Suriah.. Rusia.. Ukraina

Pernah suatu ketika dalam perjalanan dari Damascus ke Lattakia Suriah.. Rusia.. Ukraina
Suriah.. Rusia.. Ukraina

Oleh: Saief Alemdar*

Pernah suatu ketika dalam perjalanan dari Damascus ke Lattakia, di highway Hom-Tartous, kami bertemu dengan macet. Rupanya di depan ada iring-iringan truk Rusia yang sedang mengangkut amunisi dan tank ke Arah Hama-Idlib.

Truk-truk besar itu dikawal oleh beberapa kendaraan GAZ-2330 dari depan dan belakang, plus 1 orang mungkin anggota Spetnaz di atas winsdshield itu namanya, tentunya dengan persenjataan lengkap. 

Di belakangnya ada Mercedes-Benz E280 (1986) warna hitam dengan kaca juga hitam semua, seorang penumpangnya berpakaian sipil mengayunkan tangan tanda jangan ada yang melewati. Aku langsung paham itu escort pihak keamanan militer Suriah. 

"Mas, tancap saja lewat pinggir, kita kan mobil diplomatik!", kata seorang bapak separuh baya, kebetulan aku yang nyetir. 

"¡Vamos!" Kataku dalam hati. Ku tancaplah gas mobil Land Cruiser Prado hitam kami melewati beberapa mobil sipil yang sedang antri dan berjalan lambat. 

Ketika mendekati konvoi truk Rusia, penumpang mercedes memberi kode agar tidak lanjut, tapi ku angkat tangan tanda salam dan ijin. 

Rupanya si abang Spetnaz di atas windshield memberi kode "setop", tapi aku mengulangi angkat tangan sebagai tanda salam dan ijin, karena dia pasti paham lah plat mobil kami.

"Trreeet..treeet...", terdengar beberapa kali suara tembakan peringatan dari si abang Spetnaz. Aku langsung minggir, Avicii lagi nyanyi "Hey, brother, there's an endless road to re-discover. Hey, sister, do you still believe in love, I won...." langsung diam. 

Sekejap suasana langsung sunyi, sepi, tidak ada yang berani mengucap satu katapun. 

Beberapa menit kemudian, konvoi Rusia belok ke arah Highway Hama, dan kami pun melanjutkan ke Highway Tartous menuju ke pesisir Mediterania. 

Setelah lewat, kami semua tertawa, "Hahahha...gileee! Kita masih hiduuup!"

Berawal dari cerita itu, aku melihat kalau Presiden Ukraina, Vlodimyr Zelensky itu orang yang berani. Biasanya presiden itu jarang turun ke medan tempur, medan perang. Malah ada yang didemo saja kabur. Ada juga yang lari meninggalkan pasukannya, seperti Presiden Afghanistan terakhir, yang kabur ke Dubai saat Taliban berupaya memasuki Kabul.

Terlepas dari benar atau tidak Presiden Zelensky di medan perang atau cuma settingan, sikap seperti itu sudah luar biasa. Bisa menjadi penyemangat bagi rakyat, makanya tidak aneh kalau warga sipil, laki, perempuan, tua, muda, bahkan ada yang baru akad nikah langsung angkat senjata. 

Ketika dia ditawari evakuasi oleh AS, Presiden Zelensky menjawab “The fight is here; I need ammunition, not a ride”. Itu udah greget banget. 

Entah apa yang membuat dia begitu, karena berani, atau karena sudah siap mati. Atau jangan-jangan, karena Presiden Zelensky dulunya aktor, komedian pula, terus dikira serangan Rusia itu bukan perang, tapi lagi buat film dokumenter yang disutradarai oleh Sean Penn!

*fb penulis (28/2/2022)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini