LARANG EKSPOR CPO ITU KEBIJAKAN HALU UNTUK MENUTUPI RASA MALU!

 Kalian yang dukung Pak Jokowi boleh saja tepuk tangan dan memuja LARANG EKSPOR CPO ITU KEBIJAKAN HALU UNTUK MENUTUPI RASA MALU!
Maaf-maaf aja ya. Kalian yang dukung Pak Jokowi boleh saja tepuk tangan dan memuja-memuji Keputusan "tegas" Pemerintah yang melarang Ekspor CPO. Saya sih ngerti, Pak Jokowi pakai Baju Putih aja kalian puja-puji. Pak Jokowi minum Kopi dipinggir jalan kalian tepuk tangan.

Tapi sekali lagi maaf. Bagi saya Kebijakan Pak Jokowi melarang ekspor CPO cuma keputusan "halu" untuk menutupi rasa malu. Kalau bahasa Medannya "sok keras" karena sudah terlanjur untuk menutupi rasa malu.

Saya kira Pak Jokowi memang harus malu. Bagaimana tidak? Pemerintah membuat Kebijakan menetapkan HET (Harga Eceran Tertinggi) untuk Minyak Goreng Kemasan. Bbaammm!! Minyak Goreng langsung menghilang dari Pasaran.

Harga Minyak Goreng dipasaran langsung melambung tinggi. Susupun tak terbeli... halah, jadi ingat Nek Mega ketika mengkritik kenaikan BBM masa Pak Beye. 

Akhirnya Pemerintah menyerah. HET dibatalkan. Dan abra-kadabra, Minyak Goreng kembali banjir di Pasaran.

Saya bulan yang lalu sempat menulis kalau Pak Jokowi dipermalukan para Cukong dan Mafia Minyak Sawit. 

Saya meminta Pak Jokowi jangan mau mengalah apalagi kalah dengan mereka. Karena para Cukong-cukong tersebut selama ini dibantu oleh Pemerintah dengan memberikan HGU untuk mengelola jutaan Hektar Lahan milik Negara. 

Nah rasa malu Pak Jokowi wajar semakin membuncah. Ternyata Dirjen-nya di Kementerian Perdagangan ikut terlibat dan bermain di Kuota Ekspor CPO. Kalau menurut saya sih bukan cuma Pak Dirjen. Wajar kalau didiga kuat ada juga terlibat Orang Kuat!

Jadilah Pak Jokowi seperti emosi. Langsung melarang Ekspor CPO!

Masalahnya yang jadi korban bukan cuma para Cukong. Memang harga-harga Saham dari Produsen Minyak Goreng langsung memerah.
Tapi para Cukong itu sudah kaya-raya. Tidak ada masalah. (Bahkan mereka bisa "balik menyerang". Misalnya dengan melakukan PHK Massal. Tambah lagi Pengangguran).

Korban yang sesungguhnya adalah jutaan Rakyat kita sendiri. Para Petani Sawit. Harga Sawit langsung menukik tajam. Kabarnya sudah terkoreksi sampai 50 persen. Kasihan. 

Para Petani Sawit kita seharusnya sekarang menikmati manisnya harga Sawit karena situasi Dunia yang sekarang seperti tergantung kepada Indonesia. Karena Perang Rusia-Ukraina. Tapi mereka malah jadi Korban. Hanya karena Kegagalan Pemerintah mengatur para Cukong.

Pemerintah seharusnya benar-benar berhitung. Produksi Sawit kita sekarang sekitar 47-50 juta ton. Sedangkan kebutuhan kebutuhan Konsumsi Nasional cuma 17 juta ton. Berarti ada lebih 30 juta ton lebih yang selama ini kita ekspor.

Mau dikemanakan kelebihan 30 juta ton itu?

Saran saya, Pemerintah tegas saja. Cabut semua HGU para Cukong-cukong Sawit. Berikan rakyat pengelolaan lahan tersebut. Bila perlu bentuk Kementerian Sawit. Karena selama ini Dirjen di Kementerian dan BUMN, khususnya PTPN belum optimal mengelola Persawitan Nasional kita. 

Negara kita adalah produsen Sawit terbesar di dunia. Dan Sawit adalah Komiditi yang akan selalu diburuhkan oleh manusia. Tidak perlu dengarkan Eropa. Masih banyak Negara lain yang menjadi tujuan ekspor Sawit kita.

Saya yakin dari Ekspor Sawit saja, asal Pengelolaannya langsung oleh negara, kebun-kebunnya milik rakyat. Cukup 10 tahun kedepan bangsa kita akan makmur dan sejahtera. 

Lagian ngapain mengirim anak bangsa kita jadi Buruh Sawit ke Malaysia, sementara Negara kita punya lahan ratusan kali lipat dari Malaysia?

Ayo bangkit dan Pintar bangsaku. Apa ngga capek Negara kita yang Kaya-raya ini tapi yang menikmati selalu orang lain?

(Azwar Siregar)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini