AHY atau Aher, Seperti Memaksa Anies untuk Memilih

 untuk membahas siapa calon wakil presiden AHY atau Aher, Seperti Memaksa Anies untuk Memilih
AHY atau Aher, Seperti Memaksa Anies untuk Memilih

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Surya Paloh, Ketua Umum Partai NasDem, memang politisi piawai. Seperti tak sudi “duduk” sesama ketua umum partai politik, yang punya kans berkoalisi (Partai Demokrat dan PKS), untuk membahas siapa calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampingi Anies.

Paloh sudah mempredisksi bakal muncul ribut-ribut tipis, atau bahkan sedikit tebal antarpartai pengusung Anies, berkenaan siapa yang pantas mendampingi Anies sebagai wakilnya dalam perhelatan Pilpres 2024.

Saat meminang dan memastikan pilihan NasDem pada Anies Baswedan (3 Oktober), Paloh sudah menyatakan bahwa NasDem memberikan keleluasaan penuh pada Anies untuk memilih sendiri siapa yang dikehendaki sebagai cawapresnya.

Langkah NasDem memberi keleluasaan pada Anies, itu memang terpuji. Tentu jika tidak ada embel-embel kriteria lain–seperti yang disampaikan Wakil Ketua NasDem, Ahmad Ali, bahwa cawapres yang dipilih Anies sebaiknya bukan dari kalangan partai politik–itu seperti memasung satu kaki Anies antara bebas memilih, yang sebenarnya tidak benar-benar bebas memilih.

Muncul pendapat seolah memberi kebebasan pada Anies untuk memilih cawapres tidak benar-benar bebas. Itu cuma gimik Paloh saja agar tidak ikut ramai-ramai membicarakan siapa cawapres yang pas untuk Anies. Itu pastilah merepotkan Anies bernegosiasi bisa menyenangkan semua pihak.

Dua dari tiga partai politik yang sedianya berkoalisi intens menyodorkan dua jagoannya untuk mendampingi Anies. Pada awalnya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Ketua Umum Partai Demokrat, yang digadang sebagai pendamping Anies. Dalam simulasi banyak lembaga survei, AHY memang paling moncer mendampingi Anies–bahkan dibandingkan dengan Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur, maupun lainnya.

Hanya saja AHY dibenturkan, bahwa ia sebagai Ketua Umum Demokrat, hal yang tidak dikehendaki NasDem maupun mitra koalisi lainnya, PKS, yang lalu ikut-ikutan menyodorkan Ahmad Heryawan (Aher), mantan Gubernur Jawa Barat, sebagai pendamping Anies. Argumen PKS, bahwa Aher sukses memimpin Jawa Barat dua periode.

Jika panduan Anies memilih berdasar hasil survei, maka AHY lebih layak sebagai pendamping Anies. Hasil simulasi survei membuktikan itu semua. Sedang Aher sepertinya belum muncul namanya diberbagai lembaga survei manapun. Popularitas AHY pun belakangan lebih “terdengar” dibanding Aher.

Bahkan Aher sebagai pendamping Anies, itu keputusan dari Majelis Syuro–kekuasaan tertinggi dalam struktur PKS. Seperti PKS “mengunci” bahwa keputusan itu harga mati, tidak bisa ditawar-tawar–meski dalam politik tidak ada yang tidak bisa dinegosiasikan.

Anies sudah melakukan safari menemui AHY maupun mendatangi PKS. Pembicaraan tiga partai pun–NasDem, Demokrat dan PKS–sudah beberapa kali dilakukan. Tentu bicara seputar siapa cawapres pendamping Anies. NasDem seperti sudah selesai tugasnya dengan deklarasi mengusung Anies Baswedan sebagai capres, dan memilih pasif, meski tidak benar-benar pasif, dalam perbincangan siapa cawapres yang pas buat Anies.

Anies pastilah menghadapi kesulitan tersendiri menentukan siapa yang akan dipilih di antara AHY atau Aher, itu jika melihat NasDem yang tidak ingin cawapres yang mendampingi Anies dari kalangan partai politik. Maka, legawa menjadi kata kunci ketiga partai yang menggagas untuk berkoalisi mengusung Anies Baswedan.

Berpikir dengan mengesampingkan ego masing-masing ketiga partai politik, itu yang dibutuhkan untuk memberi kebebasan sebenarnya pada Anies untuk memilih cawapresnya. Tentu Anies punya kriteria baku siapa yang akan dipilihnya dari yang ada. Semua aspek jadi bahan pertimbangan. Memilih AHY, atau Aher, tapi bisa pula tidak keduanya. Semua ditentukan dengan pertimbangan matang untuk sebuah kemenangan.

Amatlah yakin, meski Anies di rantai sebelah kakinya oleh NasDem, ia mampu “menyatukan” ketiga partai–bahkan bisa jadi disusul partai lainnya untuk berkoalisi mengusung Anies–menuju Pilpres 2024. Kita jadi saksi melihat keseriusan tiga partai itu, benar-benar berpikir untuk bangsa, atau seperti yang sudah-sudah berpikir pragmatis sempit untuk kepentingan partainya.

31/10/2022


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini