Muslimah Afghanistan, Tuntutlah Penerapan Islam

Muslimah Afghanistan

Problematika muslimah Afghanistan tampaknya masih belum menemukan jalan keluar. Diketahui jika para perempuan Afghanistan menggelar aksi demonstrasi mengenai tuntutan pemenuhan hak pendidikan dan pekerjaan bagi mereka pada pemerintah Taliban, di depan Universitas Kabul pada Ahad, 16 Januari 2022. 

Aksi tersebut ditujukan untuk menuntut kesetaraan dan keadilan bagi para perempuan Afghanistan. Aksi yang diselenggarakan oleh para kaum wanita ini bukan kali pertama terjadi, diketahui bahwa sejak Taliban berkuasa pada Agustus tahun lalu, telah terjadi beberapa kali demonstrasi untuk pemenuhan hak-hak wanita. 

Sebagaimana sebelumnya pada 16 Desember 2021, para wanita Afghanistan menyerukan hal serupa mengenai pemenuhan hak pendidikan, pekerjaan, serta perwakilan politik kepada pemerintahan Taliban. Digelarnya aksi tersebut dikarenakan para Muslimah Afghanistan merasa bahwa peraturan Taliban mengekang aktivitas wanita. 

Sebab, sejak mengambil alih kekuasaan di Afghanistan, belum ada pemenuhan janji terkait perlindungan dan pemenuhan hak-hak wanita mengenai pendidikan, pekerjaan, dan perwakilan pemerintahan dari Taliban kepada mereka. Peraturan baru yang diterapkan pun dirasa membatasi kegiatan wanita, seperti larangan bagi para wanita untuk bepergian dengan jarak yang jauh, kecuali ditemani oleh kerabat (mahram) laki-laki mereka. 

Problem Afghanistan pun kian memburuk dengan terus membesarnya tekanan opini dan penghapusan bantuan internasional. Hal ini cukup mempengaruhi kondisi ekonomi Afghanistan, sebab pembekuan miliaran dolar aset Afghanistan dan penghentian dana oleh lembaga keuangan internasional menyebabkan hampir runtuhnya sistem perekonomian Afghanistan. 

Dengan hal tersebut, tantangan ekonomi serta pembatasan atas hak pendidikan, pekerjaan, bahkan pergerakan perempuan mendorong opini mengenai sulitnya bertahan hidup di Afghanistan, terlebih bagi seorang perempuan.

Problematika muslimah Afghanistan yang merasa sulit hidup di bawah kekuasaan Taliban menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan. Sebab, permasalahan ekonomi, penderitaan, ketidakadilan yang terjadi pada muslimah Afghanistan saat ini justru mendorong Islam untuk dijadikan kambing hitam. Hal ini dikarenakan kekuasaan Taliban yang mengusung latar Islam sebagai sistem kehidupan, nyatanya masih enggan menerapkan Islam secara kaffah. 

Kondisi inilah yang menjadi bumerang bagi sistem Islam dan mengundang pandangan negatif atas penerapan praktik Islam dalam kehidupan. Sehingga para Muslimah Afghanistan merasa bahwa hidup dalam aturan Islam itu banyak kekangan. Padahal jika dicermati lebih baik, kondisi Afghanistan sebelum kekuasaan Taliban pun tidak kalah buruk. Sistem sebelumnya yang dikendalikan oleh Barat cukup menggambarkan eratnya sekulerisme yang berlangsung di Afghanistan. 

Sehingga, penerapan Islam yang belum kaffah menjadi celah bagi sekulerisme untuk terus berkembang dan justru memberikan tekanan bagi Afghanistan agar lepas dari keterikatan Islam. Rasa pengekangan terhadap wanita yang terjadi pun merupakan dorongan sekulerisme dari opini Barat mengenai fenimisme. Dari sini jelas terlihat bahwa sekulerisme masih menjadi warna yang mendominasi di Afghanistan, baik sebelum maupun setelah kekuasaan Taliban. Sehingga tidak semestinya kita menaruh harapan pada sistem yang diberlakukan pada saat ini.

Jika kita cermati, problem utama dari permasalahan kaum wanita termasuk muslimah Afghanistan adalah tidak diterapkannya hukum-hukum Islam secara menyeluruh dalam naungan Sistem Islam. Semestinya perempuan Afghanistan menyadari bahwa sistem kapitalis sekuler buatan manusia adalah sumber dari kesulitan yang mereka alami. 

Seharusnya mereka tidak terprovokasi opini Barat dan justru menuntut pemberlakuan Islam secara kaffah karena kesulitan hidup mereka akan terurai dengan tegaknya Islam. Penerapan Islam secara kaffah tentu akan mendorong mulimah untuk memahami padangan Islam terhadap hak, posisi, dan peranan mereka dalam kehidupan sehingga dapat melawan opini feminisme yang dibawa Barat. 

Kaum muslimah pun akan memahami bahwa setiap aturan yang adalah bukanlah alat untuk mengekang mereka. Justru aturan yang ada merupakan suatu ciri betapa Islam menghormati dan menghargai wanita, sebab wanita adalah sosok yang berperan sangat mulia untuk mendidik generasi mendatang yang berkualitas, serta pengatur rumah tangga. 

Andai kata seorang wanita bekerja dengan tujuan membantu perekonomian keluarga, tentu perlu disertai dengan penerapan batasan Islam, seperti harus atas izin suami/wali, pemenuhan kewajiban utama sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, menjaga pergaulan, dan lainnya sesuai kebijakan yang hanya dapat diterapkan dengan tegaknya Islam kaffah. Oleh sebab itu, jelas yang hanya dapat diharapkan muslimah Afghanistan bahkan seluruh umat Islam adalah penerapan aturan Islam secara kaffah. Wallahu’alam.

Penulis: Syalika Rusma

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini