Pejabat Korup di Kongo maka beralih lah kepemilikan SDM Kobalt Kongo ke BUMN China. China pun membangun infrastruktur di Kongo untuk mendukung industri pertambangan untuk mengekspolitasi Kobalt.

Het NRC Handelsblad, media Belanda ini, juga menceritakan bagaimana sesungguhnya sejak dulu Sumber Daya Mineral di Kongo tidak pernah dikuasai oleh Pemerintah Kongo untuk digunakan untuk kesejahteraan rakyatnya secara merata. Dulu pun perusahaan pertambangan barat menguasai berbagai pertambangan di Kongo seperti Minyak, Berlian, Emas dan Tembaga.

Hanya kritik masyarakat dan media Barat amat keras menentang Perusahaan mereka di Kongo seperti tidak mampu mencegah pekerja anak. Perusahaan barat pun harus menghadapi besarnya kasus suap dan sogok-menyogok disertai kebijakan pemerintah Kongo yang tidak menentu. Selain itu juga konflik berdarah antar faksi yang berkepanjangan yang mendapat kritik aktivis HAM. Jadilah perusahaan barat pun menyerah lalu meninggalkan Kongo.

Posisi kosong ini membuat masuk China yang tampaknya jauh lebih lihai deal dengan pemerintah korup dan urusan sogok-menyogok di Kongo. Pertambangan Kobalt pun dikuasai China. Berbeda dengan barat yang butuh pekerja lokal untuk penambangan sehingga terpaksa menerima pekerja anak dan ini dikritik tajam. Sementara China bisa membawa penduduknya untuk dipekerjakan di pertambangan.

Menurutku, mungkin saat ini Perusahaan Tambang Barat cuma bisa gigit jari iri kah terhadap keberhasilan China? Perusahaan Pertambangan Barat tampaknya kalah lihai dengan BUMN Pertambangan China.

Yang jelas, saat ini China semakin punya peluang besar terdepan dalam renewable energy karena Kobalt adalah elemen penting untuk pengisian baterei.

Moral Pointnya: Pada akhirnya Masyarakat yang miskin literasi disertai pemerintah yang korup bisa menjadi "sasaran empuk" negara kuat untuk menyedot kekayaan alamnya. Jadi lah masyarakat tsb semakin miskin...

(Ferizal Ramli)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini