Belajar Dari Dr. Musthafa Umar, Ulama Kharismatik Riau

Kami tidak pernah meminta pada orang tua murid menyumbang untuk pembangunan pesantren Belajar Dari Dr. Musthafa Umar, Ulama Kharismatik Riau
Belajar Dari Dr. Musthafa Umar

“Kami tidak pernah meminta pada orang tua murid menyumbang untuk pembangunan pesantren. Bahkan untuk menyampaikan laporan perkembangan pembangunan pun tidak, karena itu ‘meminta’ yang terselubung. 

Siapa yang punya minat untuk membantu silahkan membantu. Ketika ada dana pembangunan dilanjutkan. Ketika dana tidak ada pembangunan diistirahatkan. 

Tekad kami sejak awal, tidak akan meminta kepada siapapun selain hanya kepada Allah Swt. Dan disinilah kami menemukan berbagai keajaiban. Ketika seluruh harapan ditumpangkan kepada Sang Maha Pemberi. Ketika itu kami benar-benar melihat bukti nyata dari firman-Nya : “Dan Dia memberi rezeki dari jalan yang tidak diduga-duga.””

**********

Demikian pelajaran yang sangat berharga yang kami dapatkan saat berkunjung ke Pondok Pesantren Tafaqquh yang didirikan dan diasuh oleh ulama kharismatik Riau; Dr. Musthafa Umar, Lc., MA. Sosok yang sangat teduh, berwibawa dan rendah hati. 

Ketika kami datang beliau yang langsung menyambut dan mengarahkan parkir mobil. Tidak mengandalkan orang lain. Beliau juga yang langsung menjamu kami dan berbincang-bincang tentang pondok yang sedang beliau bangun. Pondok pesantren ini terletak cukup jauh dari Pekanbaru. Lokasinya jauh dari keramaian. Bisa dikatakan sangat pelosok.
Kami tidak pernah meminta pada orang tua murid menyumbang untuk pembangunan pesantren Belajar Dari Dr. Musthafa Umar, Ulama Kharismatik Riau
Ada yang menarik dari kisah awal kenapa pesantren ini beliau bangun. 

Dulu beliau biasa mengadakan camp tahfizh untuk anak-anak setingkat SMP dan SMA. Camp dipusatkan di hotel-hotel berbintang di Pekanbaru. Selama camp berlangsung ada saja peserta yang sakit dan demam. Padahal hotel sebagai lokasi camp sangat bersih. Makanan pun terjaga.

Akhirnya beliau mencoba mengadakan camp tahfizh di perkebunan sawit miliknya. Tempatnya tentu tidak sebersih hotel. Tapi peserta camp berada di alam terbuka. Menghirup udara segar. Mendapat sinar matahari yang cukup. 

Ajaib, tidak satupun peserta yang sakit. Alhamdulillah. Sejak saat itu beliau bertekad membangun pesantren di tempat tersebut yang sekarang menjadi lokasi Pondok Pesantren Tafaqquh.

Pesantren ini baru berjalan dua tahun. Masuk tahun ketiga. Untuk tingkat SMP beliau menamakannya dengan SMP Tahfizh Berbasis Akhlak. 

Tidak tanggung-tanggung, targetnya selama tiga tahun santri sudah hafal al-Quran. Tapi, menurut Dr. Musthafa, ini tidak terlalu berat. Yang paling berat adalah menanamkan akhlakul karimah pada diri setiap santri. Apalah arti hafal al-Quran kalau akhlak terabaikan.

Untuk mencapai tujuan itu, hafal 30 juz dengan karakter dan akhlak yang baik, maka beliau menyiapkan lingkungan dan fasilitas pesantren yang sangat kondusif. Fasilitas yang disiapkan tidak mesti mahal dan mewah. Karena tujuannya bukan agar santri dimanjakan, melainkan agar mereka betah dan selalu semangat dalam belajar.

Konsep yang beliau bangun adalah bersahabat dan menyatu dengan alam. Karena itu beliau membuat danau-danau di sekitar asrama santri.

Setiap asrama pun hanya diisi oleh enam orang santri saja dengan satu orang mudabbir (pembimbing).

Untuk membangun semangat ukhuwah islamiyah dan cinta jihad dalam diri para santri, beliau sedang membangun masjid dengan corak Qubbah Shakhrah al-Aqsa Palestina. Masjid tersebut diharapkan menjadi replika kubah al-Aqsa. Sambil bergurau beliau berkata, “Kalau belum sempat ke al-Aqsa Palestina, datanglah dulu ke sini. Kelak kalau Allah izinkan baru kita bersama-sama ke al-Aqsa.” 

Luar biasanya, untuk pembangunan masjid ini sudah ada yang menanggung biayanya dari Malaysia. Dan itu, tanpa proposal atau minta-minta sama sekali.

Ketika kami bertanya, apa salahnya buat proposal? Toh semua untuk agama Allah? Bukankah dengan demikian kita memberikan peluang bagi orang lain untuk beramal? 

Dengan senyuman khasnya, beliau menjawab: 

“Tidak salah. Dan kami tidak pernah menyalahkan orang lain. silahkan saja. Tapi untuk kami, kami tidak akan melakukannya. Kami ingin menanamkan karakter tawakkal kepada anak-anak kami. Bagaimana mungkin kami bisa menanamkan hal itu dalam diri mereka kalau kami sebagai guru dan pengasuh belum bisa memberikan contoh untuk itu?”

بارك الله فى جهودكم ومسعاكم يا مولانا دكتور مصطفى عمر

24/12/2021

(Ustadz Yendri Junaidi)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini