INNALILLAHI... Telah Wafat KH Mahfudz Syaubari, Beliau Bukan Sekedar Ulama Tapi Juga Menggerakkan Ekonomi “Agar pesantren tak lagi berharap sumbangan!”

 Kubang duka ini begitu dalam karena kepergianmu INNALILLAHI... Telah Wafat KH Mahfudz Syaubari, Beliau Bukan Sekedar Ulama Tapi Juga Menggerakkan Ekonomi “Agar pesantren tak lagi berharap sumbangan!”
Sugeng Tindak, Yai

Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un...

Telah wafat KH Mahfudz Syaubari. Beliau pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Jannah, Pacet Mojokerto. 

Sungguh kami berendam air mata. Hati diliputi kesedihan. Kubang duka ini begitu dalam karena kepergianmu, duhai guru pejuang.

Kiai Mahfudz Syaubari bukan sekedar ulama yang berkutat dengan kitab kuning dan santri. Tapi beliau juga adalah pebisnis yang terus berjuang, agar para kiai dan ummat mandiri secara ekonomi.

Pesantren sebagai benteng terakhir perjuangan ummat Islam Indonesia, tak bosan-bosannya beliau ajak untuk mempunyai badan usaha yang bisa menopang ekonomi pesantren. “Agar pesantren tak lagi berharap sumbangan!” tegasnya.

Tak sekedar berseru dan mengajak, tapi Kiai Mahfudz telah memulai membuka sayap-sayap ekonomi untuk pesantren, dengan berbagai jenis usaha. Mulai pertanian, peternakan, property hingga kuliner beliau rambah.

Seruannya kepada pesantren-pesantren lain untuk membuka usaha, tak sekedar seruan kosong. Namun beliau juga sentiasa siap memberikan panduan dan fasilitas untuk pesantren mana saja yang siap maju.

M2M, restoran siap saji yang beliau rintis, saat ini sudah tersebar hampir di seluruh kota di Jawa Timur. “Masa untuk makan ayam aja, kita harus ke McD dan KFC!” sergahnya suatu ketika.

Karenanya saat ditanya, apa kepanjangan M2M, “From McD to Mahfudz,” jawabnya sambil tergelak.

Contoh lain yang diberikan Kiai Mahfudz kepada ummat ini, adalah bagaimana sukses berpoligami tanpa konflik. Beliau menempatkan empat istri beliau dalam satu rumah, dengan kamar yang saling bersebelahan.

Tapi dari itu semua, yang paling mendesak untuk kita teladani adalah sikap politik dan kebangsaan Kiai Mahfudz. Saat ummat mengkristal pada satu garis perjuangan (212), beliau tanpa ragu pun ikut berhimpun. Walau ketika itu beliau harus berhadapan dengan banyak kawannya sesama kiai, yang berada di seberang.

Kiai Mahfudz sangat kritis terhadap berbagai keputusan dan kebijakan Pemerintah yang dianggapnya menyimpang. Namun demikian, beliau memberikan penegasan bahwa Pemerintah yang sah tidak boleh dilawan.

Makanya, bagaimana pun kritisnya Kiai Mahfudz, beliau tetap bisa berhubungan baik dengan Pemerintah di semua levelnya.

Ada banyak pelajaran yang belum tuntas kita sesap dari Kiai Mahfudz. Tapi Allah Ta'ala berkenan memanggil beliau untuk kembali ke haribaan-Nya.

Sungguh kabar kewafatan Kiai Mahfudz dini hari tadi begitu menyentak. Beliau wafat, menyusul istri pertama beliau, Ibu Nyai Faicha yang meninggal dua hari yang lalu.

Sugeng tindak, Yai. Segenap tauladan kegigihan dan ketulusan yang telah kau pahat, semoga ukirannya bisa kami lanjutkan. Hingga kelak ummat Islam Indonesia, tak akan hidup di negeri ini melainkan dengan keindahan. 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

Selasa, 16 Agustus 2022

(Ustadz Abrar Rifai)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini