MENGEMBALIKAN GUS DUR KE KHITTAHNYA

Terus terang saya miris dengan sejumlah tafsir terhadap Gus Dur yang melulu kultural MENGEMBALIKAN GUS DUR KE KHITTAHNYA
MENGEMBALIKAN GUS DUR KE KHITTAHNYA

Oleh: Amin Mudzakkir (Peneliti LIPI)*

Terus terang saya miris dengan sejumlah tafsir terhadap Gus Dur yang melulu kultural. Gus Dur disederhanakan sedemikian rupa sehingga hanya ditampilkan sebagai tokoh "pluralisme" dalam pengertian yang sangat sempit. Nama Gus Dur dimunculkan hanya ketika isu Tionghoa dan minoritas lainnya menyeruak ke permukaan. Cara memahami isunya pun sangat serampangan. Seolah-olah masalahnya adalah karena ada sekelompok orang Islam di Indonesia yang kearab-araban, kewahabi-wahabian, kesalafi-salafian, dan sejenisnya.

Tafsir yang melulu kultural tersebut mengaburkan khittah Gus Dur sebagai seorang kritikus sosial. Ketika mengadvokasi isu Tionghoa dan minoritas lainnya, Gus Dur sejatinya tidak pernah melecehkan orang Islam di Indonesia yang kearab-araban, kewahabi-wahabian, dan kesalafi-salafian--atau yang sekarang sering disebut "kadrun" itu. Yang dipersoalkan oleh Gus Dur adalah penggunaan identitas kearab-araban, kewahabi-wahabian, dan kesalafi-salafian oleh penguasa Orde Baru. Kita tahu sejak akhir 1980-an Presiden Soeharto menggunakan identitas Islam sebagai tameng dalam mempertahankan kekuasaannya.

Dengan ungkapan lain, sasaran dari kritik sosial yang dilancarkan oleh Gus Dur adalah politik identitas, bukan identitasnya itu sendiri. Identitas menjadi masalah ketika ia dimanipulasi oleh kepentingan politik-ekonomi yang boleh jadi oleh para pelakunya sendiri tidak dipeluk secara sungguh. Yang diambil hanya simbolnya, sedangkan hakikatnya entah.

Sayangnya khittah Gus Dur sebagai kritikus sosial dikaburkan oleh para buzzer akhir-akhir ini. Lebih dari itu, terkadang Gus Dur malah dijadikan komoditas untuk melegitimasi kepentingan politik-ekonomi tertentu. Gus Dur dijauhkan dari khittahnya.

Akan tetapi, alhamdulillah, foto di atas cukup berhasil membesarkan hati saya. Kehadiran Mbak Alissa Wahid (putri Gus Dur) di Wadas, plus foto Hadratus Syaikh di belakangnya, adalah langkah untuk mengembalikan kembali Gus Dur ke khittahnya sebagai kritikus sosial. 

Dari berbagai laporan yang terpercaya kita bisa membaca bahwa di Wadas memang terjadi masalah ketidakadilan sosial yang mencolok mata. 

Kalau Gus Dur masih hidup di tengah-tengah kita, saya cukup yakin beliau akan sedih melihat rakyat Wadas yang diminta pindah dari ruang hidupnya. 

*fb penulis

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini