Istri Melayani Suami = Istri Budak Suami? Feminis Abal-abal!

Saya kok merasa ada yang salah dengan orang ini Istri Melayani Suami = Istri Budak Suami? Feminis Abal-abal!
Istri Melayani Suami = Istri Budak Suami?

Oleh: Azwar Siregar

Saya kok merasa ada yang salah dengan orang ini. Emangnya "melayani" itu harus identik dengan perbudakan ya?

Ketika seorang Suami banting tulang di sawah, berpanas terik menjadi Kuli Bangunan, atau pergi pagi-pulang petang demi nafkah keluarga, bukankah itu baktinya atau bisa kita sebut melayani keluarga.

Apakah dengan seorang suami melayani keluarganya dengan membanting tulang mencari nafkah maka si Suami akan disebut Budak keluarga?

Seorang Anak yang Melayani orang tuanya, akankah disebut perbudakan juga?

Hei, anak melayani orang tuanya adalah tanda berbakti!

Lha, terus apa salahnya seorang istri "berbakti" kepada suaminya. Dan seorang suami "berbakti" kepada keluarganya?

Suami memang bukan majikan dan istri bukan seorang bawahan. Tapi di status tersebut melekat tanggung jawab masing-masing.

Tanggung jawab Suami mencari nafkah dan tanggung jawab istri mengurus rumah. Ketika seorang calon suami mengucapkan qabul dari ijab wali calon seorang istri, maka si suami juga sekaligus menerima tanggung jawab penuh caon istrinya. Tanggung jawab nafkah, perlindungan, dan kehormatan. Tanggung jawab dunia dan akhirat.

Di Islam sendiri, surga seorang istri adalah di ridho suaminya. Apakah hal ini juga mau ditentang dan dianggap ajaran yang ketinggalan jaman?

Saya sering menganggap lucu orang-orang yang menganggap dirinya sebagai pejuang feminisme. Sering teriak-teriak persamaan hak laki-laki dan perempuan. Tapi giliran antri, meminta diistimewakan karena dia perempuan. Giliran kerja meminta yang berat-berat untuk bagian laki-laki dan yang kerja ringan untuk perempuan.

"Kan tubuh laki-laki dan perempuan berbeda bang?"

Justru itu. Laki-laki dan perempuan tidak akan pernah sama. Bukan berarti saya menganggap laki-laki lebih mulia dari perempuan. Justru derajadnya sama tapi perannya berbeda.

Masalahnya peran ini yang sekarang sering dinyinyiri orang-orang yang mengaku Pejuang Feminisme. Misalnya seperti yang kita bahas sekarang. Jangan melayani suami, karena istri bukan budak!

Sebentar lagi mungkin akan ada tuntutan agar suami juga mengandung dan melahirkan.
Caranya, piye?

Atau akan menuntut Perempuan boleh jadi Imam Sholat laki-laki. Sebut saja dengan alasan si Perempuan lebih fasih bacaan Al-Qurannya.
Ada-ada aja...

Saya berharap sahabat-sahabat Netizen jangan sampai terjebak permainan kata dari para feminis abal-abal. Seringkali mereka cuma segelintir orang yang kecewa dalam membina keluarga. Atau sekedar ingin viral. Atau berharap dianggap berpikiran hebat.

Sahabat-sahabat yang sudah menyandang status sebagai istri. Jangan malu untuk berbakti dan melayani suamimu. Karena dengan berbakti dan melayani suamimu bukan tanda perbudakan. Tapi tanda ketaatan atas perintah Allah.

Sebaliknya sahabat-sahabat yang sudah menjadi suami. Ingat, istrimu bukanlah budakmu. Tapi tulang rusukmu. Harus kau jaga dan kau manja. Kau lindungi dan kau cintai. Dahulukan kepentingannya dibandingkan kebutuhanmu.

Berbagi tugaslah. Selelah apapun suami mencari uang, ternyata jauh lebih melelahkan mengurus rumah dan menjaga anak-anakmu.. Kalau tidak percaya, coba test satu hari saja.

Tidak ada salahnya mencuci piring dan menyapu rumah (di rumah kami, kerjaan ini malah saya yang lebih sering melakukannya). Tetapi jangan sekali-sekali menyuruh istrimu memperbaiki genteng bocor. Apalagi membebani istrimu dengan kewajiban mencari nafkah.

Karena walaupun suami-istri sederajad, masing-masing memiliki peran yang berbeda.....

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini