SERANGAN (TIDAK) UMUM

kali pernah hampir dibuang karena dikira merupakan bagian dari cerita Old Shatterhand yang SERANGAN (TIDAK) UMUM
SERANGAN (TIDAK) UMUM

Oleh: Tarli Nugroho*

Buku ini, "Buku Gerilja Wehrkreise III", berkali-kali pernah hampir dibuang karena dikira merupakan bagian dari cerita Old Shatterhand yang tak lagi saya minati. Sekilas, sampulnya memang mirip dengan style sampul buku-buku Karl May cetakan lawas. Tapi, buku ini tak bercerita tentang Old Shatterhand, apalagi Winnetou.

Hari-hari ini, terus terang saya merasa sangat beruntung karena masih menyimpan buku ini. Apalagi, sesudah Keppres mengenai Serangan Oemoem 1 Maret 1949 jadi pergunjingan dalam dua pekan terakhir.

Kenapa merasa beruntung?

Karena buku ini disusun oleh Kesatuan Wehrkreise III (WK III), yang sebelum Agresi Militer Belanda II tanggal 19 Desember 1948 disebut sebagai Brigade X, kesatuan yang bertanggung jawab atas keamanan wilayah Ibukota Yogyakarta. Komandannya adalah Letkol Soeharto. Jadi, buku ini adalah "saksi hidup" dari peristiwa tersebut.

Buku ini, yang sedang saya baca ulang, diterbitkan dalam rangka HUT TNI tanggal 5 Oktober 1949, alias disusun persis tujuh bulan sesudah "Serangan Spektakuler", sebuah istilah yang digunakan oleh Letkol Wiliater Hutagalung untuk menyebut Serangan Oemoem tanggal 1 Maret. Namun, secara teknis buku ini baru terbit pada awal tahun 1950, sesudah Panglima Besar Jenderal Soedirman wafat.

Dalam buku ini, foto-foto Pak Dirman dan upacara kematiannya bisa membuat mata tiba-tiba menjadi basah.

Jadi, buku ini ditulis oleh WK III, saat Pak Harto masih berpangkat Lekol, serta Pak Sim dan Pak Nas baru Kolonel. Dalam buku ini, semua orang belum mengklaim kalau SO 1 Maret adalah gagasannya. Namun, kronologi yang diuraikan dalam buku ini memberi banyak tambahan gambaran. Seingat saya, orang yang pernah menyebut buku ini dalam biografinya hanya Ventje Sumual.

Sejak Keppres yang diteken Presiden Joko Widodo itu jadi polemik, terus terang saya memang jadi keasyikan membaca kembali karya-karya primer terkait peristiwa tersebut. Sayangnya, dalam catatan saya, hanya beberapa biografi/otobiografi tokoh saja yang kesaksiannya bisa dianggap primer.

Biografi sejumlah tokoh politik serta militer, yang berada dekat dengan peristiwa tersebut, sehingga sebenarnya diharapkan bisa mengutarakan kesaksian primer, nyatanya lebih banyak mengutip buku Nasution, atau catatan Simatupang. Biografi Panglima Divisi III Bambang Sugeng, misalnya, karena disusun lama sesudah orangnya wafat, tidak banyak memberi informasi berharga mengenai kontroversi yang terjadi hari ini.

Untunglah ada buku kesaksian Manai Sophiaan, biografi Ventje Sumual, serta buku catatan Wiliater Hutagalung, yang jika kita konstruksikan rangkaian peristiwanya, kita bisa menarik kesimpulan tegas mengenai apa dan bagaimana sesungguhnya yang berlangsung ketika itu.

Semua orang, sesudah peristiwa "Desember Kelabu" itu (Agresi Militer Belanda 19 Desember 1948), memang menginginkan ada serangan pembalasan besar-besaran, sebagai upaya untuk mengangkat moral rakyat Indonesia yang telah runtuh sesudah menyaksikan Ibukota Yogyakarta serta para pemimpin mereka bisa demikian mudah direbut dan ditahan oleh Belanda.

Ya, moral rakyat pada waktu itu memang benar-benar jatuh. Hal paling mengusik, misalnya, kemana tentara pada hari nahas itu, tanggal 19 Desember 1948?

Maguwo pagi itu hanya dijaga oleh 100-an orang dengan senjata alakadarnya serta sebuah mitraliyur yang tidak berfungsi. Di Istana, Presiden dan Wakil Presiden hanya dilindungi oleh 16 orang pengawal. Meski sejak awal sudah diperhitungkan bahwa kita tidak akan bisa mengalahkan kekuatan militer Belanda jika mereka melakukan agresi, namun begitu mudahnya Yogya jatuh ke tangan musuh adalah sesuatu yang memalukan dan meruntuhkan moral.

Siapa yang sudah bertindak konyol mengosongkan ibukota dan menarik semua pasukan ke Purworejo untuk latihan perang pada saat Belanda melakukan agresi? Siapa yang sudah bertindak konyol mengumumkan latihan perang itu kepada para wartawan?! Siapa yang telah bertindak konyol mengangkut para perwira senior ke Jawa Timur dua hari sebelum agresi, padahal pihak intelijen kita sudah mengingatkan bahwa Belanda hanya tinggal menghitung hari dalam melakukan serangan?!

Para petinggi politik dan militer pada hari itu memang benar-benar menanggung malu. Moral banyak orang jatuh atas kejadian tersebut. Sehingga, mereka kemudian menginginkan bisa memukul balik Belanda dengan pantas, meskipun secara teknis tidak akan pernah mengalahkannya. Semua pemimpin sipil dan militer menyimpan dan menginginkan serangan itu.

Persoalannya adalah: meskipun semua orang, dari presiden hingga menteri; serta dari jenderal sampai prajurit, menginginkan adanya sebuah serangan balik yang pantas terhadap Belanda ketika itu, siapa yang bisa mengkonsep dan merealisasikan keinginan itu di lapangan?!

Sesudah membaca kembali berbagai catatan, saya menemukan banyak hal menarik terkait isu ini. Intinya, sesudah serangan itu berhasil memukul Belanda dan bergaung ke dunia internasional, semua orang kemudian mengklaim bahwa serangan itu adalah gagasannya, untuk menutupi kealpaan mereka pada tanggal 19 Desember 1948.

Masalahnya adalah klaim tersebut, yang kini dilegitimasi secara ceroboh oleh negara, telah mengecilkan peran seorang letnan kolonel yang sejak hari pertama agresi telah berjibaku di ibukota hanya dengan bekal para pengawal pribadinya, karena pasukannya sendiri telah diangkut ke luar kota. Sebelum komunikasi dengan atasannya tersambung, ia telah melancarkan sejumlah serangan umum. Sebelum SO 1 Maret, ia telah melancarkan 4 serangan umum di malam hari.

Ada satu kesaksian penting yang menulis bahwa rapat persiapan Serangan Oemoem tanggal 1 Maret itu dilakukan sejak tanggal 12 Februari di sebuah desa di Kulonprogo. Rapat itu dipimpin oleh Letkol Soeharto sebelum ia bertemu dengan Sri Sultan dan beberapa hari sebelum ia ditemui oleh Kolonel Bambang Sugeng yang memerintahkannya untuk melakukan sebuah serangan besar.

Ringkasnya, semua orang memang menginginkan untuk menyerang balik Belanda dan menuliskan keinginan tersebut dalam buku-buku memoarnya, seolah-olah keinginan itu sudah cukup untuk menjadikan mereka sebagai penggagas serangan itu. Tapi, persoalannya adalah: sampai seberapa jauh mereka terlibat dalam persiapan-persiapan serangan itu?!

Hal lain, jika semua orang pernah menginginkan dan memikirkan hal itu, pentingkah untuk menyebut siapa "penggagas"-nya (seolah penggagasnya pastilah bersifat tunggal), sembari mengabaikan peran komandan lapangan yang dengan jelas disebut, diaku, serta dipuji kepemimpinannya oleh semua nama yang pernah mengklaim SO 1 Maret sebagai gagasannya?!

Saya mengumpulkan banyak catatan mengenai hal ini, yang berkaitan dengan intrik politik, baik pada masa itu maupun belakangan, yang terjadi baik di internal militer maupun intrik yang terjadi antara elite militer dengan pemimpin sipil. Jika sempat, mungkin akan menuliskannya agak panjang suatu waktu nanti. 

*fb penulis

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini