CAHAYA HIDAYAH MENYAPA HATI ANAK

Sebuah kasus tengah menanti sidang banding oleh Majelis Agama Islam Selangor CAHAYA HIDAYAH MENYAPA HATI ANAK
CAHAYA HIDAYAH MENYAPA HATI ANAK

Sebuah kasus tengah menanti sidang banding oleh Majelis Agama Islam Selangor (MAIS), Malaysia. Kasusnya berawal dari seorang pria yang mendapat cahaya hidayah dan memutuskan untuk bersyahadat. 

Ia membawa serta ketiga anak laki-lakinya untuk masuk Islam melalui Yayasan Hidayah Center di Taman Melawati dan  mengisi formulir pindah agama.

Sang istri yang masih beragama lama, tak terima. Sejak itu ia menceraikan suaminya dan mengklaim tidak diajak bicara tentang perpindahan agama anak-anaknya yang berusia 8, 11 serta 13 tahun. Ia lalu menggugat ke pengadilan.

Entah bagaimana nanti Pengadilan Selangor memutuskan kasusnya, namun sangat menarik untuk diikuti. Di Indonesia barangkali belum pernah ada. Ibu yang menggugat ke pengadilan atas kepindahan agama anaknya.

Kisah menarik disampaikan Imam Shamsi Ali. Da’i asal Indonesia yang aktif berdakwah di Amerika. Ada seorang anak bernama Rudy yang dibimbingnya bersyahadat.

Ketertarikan Rudy pada Islam karena berteman dengan beberapa orang Islam. Teman-temannya itu mempunyai program “feeding homeless”. Rudy biasa ikut-ikutan dalam program itu. Dari situlah ia melihat indahnya Islam dan belajar banyak.

Namun karena masih di bawah umur, Rudy membutuhkan izin tertulis dari orangtuanya untuk pindah keyakinan. Tak dinyana, ibunya memberikan izin. Sejak saat itu, Rudy merasakan manisnya iman.

Hangat cahaya hidayah bisa menyusup ke relung hati siapa saja yang Allah kehendaki. Tak peduli usia atau jenis kelaminnya.

Kisah masyhur yang bisa diambil pelajaran adalah datangnya cahaya hidayah pada sahabat mulia Ali bin Abi Thalib. Saat itu ia berumur baru 7 tahun, ada juga yang meriwayatkan 10 tahun. 

Masuk Islamnya Ali bermula ketika menyaksikan Rasulullah SAW dan Ibunda Khadijah melaksanakan shalat. Ali bingung lalu menanyakan apa gerangan yang dilakukan keduanya? Seketika itu, Rasulullah SAW menyampaikan risalahnya dan mengajak Ali meninggalkan Latta dan Uzza.

Ali yang masih sangat belia bingung dan ingin membicarakannya dengan ayah kandungnya, Abu Thalib. Namun Rasulullah SAW mencegahnya, karena belum turun perintah Allah untuk menyebarkan agama Islam.

Akhirnya, Ali pun mengambil keputusan sendiri dengan keyakinan penuh mengucap dua kalimat syahadat. Tercatat ia adalah orang yang pertama memeluk Islam dari golongan anak-anak. 

Sahabat lain yang mendapat hidayah di usia anak-anak adalah Abdullah bin Abbas, atau lebih dikenal dengan Ibnu Abbas. Ibn Abbas baru berusia 13 tahun ketika Rasulullah SAW wafat.

Amirul Mukminin Umar bin Khattab selalu mengundang Ibnu Abbas dalam majelis syura-nya dengan beberapa sahabat senior dan meminta pendapatnya. Beberapa sahabat “mempertanyakan” kenapa mengajak "anak muda" dalam diskusi mereka? 

Hal itu tak lain karena kedalaman ilmu yang dimiliki Ibn Abbas sekalipun usianya masih belia. Diriwayatkan Rasulullah SAW pernah merengkuhnya dan mengucapkan doa, "Ya Allah, ajarilah ia al-hikmah.” 

Berkat doa itu Ibn Abbas menjadi seorang ulama yang mumpuni. Ia dijuluki sebagai “tinta-nya umat”, dalam menyebarkan ilmu tafsir dan fikih. 

Begitulah seharusnya saat cahaya hidayah menyapa. Segera sambut dan jangan pernah melepaskannya.

(Uttiek)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini