Indonesia Tak Siap Menyongsong Endemi?

 

Ilustrasi (detikcom)

Hampir 2 tahun lebih kita hidup berdampingan dengan covid 19 saat ini pemerintah Tengah mempersiapkan berbagai strategi dalam transisi dari pandemi covid-19 menjadi endemi.

Ahli kesehatan masyarakat Hermawan Saputra menyayangkan kebijakan pemerintah yang melonggarkan pembatasan di masa pandemi terkait situasi kenaikan kasus covid -19, walaupun niatnya untuk menggerakkan kembali roda perekonomian, dilansir dari kompas.com

Pelanggaran ini kerap kali menjadi celah bagi masyarakat, yang mengakibatkan protokol kesehatan yang digaungkan oleh pemerintah sedikit longgar di sejumlah tempat umum, karena kian banyak masyarakat yang tidak  menggunakan masker, mencuci tangan bahkan tidak menjaga jarak.

Yang kita sayangkan pemerintah terlalu exuse secara kebijakan, sehingga sekarang ini kalau kita lihat mulai dari jalanan orang berangkat dan pulang dari perkantoran, pemukiman dari tempat-tempat fasilitas pelayanan publik, tempat rekreasi, kuliner dan lainnya hampir semuanya sudah bebas dan tidak menjalankan protokol kesehatan lagi.

Luhut Panjaitan mengatakan perubahan status dari pandemi menjadi endemi tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru, ia pun mengakui bahwa situasi pandemi covid -19 masih sulit diprediksi, karena kasus harian mulai merangkak naik dalam 3 hari terakhir.

Sejumlah negara melaporkan kenaikan kasus covid -19, setelah mendeklarasikan endemik covid -19, diantaranya Inggris, Amerika dan beberapa negara di Eropa, ada Jerman dengan kenaikan covid-19 sebesar 6%, Prancis 39%, Inggris 10%, Australia 36% dan Italia 25%, Hal ini menandakan bahwa virus covid -19 belum bisa dianggap hilang dari dunia ini.

Menteri kesehatan Budi Gunadi sodikin, pada pekan lalu mengatakan bahwa kenaikan kasus covid - 19 saat ini masih dalam taraf aman dan normal.

Sekretaris kementerian PANRB Rim Widyantini, saat membuka seminar kesehatan menyampaikan bahwa para ABN maupun masyarakat harus mempersiapkan diri dengan perubahan pandemi menjadi endemi, untuk itu diperlukan pengetahuan hidup bersama covid -19 dalam menghadapi perubahan tersebut, maka masyarakat harus membiasakan diri dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dan pola hidup yang sehat.

Negara mestinya tidak lengah pada saat kebijakan PPKM masih berlaku, banyak masyarakat yang mengabaikan protokol kesehatan, apabila jika kebijakan pembatasan tersebut dicabut, maka masyarakat akan beranggapan bahwa covid 19 sudah tidak ada lagi, mereka menganggap kehidupan kembali normal seperti sebelum pandemi.

Indonesia mestinya belajar dari negara-negara yang menetapkan kebijakan pelanggaran protokol kesehatan, jangan sampai kasus covid - 19 yang melandai belakangan ini mengalami tren kenaikan akibat pemerintahan yang lengah dan masyarakatnya yang abai.

Pandemi tidak akan  berlarut-larut jika sejak awal ditangani dengan tepat, sesuai dengan protokol dan aturan syariat Islam.

Karena dalam negara Islam jika ada suatu wilayah yang terkena wabah  maka  wilayah tersebut langsung di isolasi dan cepat di tangani, dan di wajibkan  jangan ada pengunjung yang masuk ke wilayah yang terkena wabah dan tidak boleh keluar jika dari wilayah yang terkena wabah, maka dari itu wabah cepat tertangani tidak seperti saat ini, yang banyak menghabiskan uang dan menyengsarakan Rakyat.

Penulis: Indah Ummu Haikal

Aktif menulis di Komunitas Muslimah Rindu Surga


Wallahu A'lam bishawab

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini