VAKSIN BOOSTER: 121 Juta Dosis Berbayar

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kebutuhan vaksin tahun depan akan meling VAKSIN BOOSTER: 121 Juta Dosis Berbayar
[PORTAL-ISLAM]  Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kebutuhan vaksin tahun depan akan melingkupi vaksin untuk anak dan booster. 

"Untuk booster (program pemerintah) 100 jutaan, ada juga booster berbayar 121 juta dosis," ujar Budi dalam acara Ngobrol Tempo, Selasa, 28 Desember 2021.

Untuk vaksinasi booster program pemerintah, Menkes memperkirakan kebutuhannya dapat dipenuhi dari vaksin donasi. Musababnya, ia mengatakan Indonesia kemungkinan akan mendapat vaksin dari COVAX sebanyak 54 juta dosis pada tahun depan.

"Baru saja covax beri arahan baru bukan hanya 20 persen populasi diberikan, tapi 30 persen populasi. Jadi indonesia tahun depan akan dapat lagi 10 persen dari populasi karena sebelumnya 20 persen. jadi bisa dapat 27 juta orang atau ekuivalen 54 juta dosis vaksin," kata Budi.

Di sisi lain, The United States Food and Drug Administration alias FDA telah mengeluaran persetujuan penggunaan setengah dosis vaksin Moderna untuk suntikan booster.

Pasalnya, FDA menilai vaksin Moderna kuat dan cukup tinggi dalam menyebabkan Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi apabila dipergunakan satu dosis. Ia mengatakan hal tersebut juga diendorse oleh BPOM.

"Nah kita sekarang sedang tes dari peneriti dari ITAGI, beberapa orang profesor dari UI, Unpad, UGM untuk teliti soal efektivitas booster. Mungkin keluar finalnya 10 Januari," tutur Budi.

Kalau penelitian mengonfirmasi hal tersebut, maka ia berujar pemerintah dapat menggunakan setengah dosis Pfizer dan Moderna untuk vaksinasi booster. Artinya, 54 juta dosis vaksin yang didapat dari donasi bisa disuntikkan ke lebih dari 100 juta penduduk sebagai booster.

"Kita tinggal address kebutuhan vaksin anak. Karena vaksin anak sama WHO, WHO belum 100 persen lepas. WHO melihat prioritas yang dewasa karena risiko lebih tinggi. Sementara risiko anak lebih rendah, jadi baru tiga vaksin yang diizinkan: Sinovac, Sinopharm, dan Pfizer," ujarnya.[Tempo]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini