BISNIS KARANTINA

Ratusan WNI yang pulang dari luar negeri kesulitan mendapatkan fasilitas karantina cuma BISNIS KARANTINA
KISRUH KARANTINA

Ratusan WNI yang pulang dari luar negeri kesulitan mendapatkan fasilitas karantina cuma-cuma. Di Bandara Soekarno-Hatta, mereka terlunta-lunta menahan lapar dan dahaga tanpa kepastian memperoleh tempat karantina. Nasib mereka kontras dengan para anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan keluarganya yang mendapat 'katebelece' untuk menjalani karantina mandiri.

Pengalaman buruk itu dialami Riza Nasser pada 8 Desember lalu, ketika baru kembali dari Malaysia. Setibanya di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, dia harus menunggu lebih dari 19 jam untuk mendapatkan tempat karantina. “Tidak ada makanan atau minuman yang disediakan,” kata pria berusia 35 tahun itu kepada Tempo, kemarin.

Sudah dua tahun Riza tidak bertemu dengan istri dan anaknya yang berada di Malaysia. Karena itu, pada awal Desember, dia terbang ke Negeri Jiran untuk menemui mereka. Karena izin cutinya tidak lama, Riza hanya beberapa hari di sana, lalu segera kembali ke Tanah Air. “Pesawat mendarat sekitar pukul 20.30,” katanya.

Setelah turun dari pesawat, Riza bergegas masuk ke pintu kedatangan internasional. Di sana sudah ada petugas yang mengarahkan penumpang menuju loket pemeriksaan dokumen. Riza mengikuti arahan itu sampai bertemu dengan petugas lain yang mengenakan seragam berlogo Kementerian Kesehatan. Petugas ini merekomendasikan Riza menjalani karantina di hotel selama 10 hari dengan biaya Rp 8,2 juta. Sayang, Riza tak punya uang sebanyak itu. “Lagi pula saya ke Malaysia bukan untuk berlibur, melainkan menengok anak-istri.”

Karena terdesak, Riza kemudian mendekati seorang anggota TNI. Ia meminta bantuan petugas itu agar bisa ditempatkan di fasilitas karantina yang disubsidi pemerintah. Upayanya berhasil. Tentara itu menyuruh Riza bergabung dengan sekelompok orang yang tengah duduk lesu di kursi tunggu. “Mereka ternyata senasib dengan saya, tak punya duit untuk karantina di hotel,” katanya.

Sekitar satu jam kemudian, seorang petugas datang untuk mendata Riza dan orang-orang yang senasib dengannya. Setelah itu, mereka diminta menjalani pemeriksaan imigrasi dan mengambil bagasi. “Sekitar pukul 02.00 (9 Desember 2021), kami diminta naik ke bus Damri,” katanya. Petugas mengatakan mereka akan menjalani karantina di Rumah Susun Pasar Rumput, Jakarta Selatan. Riza tidak menghitung berapa banyak orang yang ada di bus itu. Namun dia memperkirakan jumlahnya tidak kurang dari 60 orang. “Saat bus jalan, saya berusaha memejamkan mata dan berharap segera sampai tempat karantina.”

Ketika langit sudah mulai terang, bus tiba di Rumah Susun Pasar Rumput, tapi belum bisa masuk ke area parkir. Dari jendela bus, Riza melihat antrean bus mengular untuk menunggu giliran menurunkan penumpang di rumah susun. Penumpang bus terlihat sudah gelisah, tanpa makan dan minum. "Kami merasa seperti dikurung di dalam bus,” katanya. “Saya baru makan mi instan seduh pada jam 8 pagi. Harganya pun lima kali dari harga warung eceran."

Sekitar pukul 16.30, kata Riza, mereka baru turun dari bus, lalu masuk ke kamar yang menjadi tempat isolasi. “Kalau dihitung secara keseluruhan, proses yang saya jalani lebih dari 19 jam untuk masuk ke tempat karantina,” katanya. “Kami menjalani karantina selama delapan hari.”

Kesulitan Riza juga dialami oleh puluhan atau mungkin ribuan orang yang baru pulang dari luar negeri. Karena tak semua dari mereka memiliki biaya, akhirnya sebagian di antaranya terlunta-lunta sebelum masuk ruang karantina. Ini merupakan proses yang wajib mereka jalani, sesuai dengan aturan pemerintah untuk mencegah penularan Covid-19, terutama varian Omicron dari luar negeri. Nasib Riza kontras dengan kemudahan yang diperoleh sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sepulang dari luar negeri. Mereka mendapat "katebelece" untuk menjalani karantina mandiri di rumah.

*****

Pengalaman pahit ini juga tergambar melalui sebuah rekaman video berdurasi 2 menit 30 detik yang beredar di media sosial. Dalam video itu, terlihat puluhan orang sedang duduk—ada pula yang tiduran di lantai—di Terminal 3 kedatangan internasional Bandara Soekarno-Hatta. Di balik kamera, terdengar jelas suara seorang perempuan. Ia mengatakan orang-orang itu tengah menunggu untuk diberangkatkan ke tempat karantina. “Ini pagi, jam 4, kita di Bandara Soekarno-Hatta ngantri untuk karantina di Wisma Atlet. Ngantri dari habis magrib sampai subuh, ya," ujarnya.

Komandan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Bandara Soekarno-Hatta, Kolonel Agus Listiyono, membenarkan bahwa video itu berada di Bandara Soekarno-Hatta. “Tapi itu peristiwa sepekan lalu dan kami tidak membantah saat itu memang terjadi penumpukan,” katanya.

Menurut Agus, pekan lalu ada kendala untuk mengkarantina orang-orang yang baru kembali dari luar negeri. Sebab, tempat karantina di Wisma Atlet ditutup sementara karena ada petugas kebersihan yang terinfeksi Covid-19 varian Omicron. Sementara itu, tempat karantina di Rumah Susun Nagrak, Cilincing, Jakarta Utara, belum sepenuhnya siap. “Akibatnya, penumpang yang harusnya masuk ke Rusun Nagrak akhirnya tertunda,” kata dia.

Karantina untuk Pendatang dari Luar Negeri

Agus mengatakan penumpukan penumpang di bandara ini memang menimbulkan ketidaknyamanan. Tapi Satgas Penanganan Covid-19 tidak bisa berbuat banyak. Satgas juga tidak bisa menyediakan makanan dan minuman untuk mereka. "Tidak mungkin Satgas berjualan, dan ketika mereka membeli makanan pun atas izin kami karena rasa kemanusiaan," kata Agus.

Menjelang libur Natal, kata Agus, jumlah penumpang dari luar negeri melonjak signifikan di Bandara Soekarno-Hatta. Peningkatan per hari antara 3.000 dan 4.000 orang. Mestinya, kata Agus, masyarakat yang berwisata ke luar negeri sudah deposit hotel sebelum mereka kembali ke Tanah Air. Dengan demikian, tidak ada alasan lagi wisatawan pulang dari luar negeri tidak bersedia menjalani karantina di hotel.

Berdasarkan pantauan Tempo di Rumah Susun Pasar Rumput, kemarin, masih terlihat antrean bus yang mengantar orang untuk menjalani karantina di tempat itu. Namun antrean tersebut tidak berlangsung terlalu lama. Kurang dari satu jam, bus sudah bisa menurunkan penumpang dan meninggalkan tempat itu.

Seorang pedagang makanan di sekitar rusun mengatakan, sejak sebulan terakhir, bus dari bandara memang datang dan pergi secara bergantian. “Dari malam sudah ada yang datang,” katanya.

Seorang tentara yang bertugas di Rusun Pasar Rumput mengatakan bus yang datang dari bandara tidak bisa langsung masuk area parkir rusun dan menurunkan penumpang yang akan menjalani karantina. Mereka harus menunggu bus lain yang lebih dulu datang. “Sebelum meninggalkan rusun, bus yang telah menurunkan penumpang harus disterilisasi dulu,” katanya.(TEMPO)

[VIDEO]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini