Andre Raditya: MAAF.. TERPAKSA SAYA MELAWAN KE-SOTOY-AN SI ABU-ABU (SEJARAH RENOVASI AL AQSHO)

 sebisa mungkin menahan diri dalam perkara yang sifatnya mengundang perdebatan Andre Raditya: MAAF.. TERPAKSA SAYA MELAWAN KE-SOTOY-AN SI ABU-ABU (SEJARAH RENOVASI AL AQSHO)
 sebisa mungkin menahan diri dalam perkara yang sifatnya mengundang perdebatan Andre Raditya: MAAF.. TERPAKSA SAYA MELAWAN KE-SOTOY-AN SI ABU-ABU (SEJARAH RENOVASI AL AQSHO)
MAAF.. TERPAKSA SAYA MELAWAN KE-SOTOY-AN SI ABU-ABU
(SEJARAH RENOVASI AL AQSHO)

Ini orang memang harus ditatar. Saya itu paling enggan komentar, sebisa mungkin menahan diri dalam perkara yang sifatnya mengundang perdebatan. Tapi kalau yang satu ini, saya harus bersuara karena berpotensi menyesatkan banyak orang. Kalau cuma sesat sendiri sih terserah.. namun kalau sudah menyesatkan. Gemes sudah saya..

Manusia satu ini.. rasanya perlu belajar sejarah Islam dulu dengan benar sebelum ngomong tentang Islam. Saya tahu bahwa bodoh adalah hak semua orang, tapi plisss.. jangan diborong sendirian. Malu-maluin. Itupun kalau masih punya malu.

Saya ceritakan sekilas tentang "Beberapa Fase Renovasi Al Aqsho"

Loh memang Al Aqsho awalnya tidak seperti sekarang?? Yak.. benar.
Masjidil Aqsho mengalami beberapa fase perbaikan dan perluasan.

Tapi.. bukan berarti masjidnya tidak ada dan lokasinya tidak ada sebelum sekarang.

Ini hal yang lumrah terjadi di berbagai situs warisan dunia.
Masjidil Harom yang sekarang kita saksikan, dulunya juga tidak begitu.. lantas apakah berarti Masjidil Harom itu baru ada sekarang??

Demikian juga dengan Masjid Nabawi, Shofa Marwa, Arofah.. dan banyak situs peninggalan para nabi. Semua mengalami perbaikan demi menjaga keberadaannya. Dan juga memastikan manfaatnya bisa diambil secara lebih meluas.

Contoh seperti sumur zam-zam. Dulunya betul-betul sumur yang ditimba. Para jama'ah umroh dan haji harus mengambil dengan timba untuk mendapatkannya. Namun semakin lama jumlah peziarah yang semakin banyak.. maka sumur zam-zam ditutup permukaannya dan dialirkan melalui pipa yang diolah sedemikian rupa untuk memudahkan jama'ah.

Pun juga pada Masjid Al Aqsho. Cikal bakal keberadaan Masjdil Aqsho sudah ada sejak masa nabi-nabi terdahulu. Hadits Rasulullah Sholallahu'alaihi wassalam dari Abu Dzar al-Ghifari Radhiallahu'anhu menyebutkan, al-Aqsho adalah masjid tertua di dunia setelah Masjidil Haram.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ: أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلُ؟ قَالَ: «الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ» قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى» قُلْتُ: كَمْ بَيْنَهُمَا؟ قَالَ: «أَرْبَعُونَ سَنَةً 

Dari Abu Dzarr dia berkata, "Aku bertanya pada Rasulullah, "Masjid apakah yang pertama dibangun di muka bumi?" 

Rasulullah menjawab: "Masjidil Haram". 
Aku bertanya, "Lalu apa?". Rasul bersabda: "Masjidil Aqsha". Aku bertanya lagi: "Barapa lama jarak antara kedua pembangunan itu?". Rasulullah menjawab: "40 tahun". (HR.Muslim)

Hadits ini mengisyaratkan, Masjid al-Aqsho sudah ada sejak anak turun pertama Nabi Ibrahim Alaihissalam. 

Ibnu Qayyim al-Jauzy rahimahullah menerangkan, Nabi Yaqub dan Nabi Dawud diketahui pernah membangun ulang masjid tersebut. Kemudian, Nabi Sulaiman merenovasinya pada tahun 960 SM.

Yerusalem, termasuk di dalamnya Masjid al-Aqsho, kembali ke tangan kaum muslimin semasa Khalifah Umar bin Khattab Radhiallahu'anhu pada tahun 638 M. 

Sejumlah literatur mencatat peristiwa penaklukkan bersejarah ini. Mulai dari al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir, Umar bin Khattab karya Muhammad Husain Haekal, Jerusalem: The Biography karya Simon Sebag Montefiore, hingga Karen Armstrong dalam Jerusalem Satu Kota Tiga Iman dan banyak lagi.

Semua sejarawan mencatat, pembebasan Yerusalem oleh Khalifah Umar bin Khattab Radhiallahu'anhu berlangsung aman dan damai. Dengan penuh kesederhanaan, Amirul Mukminin datang langsung dari Madinah menerima penyerahan kota suci ini. 

Pemimpin umat Kristiani di Yerusalem, Sophronicus, menyambut kedatangan Umar untuk menyerahkan kunci-kunci Yerusalem. Umar memutuskan membersihkan lokasi itu dan membangun ulang Masjid al-Aqsho. 

Pada masa Khalifah Umar, Masjid al-Aqsho memiliki kapasitas 3.000 orang. Amirul Mukminin juga bermusyawarah dengan Ka'ab Al Ahbar mengenai lokasi pembangunan masjid. 

Dimana Ka'ab menyarankan untuk membangun masjid di belakang batu Ash-Shakhrah, sedangkan Umar menolak dan memilih tempat di sebelah selatan untuk membangun masjid dengan kiblat yang mengarah ke Ka'bah saja, sehingga posisi batu tersebut berada di belakangnya.

Selama beberapa dekade, struktur bangunan sederhana yang dibangun Umar tetap menjadi bangunan utama di al-Haram asy-Syarif. Dinasti Umayyah, pemegang tampuk kekuasaan Islam berikutnya, memiliki perhatian besar terhadap Yerusalem.

Pada 690 M, Khalifah Abdul Malik dari Dinasti Umayyah membangun kembali Masjid al-Aqsho yang jauh lebih besar dan lebih kokoh. 

Sejak itu, renovasi terus dilakukan tanpa mengubah bentuk dasar bangunan. Al-Aqsho berkubah biru yang tampak sekarang dibangun secara permanen oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Dinasti Umayyah.

Kendati begitu, Masjid al-Aqsho bukan pencapaian terbesar Khalifah Marwan. Prestasi terbesar Khalifah Marwan adalah sebuah bangunan yang ia bangun sekitar 200 meter di sebelah utara al-Aqsa: Dome of the Rock (Kubah Batu). 

Setelah kejatuhan Bani Umayyah pada 750M, Yerusalem berada di bawah kendali Dinasti Abbasiyah. Perhatian Abbasiyah terhadap Yerusalem tidak sebesar Dinasti Umayyah. Kekhalifahan yang baru ini menempatkan ibu kota pemerintahan di Baghdad, Irak. Kendati begitu, Yerusalem terus menjadi tempat ziarah yang penting. Masjid al-Aqsho tetap menjadi pusat keagamaan di sana sampai 900-an Masehi.

Serentetan gempa bumi sempat merusak sebagian besar bangunan Masjid al-Aqsho pada masa Abbasiyah. Pada gempa bumi tahun 746 M, Masjid al-Aqsho nyaris hancur total. 

Khalifah al-Mansur merekonstruksi kembali Masjid al-Aqsho, yang dilanjutkan oleh penggantinya, Khalifah al-Mahdi.

Gempa berikutnya menghancurkan sebagian besar Al-Jami' al-Aqsho pada tahun 1033 M, tetapi dua tahun kemudian khalifah Fatimiyyah Ali azh-Zhahir membangun kembali masjid ini yang masih tetap berdiri hingga kini.

Saat ini.. nama Masjid Al-Aqsha tidak hanya merujuk pada satu masjid saja. Tetapi merujuk kepada keseluruhan kompleks yang di dalamnya terdapat beberapa bangunan penting; seperti Al-Jami' al-Aqsha itu sendiri, Kubah Ash-Shakhrah, Mushalla Al-Marwani, Kubah Al-Mi’raj, Kubah As-Silsilah, Kubah An-Nabi, dan bangunan-bangunan lainnya (lihat gambar di atas). Yang keseluruhannya juga disebut Haram Asy-Syarif.

Begitu singkatnya..
Maka sebelum posting mbok belajar dulu. Jangan ngawur dalam beragama. Pingin dianggap Intelek tapi nggak mendalami.. alias nggak "in" jadinya tinggal..
Ya sudahlah..

Kemungkinan besar.. setelah ini akun saya akan dibatasi oleh pihak ef.bi. Tapi insyaallah saya sudah siap dengan konsekuensi ini..

Kalau saya nggak bisa posting setelah ini. Maafin ya.. 
Sebaiknya di SS atau di copy saja dulu.

Salam,

(Andre Raditya)
 
[Simak Video: MENGENAL MASJID AL-AQSA]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini