Buya KH Risman Muchtar: ALWAHHAAB Adalah Nama Allah, Menggunakan Istilah Wahhabi untuk konotasi negatif adalah PENISTAAN TERHADAP ALLAH

Menggunakan Istilah Wahhabi untuk konotasi negatif adalah PENISTAAN TERHADAP ALLAH Buya KH Risman Muchtar: ALWAHHAAB Adalah Nama Allah, Menggunakan Istilah Wahhabi untuk konotasi negatif adalah PENISTAAN TERHADAP ALLAH
[PORTAL-ISLAM] Buya KH Risman Muchtar:

الوهاب = ALWAHHAAB
Adalah Nama Allah
Menggunakan Istilah Wahhabi untuk konotasi negatif adalah PENISTAAN TERHADAP ALLAH  

***

Masyaallah, ini adalah opini yang tegas dari Buya KH Risman Muchtar. Beliau adalah Wakil Ketua Bidang Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah. Beliau juga merupakan salah seorang narasumber dalam program Standardisasi Dai MUI ke-17 yang sempat saya ikuti beberapa bulan lalu. Hafizhahullah wa waffaqah.

Ini juga menguatkan catatan yang saya tangkap sebelumnya dari program Standardisasi Dai MUI ke-17 tersebut, bahwa secara umum MUI tidak mendukung ujaran-ujaran kebencian dan sektarian, yang menimbulkan konflik dalam masyarakat, baik berkaitan dengan isu Wahhabisme dan selainnya.

Allahu a'lam.

Adni Kurniawan
Anggota Muhammadiyah

***

Al Wahhab (الْوَهَّابُ) artinya Maha Pemberi Karunia. Yakni, Allah maha pemberi karunia kepada hamba-Nya. Tanpa diminta oleh makhluk dan tanpa meminta imbalan kepada makhluk.

Asmaul husna ke-16 ini juga bermakna Allah mengkaruniakan kecukupan, kesehatan, kekuatan dan kehidupan. Dia pula yang mengkaruniakan kebahagiaan, kesuksesan, dan keberhasilan.

Dalil Asmaul Husna Al Wahhab

Dalil asmaul husna Al Wahhab dalam Al-Qur’an ada pada tiga ayat. Yakni Surat Ali Imran ayat 8, Shad ayat 9, dan Shad ayat 35.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 8)

أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ

Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi? (QS. Shad: 9)

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. (QS. Shad: 35)

Contoh dan Pengamalan dalam Kehidupan Sehari-hari

Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pemberi Karunia, baik kita memintanya atau tidak. Contoh, ketika kita lahir sebagai bayi. Allah mengkaruniakan kepada kita kasih sayang orang-orang di sekitar kita terutama ayah dan ibu. Sehingga mereka merawat kita, mencintai, dan membesarkan kita.

Allah Maha Pemberi Karunia meskipun kita tidak memintanya. Misalnya, kita tidak pernah meminta terlahir dengan dua mata, dua tangan, dua kaki. Orang tua kita juga tidak meminta sedetail itu. Namun, Allah mengkaruniakan semuanya kepada kita.

Karenanya kita memperbanyak syukur kepada-Nya dan memperbanyak doa dengan menyebut asmaul husna Al Wahhab sebagaimana Surat Ali Imran ayat 8 dan Surat Shad ayat 35 di atas.

“Buah mengetahui sifat Al Wahhab adalah mengharapkan berbagai anugerah dan pemberian dari Allah,” tulis Syaikh Izzuddin bin Abdussalam dalam Syajarataul Ma’arif.

Kita juga menyadari bahwa setiap kebaikan yang kita terima, itu adalah karunia Allah.

“Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengkaruniakan kita kecukupan, kesehatan, kekuatan, dan kehidupan,” tulis Syaikh Musthafa Wahbah dalam Syarah Singkat Asmaul Husna. “Dia pula yang mengkaruniakan kebahagiaan, keberhasilan, dan jalan-jalan mendapatkan rezeki, serta keturunan baik laki-laki maupun perempuan.”

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Banner iklan disini
Tekan Tombol Close Untuk Menutup

Banner iklan disini