Pilih Loyalis Pimpin Militer Indonesia, Adakah Ini Pertanda Jokowi Ingin Berkuasa Lebih Lama?

Jokowi Main Aman dengan Pilih Loyalis Pimpin Militer Indonesia Pilih Loyalis Pimpin Militer Indonesia, Adakah Ini Pertanda Jokowi Ingin Berkuasa Lebih Lama?
Jokowi Main Aman dengan Pilih Loyalis Pimpin Militer Indonesia

Oleh: Made Supriatma

Saya menulis satu artikel kecil tentang penggantian Panglima TNI, Kasad, dan kemungkinan Pangkostrad. Setelah itu gerbong mutasi akan bergerak lagi di dalam TNI.

Ada tiga orang yang istimewa. Seperti Anda tahu, Jendral Andika Perkasa, menjadi Panglima TNI. Jendral Dudung Abdurachman menjadi Kasad. Ada banyak spekulasi bahwa jabatan Pangkostrad akan dijabat Mayjen Maruli Simanjuntak, sekarang Pangdam XVI/Udayana.

Apa yang sama dari promosi ketiga jendral ini? Ternyata ketiganya punya hubungan keluarga dengan para loyalis presiden. Mungkin lebih tepat disebut para oligarch loyalis presiden.

Kecuali Dudung, dua jendral lainnya pernah menjadi Komandan Paspampres. Mayjen Maruli bahkan tiga kali bertugas di Paspampres. Dengan demikian, Presiden punya pengetahuan dan kedekatan dengan jendral-jendral ini.

Andika Perkasa adalah menantu Jendral Pur. AM Hendropriyono. Saya pernah menulis secara panjang lebar perjalanan karirnya.

Dudung Abdurahman terkenal dengan kontroversinya menurunkan baliho FPI dan Rizieq Shihab. Dia mengusulkan pembubaran FPI. Dan terakhir dia mengatakan bahwa semua agama sama saja, yang tentu saja membikin jengkel kalangan Islam konservatif.

Dudung sangat dekat dengan PDIP dan Megawati Sukarnoputri, ketuanya. Dia juga dekat dengan Jokowi. Dilihat dari segi ideologis, dia mungkin lebih tepat digolongkan sebagai nasionalis. Mertuanya adalah Mayjen Pur. Cholid Ghozali, mantan pembina PP Baitul Muslimin Indonesia, sebuah organisasi underbouw PDIP untuk menjangkau pemilih Muslim.

Sementara Mayjen Maruli Simanjuntak adalah menantu dari Jendral Pur. Luhut Binsar Panjaitan. Kita tahu Luhut memegang peranan sangat penting dalam administrasi pemerintahan Jokowi.

Saya tidak bisa tidak menyimpulkan bahwa promosi-promosi ini lebih mengikuti pertimbangan politik. Presiden menginginkan stabilitas -- apalagi dimasa ketidakpastian pasca-Covid ini. Tentu ini adalah penjelasan yang 'rata-rata' kalem dan non-politis.

Namun adakah penjelasan lain? Presiden ini ingin menancapkan kontrol lebih besar kepada militer, sebuah bidang dimana dia tidak pernah ada didalamnya. Itu dia lakukan dengan mengangkat menantu-menantu para loyalisnya.

Pengangkatan ini sendiri memperkuat kecenderungan Jokowi. Dia berusaha benar-benar menyatukan para elit. Sebelumnya, dia mengisi kabinetnya dengan para 'crazy rich' Jakarta. Kabinetnya penuh dengan, mengutip tulisan Ruth Pollard di Bloomberg News hari ini, para oligarch.

Saya menutup tulisan ini dengan pernyataan dan pertanyaan. Konsolidasi para elit di kubu presiden ini -- dari pengusaha-pengusaha besar hingga ke oligarkh politik -- memunculkan pertanyaan: Adakah ini pertanda bahwa ia ingin berkuasa lebih lama?



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini